
Pagi yang cerah, mentari hadir menyapa. Gadis cantik berjalan tertatih tatih, menyusuri jalanan Ibu kota.
Sudah 5 hari aku hidup di jalanan Ibu kota, mencari tempat Cost tidak semudah apa yang aku bayangkan. Mungkin mereka tidak percaya denganku, karna usiaku masih muda. Mereka takut aku tidak bisa bayar. Mencoba berjualan pun aku di musuhi oleh pedagang senior, dan alhasil tidak jarang kami bangku hantam karna mereka selalu mencari gara gara. Karena sudah lama berjualan jadi mereka berkuasa. Aku melawan tindakan mereka aku selalu menjadi pemenangnya.
"Tolooong.., Tolooong.." aku mendegar suara jeritan seorang Wanita. Aku mencari sumber suara, aku berlari sekuat tenaga membawa tas pakaian yang selalu aku bawa kemana mana.
Sampai dekat Halte , dua orang pria menarik tas seorang wainita, pemandangi seperti ini sudah berapa kali aku temui, bahkan aku sendiri yang menjadi korbanya.
"Bukk..bukk.Aku hajar kedua orang pria tersebut.
Kami saling serang, pertarungan terjadi kembali. Setelah aku yang memegang kendali pertarungan, mereka terdesak. Kesempatan itu tidak aku sia sia kan, Tas sudah aku kuasai, lalu aku lemparkan kepada Tante cantik. Yang berdiri mlongo di dekat halte. Salah satu pria sudah siap dengan pukulanya' dia berlari ke arahku, ketika hampir mendekat, aku dorong teman dia aku jadikan umpan.
"Buukk kedua laki laki itu bertabrakan, mereka jatuh tersungkur entah apa yang terjadi, Aku segera menarik tante cantik itu menghindar.
Tante itu membawa aku masuk kedalam Bank yang tidak jauh dari tempat itu. Aku lirik jam dinding baru jam 7 lewat, Bank tersebut masih sepi.
"Terimakasih ya dik..kamu hebat sekali," duduk sini.Tante cantik itu menyuruhku duduk, di kursi sofa.
"Terimakasih Tante," apa boleh ya" saya numpang ke Toilet?
Oh, silahkan" itu Toilet di sebelah sana.
Aku segera kekamar mandi, kesempatan ini tidak aku sia siakan, aku mandi dan berganti pakaian.
Sudah 5 hari celana jins ku tidak aku ganti, setelah mandi dan berganti pakaian aku mematut diri di kaca kamar mandi. Setelah selesai aku keluar dan mememui tante tadi.
Sampai di depan, tante menatapku tidak berkedip.
"Eh, kamu cantik sekali? Kata tante.
"Hehe, tante bisa aja."
"Jangan panggil tante, panggil saya mbak aja" duduk kita belum kenalan" namannya siapa?" pertanyaan tante beruntun tidak terjeda.
"Saya Lastri mbak" aku menyalaminya. Mbak ini Cantik badanya langsing, tinggi semampai, potongan rambut seperti laki laki tapi feminin dan elegan, sungguh sempurna pikirku.
__ADS_1
"Oh Saya Penina, panggil aja mbak Nina.
"Rumahmu di mana" tanya mbak Nina. Aku hanya diam dan menggeleng. Mbak Nina berdiri menyodorkan Roti dan susu kota.
"Ini di makan" kamu belum sarapan kan?"
"Terimakasih mbak, tanpa rasa malu, aku langsung menyantap Roti yang di suguhkan mbak Nina. Karna dari kemarin sore aku belum makan.
"Saya kerja dulu ya, kamu tunggu di sini" jangan kemana mana nanti siang, aku mau ngajak kamu keluar.
"Baik mbak.
Diruangan mbak Nina, aku duduk di sofa, sambil membaca majalah. Teman teman mbak Nina, semuanya ramah,mereka rata rata cantik. Perjalanan hidupku sangat rumit, aku seperti anak kucing kehujanan dan terlunta lunta di jalanan. Tidak terasa waktu sudah hampir jam 12 siang. Mbak Nina mengajak aku keluar.
Aku naik mobil milik mbak Nina, setelah 15 menit mbak Nina memarkirkan mobilnya di depan Cafe. Mbak Nina menggandeng aku, bau harumnya menghipnotis siapa yang dekat denganya. Farvum mahal memang harumnya tidak berbohong.
