MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 24


__ADS_3

Apa tidak ada lagi maaf dariku Astri?


"Pergilah pak, aku mohon pergiii, !!...hiks hiks.


Lastri menangis tersedu sedu, memandangi kepergian Arman sampai hilang di balik pintu.


Lastri bersedih, hatinya terasa sakit ,sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Arman.


Flashback on


Sore itu setelah bimbel Lastri terburu buru keluar, berlari lari kecil sebab langit mulai mendung ia takut kehujanan di jalan, apalagi saat ini ia pulang hanya berjalan kaki.


Ketika ingin melangkah bajunya di tarik seseorang dari belakang. Lastri berbalik ternyata Bu Arshi pelakunya.


"Hai bocah! apa tujuanmu mendekati Arman??


Arshi sangat emosi, menatap Lastri dengan tajam. Matanya merah siap membakar siapa yang berada di dekatnya.


"Ma, maksud Ibu Apa," Saya tidak mengerti bu..?


"Jangan pura pura tidak tahu kamu bocah?


Bu Arshi maju Ingin menarik kerudung Lastri, tapi secepatnya Lastri mundur.


"Haii!!" perlu kamu tahu, Arman itu milik saya, dia itu tunangan saya, Arman juga mencintai saya dan sebentar lagi dia akan menikah dengan saya."


"Kamu Itu hanya bocah kecil, jadi jangan kecentilan." Arman tidak akan pernah suka sama kamu.


"Kamu itu hanya bocah dan pantasnya kamu main boneka, ngerti kamu !!


"Ma, maaf bu, Ibu salah paham, saya dan pak Arman tidak ada hubungan apa apa selain murid dan Guru, kalau Pak Arman kemarin sering antar jemput saya, itu hanya karna Beliau merasa bersalah bu.


Arshi maju mengangkat dagu Lastri dan mencengkramnya. Lastri hanya diam matanya berkaca kaca.


"Jauhi Arman, karna saya tidak akan tinggal diam." Atau kamu dan keluargamu memang sudah merencanakan? agar Bapak dan Ibumu bisa mengusai hartanya.


Mendengar orang tuanya di sebut sebut, Lastri naik darah. Mencekal tangan Arshi yang masih di dagunya dan menghempaskan dengan kasar.


"Cukup Bu Arshi, Ibu boleh menghina saya ,tapi jangan bawa bawa keluarga saya."


"Heemm, ternyata bukan hanya rambut Ibu yang kriting, tapi hati Ibu lebih kriting."


"Ibu perlu tahu, kami memang orang miskin, tapi kami bukan orang yang tamak, seperti bu Arshi.


Arshi maju ingin menampar wajah Lastri tapi Lastri mencengkram tangan Arshi dan melintirnya.


"Auu.. sakiitt..!!


Lastri melepas tangan Arshi dan menghempaskan dengan kasar.

__ADS_1


"Maaf bu, kalau saya kasar sama Ibu, itu belum seberapa. Karna hanya tangan kanan saya yang bisa saya andalkan, jadi jangan mengulangi kalau tidak, tangan Ibu bisa lebih parah dari ini.


Lastri balik badan dan melangkah pergi dengan membawa sakit hati. Tidak lagi mau mendengar umpatan umpatan Arshi.


Lastri tidak menceritakan kejadian ini kepada sispapun termasuk pada Arman.


Lastri bukan tipikal orang yang suka curhat pada orang lain, lebih baik menahanya sendiri apa yg ia rasa. Makanya dia kadang sampai sakit.


"Flashback off


Dari Rumah sakit, Arman tidak pulang kerumah ia lebih memilih kerumah Dimas dengan menaiki ojeg, masa bodoh dengan mobilnya ia bisa mengambilnya besok sepulang ngajar karna ia tidak Ingin melihat wajah Arshi.


Di Rumah Dimas, Dina sedang berkutat di dapur , rambutnya di ikat kuda ia ingin menyiapkan makan malam. Dina memang bukan anak yang manja, 3tahun berpisah dengan Ibunya membuat dia menjadi gadis yang mandiri.


"Tap tap tap.. Dimas berlari menuruni anak tangga .Dimas bergegas menuju dapur melongok sang adik.


"Masak apa lo?"


"Masak spsial buat kakak aku yang baik hati tapi suka nyebelin," Dina menjawab dengan enteng.


Dina melirik kakaknya dengan senyum yang di buat buat.


