
Di stasion bekasi,aku memesan tiket ekonomi jurusan Tanah Abang, padahal aku belum sama sekali tau di mana jakarta. Hanya sering mendengar berita di televisi yang sering aku tonton di Rumahnya Mas Dino.
Selesai memesan tiket, aku makan gorengan dulu, untuk sekedar mengisi perutku yang kosong. Tahu isi tambah teh anget sedikit gula, membuat energiku sedikit bangkit.
"Mau kemana nduk? tanya bapak penjual kopi,
"Mau kejakarta Pak..
"Oh hati hati nduk, suka banyak pencopet disini."
Mendengar bapak penjual kopi aku jadi ngeri, untung tadi aku menyimpan uang dengan rapi.
Setelah terasa kenyang aku berdiri, melihat kereta yang berangkat duluan, penumpangya bejubel, di atap kereta api sampai penuh. aku duduk sambil menunggu kereta api pemberangkatan ke kedua.
Tiba tiba aku di kejutkan tiga laki laki bertato menghampiri aku. Rambut gondrong, celananya robek robek, bau badanya tidak karuan.
"Heh! mana tas lo? kasih kegua..dia menarik tas kecil yang aku slempang gambar Doraemon. Aku menepis tanganya.
"Heh! berani lo ya..!! salah satu pria mencengkeram tanganku. Aku mengibaskan dengan kasar.
"Brengsekk..!! berani lo ya.." haii.. kawan ! bawa dia!! dia cantik juga rupanya, kita jadikan jaburan nanti malam. Hahaha. ketiga preman tertawa terbahak bahak.
"Bawa dia.! perintah bos preman.
"Beres boos..! kedua laki laki itu merarik tangaku dengan kasar.
Aku siaga, aku tendang salah satu preman hingga terhuyung ke belakang.
Yang satu lagi ingin mendekat aku tendang perutnya.Aku melawan sekuat tenaga..untung aku dulu sempat belajar silat. Wanita memang harus belajar apapun yang menurutnya bisa.Jangan bergantung dengan orang lain.
Kedua laki laki itu, menyerang bersamaan, aku waspada, mataku melirik kanan kiri, ketika dia ingin mendekat aku berkelit memutar badan. aku tendang kepemilikanya.
"Aagggh..pekik salah satu preman memegangi kepemilikanya.
"Bangsaat..!! cewek laknat..!! pria satu lagi ingin mendekat sebelum menyentuh, aku tonjok, wajahnya darah dari hidung keluar. kedua laki itu tepar tidak berdaya.
Kepala preman mendekat menghunus pisau dari sakunya. Nyaliku menciut jika lawan tangan aku masih ok..tapi jika sudah dengan senjata tajam aku pasrah. Tapi aku masih waspada walau bagaimana aku harus melindungi diriku sendiri. Preman itu mengangkat pisaunya.
"Aaaggg..aku menutup wajahku dengan kedua tangaku.
"Bukk..bukk... bukk
"Brengsek lo...!! beraninya sama cewek lawan gue?
Perlahan aku membuka sedikit demi sedikit tanganku, yang menutup wajah. Aku perhatikan, laki laki tampan sepertinya orang kaya memakai kemeja rapi, dan celana bahan.
Aahh...aku jadi ingat Arman sang Guru Idola.
Huuh..sedang dalam keadaan genting seperti ini, aku malah mengingat pak Arman. Aku merutuki diriku sendiri.
__ADS_1
Pria itu melawan preman, karna membawa senjata. Pria itu tampak waspada. aku melirik salah satu preman yang sudah tepar tadi, ingin menyerang pria itu dari belakang.
Buk..buk..aku hajar preman dari belakang dengan tendangan tendangan mautku. Kami saling serang, pertikaian tidak terelakan, kami saling tendang, saling pukul, untung anggota tubahku tidak ada yang terluka.
"Aaggg...aku melihat pria itu, lengannya tergores pisau, konsentrasiku pecah. Bersamaan dengan itu ketiga polisi datang meringkus 3 preman tersebut.
"Terimakasih Mbak, Mas..Ini perampok yang sering meresahkan. kata polisi tersebut. Ternyata pedagang kopi tadi, mencari polisi yang sedang bertugas setelah melihat pertarungan kami.