Mbak Nina memesan makanan, duduk di Cafe ini, aku jadi ingat lagi bayangan Pak Arman. Dulu dia sering memanjakan aku mengunjungi tempat tempat yang belum pernah sekalipun aku tau.
Sudah dua bulan aku tidak pernah bertemu denganya, dengan keadaanku yang seperti ini tidak mungkin aku bisa bersatu. Dulu aku banyak belajar masak, menjahit, belajar tekun. Agar aku bisa memantaskan diri untuk bisa dekat denganya, dan tidak terlihat kampungan dimata orang, menjaga Imegs dia agar tidak malu di depan teman temanya. Tidak aku sadari air mataku luruh.
"Saya ikut mbak aja, Jawabku. Mbak Nina memesan makananya.
"Kamu menangis.."kenapa?" ceritakan, mungkin saya bisa bantu."Mbak Nina mengeluarkan amplop dari tasnya.
"Ini sebagai ucapan terimakasih, karna kamu sudah menyelamatkan Dokumen penting milik Nasabah, kalau tidak akan bermasalah besar," kata Mbak Nina.
"Eh, nggak usah mbak saya membantu Mbak tulus kok."
"Sekarang cerita sama Mbak, Rumah kamu" dimana?" nanti mbak bisa antar.
Aku memandang wanita di depanku, entah mengapa aku dengan gamblang menceritakan semua masalahku, kecuali hubunganku dengan Pak Arman karna ini prifasi. Ia menatapku iba.
" Oh jadi kamu mau, sekolah?" Aku mengangguk mantap.
"Iya mbak, tapi semua rencana saya" berhenti di tengah jalan."
__ADS_1
"Sekarang gini aja, kamu tinggal dirumah Mbak" dan kamu boleh sekolah."
" Benar mbak?" Mbak Nina menggukan kepalanya, aku seperti tanaman yang sudah layu tersiram air hujan. Ya Allah, semoga ini awal yang baik doaku dalam hati.
"Tapi sekarang sudah terlambat mbak, sebulan lagi smester. Aku kembali murung.
"Tenang aja" asalkan kan kamu nanti bisa tes, dan mengejar pelajaran yang tertinggal," kamu pasti boleh masuk, pimpinan Yayasan itu teman suamiku. Aku kembali berbinar aku akan menyusun puing puing reruntuhan.
"Terimakasih mbak, sebagai gantinya saya akan bekerja di rumah mbak," sekiranya mbak berkenan."
"Oh ya !" kebetulan Mbak mencari orang yang bagian bersih bersih, kalau kamu mau." Aku kembali berbinar binar terimakasih ya Allah engkau telah membuka jalanku.
Penina PoV
Tadi pagi aku datang lebih awal karna jalanan tidak macet. Aku turun dari mobil dua orang preman menghadangku, karna pagi ini masih sepi. dasar preman keparat pagi pagi sudah nodong pikirku.
Sebenarnya tidak ada uang tunai di tasku, tapi surat surat penting dan data Nasabah yang harus aku selamatkan. Preman itu menarik narik tasku, aku mulai panik dan berteriak minta tolong.
Datanglah dewi penolong, gadis menyerang penuh siasat, dengan mudahnya menangkis serangan serangan preman. Aku takjup di buatnya, aku menjadi ingat, cerita adiku bayu tempo hari, inikah orangnya? Ah masak iya aku berguman.
Setelah mandi dan memakai bedak tipis, gadis itu sangat cantik. Aku jadi ingat adiku bayu kembali.Kalau memang gadis ini orangnya wajar jika bayu jatuh cinta dalam pandangan pertama.
Setelah siang aku akan memberikan uang sebagai ucapan terimakasih. dan mengantarkan ia pulang.
Setelah di Cafe ia menceritakan tujuanya datang kejakarta. Aku larut dalam ceritanya belum genap 17 th anak ini sudah menanggung beban hidupnya terlalu berat.
******
"Hai..hai.. Readher .."maaf akhir akhir ini jarang up karana Buna lagi banyak kerjaan Inyaallah akan aku usahakan up tiap hari tetap disini ya?"
SELAMAT MEMBACA
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Like
__ADS_1
Coment