"Huh lebay lo" bilang aja mau minta dwit pakai ngrayu, Dimas menoyor kepala adiknya.


"Iiihhh, kakak suka kebiasaan dech, suka KDRT" Dina menatap kakaknya kesal mengusap usap kepalanya yang bekas di toyor kakaknya.


"Mending bantuin masak nih dari pada kakak jahil tingkat Dewa.


Dina mengangkat cobek menyiapkan bumbu bumbu hari ini ia ingin memasak Capcay dan ayam goreng.


"Masak yang enak ya, malam ini teman kakak mau nginap di sini.


"Siapa kak?


"Siapal lagi kalau bukan Pak Gurumu itu."


"Paling mau curhat dia" kenapa ya kak ,Pak Arman tuh bawa anya tegang melulu.


"Yach mana gue tau" sudah lah, lanjut masak jangan Gibahi orang, dosa tau! Titah Dimas.


Selama ini Dina tidak pernah tau kalau Pak Arman diam diam menyukai Lastri ,dan Arman juga tidak pernah tau kalau yang di taksir Dimas adalah Lastri..


Dimas masih mencuci sawi dan tampaknya dia menemukan sesuatu, senyum jahil menghiasi bibirnya.


Dina Masih sibuk ngulek bumbu buat ayam goreng.


Dimas mindik mindik, di belakang adiknya. Dina mengenakan jins selutut di bagian pinggang belakang mlongo sedikit.


Dimas ambil benda itu dan di masukkan kedalam celana adiknya.

__ADS_1


Dimas menahan tawanya agar tidak terdengar, ia kembali ke wastafel melanjutkan mencuci sawi.


Dina yang sedang menguleg bumbu menyadari, seperti ada gremet gremet di dalam celananya. ia berdiri meraba raba celananya ach..apa ya ini kok kenyal kenyal? Dina ambil benda tersebut.


"Aaaaach....kakaaaakk...


Dina melempar ulat sawi yang iya pegang masih merayap di lantai keramik, ia berlari memeluk kakaknya dari belakang, matanya terbelalak antara shok, kaget dan takut menjadi satu.


Dimas menutup mulutnya menahan tawanya.


Dina melepas pelukanya ia baru sadar kalau ini pasti ulah kakaknya.


"Hahaha...Dimas tertawa terbahak bahak, senang karna bisa ngerjai adiknya 🤣


"Kakaaaak...jahaaatt.👊


Akhirnya kegaduhan di dapur terjadi, Dina menggulung lengan kaosnya sebatas siku mengambil sepatula ingin memukul kakaknya.


"Dasar kakak gak punya akhlak, Dina bersungut sungut, taringnya sudah mulai keluar. Dimas berlari memutari meja dapur. Plaaakk,..spatula hanya kena daun kursi, plaaakk ...plaakk, spatula mengenai meja. Dimas mundur memutar ingin lari keluar.


"Gubraak ! Dimas tersungkur tersandung jongkok yang di pakai Dina duduk tadi, akhirnya Dina dapat menangkap kakaknya yang masih tengkurap di ubin🤣


Spatula bertubi tubi mendarat di pantat Dimas "Aaach...."stooop. Ampun sakiiitt..."teriakan Dimas tidak di hiraukan Dina lagi. Yaach sudah jatuh tertimpa tangga. Itu yang di rasakan Dimas. Ingin ngerjain adiknya malah bogem yang ia dapat.


"Rasain tuh wleee, Dina melemparkan spatula dan mulai masak kembali. Dina dapat menyelesaikan masakamya sendiri tanpa di bantu kakaknya.


Selesai masak, Dina mandi shalat magrib, menuruni tangga dan istirahat di Sofa. Menyalakan televisi. Tidak lama Dimas menyusul.


Dina melirik kakaknya sekilas kemudian mlengos. Candaan tadi sore masih membuatnya kesal.


Dimas duduk di samping adiknya.


"Apa lo deket deket minggir sono" Dina mengusir kakanya.


"Idiiih..marah, impas kalii? lihat nih pantat gue merah merah, sadis lo" Jawab Dimas.


"Rasain lo wlee, Dina memanyunkan bibirnya.


Tok tok tok, noh bukain suruh Dimas.


"Ogah" temen lo sih."


"Kan Guru lo juga."


**Mohon Hadiahnya


Like


Coment

__ADS_1


Vote**


__ADS_2