MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 6


__ADS_3

Setelah pertemuanku dengan pak Arman beberapa minggu yang lalu di depan UKS, entah sengaja atau tidak kami malah sering bertemu.


Aku mencoba menghilangkan rasa yang lain dengan pak Arman kecuali antara murid dan Guru tetapi ternyata sangat sulit.


Apa lagi pak Arman malah mencari kesempatan untuk selalu bertemu.


Hari berganti minggu bahkan bulan, predikatku menjadi putri tidur dikelas menjadi perhatian para Guru karna tidak jarang kepergok oleh mereka.


Siang ini setelah jam pelajaran selesai, aku di panggil kekantor.


"Lastri" Pak Arman memanggilku.


"Saya Pak?" Jawabku.


"Kamu ikut kekantor."


"Baik pak."


Sontak ketiga sahabatku menoleh kearahku.


Mereka bertanya.


"Ada apa?" Aku hanya menggeleng mengedikkan bahuku.


Begitulah Pak Arman kalau di depan teman-teman memanggilku Lastri, tapi kalau hanya berdua beliau memanggilku Astri.


Tidak buang waktu lagi dengan langkah gontai, aku bergegas menuju kantor, lebih cepat lebih baik, sebab pekerjaanku di rumah Pak Satrio sudah menunggu.


Tok..tok..tok


"Masuk!"


"Selamat siang pak" ucapku.

__ADS_1


" Siang!" jawabnya memang benar saat ini sudah siang kenapa aku menjadi oon.


Aku menyembulkan kepalaku kedalam ruang Guru. Sudah sangat sepi, Pak Arman tampak sibuk dengan tumpukan kertas di depannya.


"Bapak memangil saya?"


"Duduk!" titah pak Arman tegas.


Aku berpikir apa salahku sampai di panggil kekantor, padahal selama ini aku merasa tidak punya catatan jelek di sekolah. Malah tidak jarang aku yang kena buli teman-teman karna telat bayar SPP. Karena mereka tidak pernah tau bagaimana rasanya hidup susah.


Aku duduk di depan meja Pak Arman. Aku perhatikan ia masih mengenakan kaca matanya, kelihatan lebih keren, ternyata kalau lagi serius tampak cool, tututu... Guru yang satu ini selalu bikin aku deg degan.


"Kami selalu perhatikan kenapa kamu sering ketiduran di kelas? apa karena memang kamu suka tidur, atau karna lelah?" tanyanya panjang.


"Sebenarnya bagi kami para Guru, tidak ada masalah toh, selama ini tidak mengurangi prestasimu, hanya karna ini terjadi di sekolah, mungkin kami bisa membantu para anak didik kami yang sedang dalam kesulitan." imbuhnya.


Aku hanya diam menunduk, mungkin ini saatnya aku bercerita, anggap saja Guru di depanku ini sebagai motifator atau sahabat. Selama ini, aku tidak pernah berbagi cerita selain dengan ketiga sahabatku.


Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku pandangi Guru di depanku. Aku ceritakan semua bagai mana aku harus mendapatkan uang untuk bisa lanjut sekolah, dan juga aku ceritakan bagaimana keadaan keluargaku yang selalu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan, aku ceritakan juga kalau bapakku, bekerja buruh di perkebunan ayahnya.


"Oh jadi Bapakmu bekerja sama Ayahku?"


"Iya pak"


"Kadang saya merasa lelah pak, kenapa takdir seolah mempermainkan kami orang miskin" "Dengan keterbatasan orang tua kami, dengan sulitnya mencari sesuap nasi, kadang saya merasa iri dengan teman sebaya, yang dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau" hiks hiks hiks aku mulai ter isak.


"Dan mengapa? Allah mempercayakan anak banyak kepada bapak dan Ibu saya, sedangkan untuk memberi makan saja sulit" hiks hiks hiks..." Air mataku tidak bisa aku bendung.


Aku perhatikan Pak Arman berdiri dari duduknya, menyodorkan tisu ke arahku, tanpa sungkan aku mengambilnya.


"Lalu mengapa? Allah memberikan harta yang banyak, contohnya. Orang tua Pak Arman, yang hanya di berikan sedikit anak" Air mataku makin tidak bisa aku tahan.


"Seeeettt..." Pak Arman mendekat menutup mulutku dengan jarinya.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh soudzon kepada Allah Las, semua tidak seperti apa yang kamu kira. Harta yang berlimpah belum tentu bisa membuat kita bahagia."


"Saat ini, mungkin kamu sedang merasakan pahitnya hidup, tapi roda terus berputar, Insyaallah... suatu saat nanti kamu akan mengenyam rasa manis." tuturnya bijak.


"Manusia di uji tidak hanya melalui kemiskinan tapi juga dengan harta yang banyak, hanya kita sebagai manusia kadang tidak menyadari itu, terlalu terlena dengan apa yang kita punya." sambungnya.


"Ngerti apa yang saya maksud las?" tanya beliau berwibawa.


"Iya pak saya mengerti, walaupun begini saya bersyukur, setidaknya allah memberikan kami bapak yang menyayangi keluarga."


Aku menyeka sisa air mataku, Pak Arman kembali duduk.


"Kamu sekarang boleh pulang, sudah jangan nangis lagi, coba kamu ngaca matamu sudah sembab begitu, jadi kurang kan? cantiknya?" hehe.


Aku mendongak menatap Pak Arman ia tersenyum. Rupanya beliau sudah kembali berseloroh.


"Maaf pak, saya jadi melow." kataku sambil mengusap sisa air mataku.


Pak Arman mengelus kepalaku yang tertutup kerudung putih, sepertinya ia sedang berpikir. Dadaku rasanya gemuruh, maksud Guruku mungkin sentuhan rasa kasih terhadap siswanya. Tetapi bagiku aku sama-sama sudah dewasa tentu merasakan yang berbeda.


"Kamu pulang jalan kaki?" beliau bertanya.


"Iya pak."


Saya antar ya"


"Tidak usah pak, tidak enak dengan yang lain" jawabku cepat.


"Sudah! jangan nolak lagi, anggap saja saya membayar waktumu yang sudah terbuang. Aku pikir benar juga apa kata pak Arman, kalau aku pulang jalan kaki nanti aku pulang telat.


Pak Arman menarik tanganku, berjalan menuju parkiran akhirnya aku pulang di antar pak Arman.


Bersambunbun

__ADS_1


Like


Comet


__ADS_2