Aku melihat pria itu meringis menahan luka sayatan, dengan cepat aku merogoh sapu tangan yang yang belum terpaikai, lalu aku ikat untuk menahan darahnya. Tanpa basa basi aku menarik pelan lengan pria tersebut.
"Ayo..Ke kamar mandi dulu kak" lukanya di bersihkan dulu, kemudian di obati, kataku. Pria tampan itu menurut. Aku membawa pria itu ke mushola tempat wudhu pria. Lalu aku bersihkan lukanya ternyata tidak terlalu dalam. mungkin karna terhalang kemeja.
"Kakak ke dokter ya.." Saya antar." kataku.
"Nggak usah dek kayaknya lukanya nggak parah kok.!
"Ya sudah.. sini saya obati, aku mengajaknya duduk, di kursi panjang depan mushola.
Aku mengeluarkan peralatan dari tas selain membawa peralatan Deodorant, pembersih muka, dan bedak tabur kapas dan minyak wangi, jika hendak berpergian jauh aku selalu menyiapkan PPPk.
Aku bersihkan luka pria ini dengan Alkohol.
"Auu..
"Eh perih ya kak? tapi hanya sebentar kok..? tahan ya..!
"Eh jangan di buang dek..
"Buat apa kak..? Ini sudah bekas darah soalnya.
"Nggak apa apa dek..." bekas darah saya ini. Pria itu melipat kecil sapu tangannya dan mengantonginya di saku celanya.
"Eh kita belum kenalan ya.." pria itu mengulurkan tanganya.
"Hehe Iya ya kak..
"Saya, bayu styaji..
" Saya Sulastri kak..,
"Sulastri..heem.. saya panggil, Tri aja ya..,
"Terserah kakak aja dech," yang penting jangan di panggil Su.. aja..
"Su.. maksutnyaa?
"Itu loh kak .. jadinya guk..guk
"Hahaha.. kamu tuh ganti nama sendiri kok," seenaknya sih..,
__ADS_1
"Kak terimakasih ya..sudah nolongin saya."
"Sama sama, saya yang terimakasih, kamu sudah mengobati luka saya."
"Eh tapii..tapi kamu hebat loh..bisa membuat dua preman tadi nggak berdaya, padahal kamu kan cewek cek.cek cek.
"Kamu bisa bela diri ya?
" Sedikit kak, dulu pernah belajar..Pria itu memandangi aku seksama.
"Ngomong ngomong kamu mau kemana? tanya pria itu, aku baru ingat kalau tadi memesan tiket keret api.
" Eh kak, saya lupa" tadi saya pesan tiket kereta jangan jangan ketinggalan?
" Eh saya juga.!
Kami jalan tergesa gesa, menanyakan tiket tersebut. Ternyata aku sudah ditinggal berarti aku harus memesan lagi.
"Eh gemama sudah berangkat belum? tanya kak Bayu.
"Yach, sudah ditinggal kak."
""Sama aku juga.! hehe Bayu terkekeh.
"Ngomong ngomong, kamu tujuanya kemana? Tanya kak bayu.
"Pengenya sih.. ke tanah abang kak."
"Kok pengenya? memang tujuanmu sebenarnya kemana?
"Hehe..ke Tanah Abang kak," aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Oh berarti kita sama tujuanya, aku aja yang pesan. Bayu melangkah meniggalkan aku, tidak lama dia balik lagi.
"Aku sudah pesan, masih nunggu setengah jam lagi" berarti kita makan baso dulu ya."
"Nggak usah kak, tadi saya sudah makan gorengan kok,"
"Nggak ada penolakan.! nggak bakal kok, saya racuni.
Bayu menarik tanganku, dan masuk kekios bakso, kami menikmati baso bersama. Bayu dari tadi mencuri curi pandang. Tapi aku pura pura tidak tau, aku masih memikirkan tujuanku yang tidak jelas, tapi kehadiran Bayu sangat menghiburku. Bayu memang ganteng, tapi masih ganteng pak Arman.
Hup.. lagi lagi aku ingat pak Arman, senyumnya tidak hilang dari bayanganku.
***Selamat membaca
Like
Coment***
__ADS_1