
Selesai makan di suapi Pak Arman, Lastri minum obat yang di sodorkan oleh beliau.
"Assalamu alaikum."
"Waalaikumsallam."
Mas Doni datang dengan tergesa-gesa, di ikuti bapak dari belakang dan juga mas Eko.
"Las, gemana keadaanmu?" tanya Doni.
"Alhamdullah mas, sudah lebih baik" jawab jawab Lastri beralih memperhatikan Pak Arman, raut wajahnya berubah.
Mas Doni menyodorkan makanan yang di bungkus plastik.
"Ini titipan dari mama, kata Mama ini makanan kesukaanmu," ucap Mas Doni.
Arman tampak kesal, kenapa justru pria ini yang tau kesukaan Lastri kenapa bukan dirinya.
Kemudian Mas Eko juga menyodorkan makanan titipan Ibunya.
"Ini ibu juga titip kue ini." Mas Eko membuka plastik didalam plastik di letakkan daun pisang.
"Nogosari? waa... enak nih mas"Lastri ambil satu bungkus nogo sari, dan memakanya, ia melirik pak Arman tampak sibuk dengan handphone.
Lastri Ingin menyuapi Pak Arman. "Aaa... cobain, enak loh pak" Arman membuka mulutnya menerima suapan Lastri.
Melihat Arman di suapi Lastri. Doni tak mau kalah ingin memberi perhatian padanya. "Nih kripik pisang kesukaammu kan?" Doni ingin nyuapi lastri tapi Lastri tidak mau, biar bagaimana Lastri harus menjaga perasaan pak Arman.
Melihat Lastri menikmati kripik, Pak Arman tambah kesel.
"Jangan makan yang aneh-aneh dulu Tri kamu kan, lagi sakit." kata Arman.
"Ya elah, pak, emang Lastri sakit tipus apa? nggak boleh makan kripik."
Doni menimpali.
Mas Eko melihat kedua pemuda itu tampak tegang. Hanya geleng-geleng. "Ya Allah... adiku ternyata di cintai dua orang yang sama kayanya dan juga sama gantengnya" Monolok Eko.
Doni melihat Arman yang sudah muali terpancing lagi lagi menambah aksinya, Doni duduk di samping Lastri.
"Nih biar rilex tuh dipijit gini, tapi pijitnya jangan ngasal, supaya peredaran darahnya Lancar."
Lastri menggerak-gerakkan kakinya risi di pegang Doni.
Arman melotot ke arah Doni. Ia bangkit dari duduknya dan pindah ke sofa dekat bapak. Doni dan Lastri masih terus ngobrol kadang cekikikan. Doni sengaja tertawa kencang, supaya di dengar Arman.
Mas eko memberi kode kepada Lastri, tapi Lastri ternyata kurang tanggap.
Pak Arman, makin kesal, kemudian pamit sama Pak suryo.
Pak saya pamit dulu, masih banyak kerjaan soalnya."
"Oh iya, nak Arman, hati - hati di jalan, jangan ngebut mebawa mobilnya" sahut Bapak.
"Iya Pak" Pak Arman menyalami tangan Pak Suryo, kemudian ia keluar tanpa pamit sama Lastri.
Lastri menatap Mas Eko, meminta bantuan. Tetapi Mas Eko hanya menggeleng, mengangkat tanganya keatas tanda menyerah. Tadi sudah di beri tahu tapi adiknya nggak tanggap.
Memulai lebih mudah dari pada mempertahankan, hal tersebut tidak bisa di pungkiri dalam satu hubungan.
*******
Sementara ditempat Lain. Seorang pemuda duduk termenung, tangan kirinya menopang dagu. "Kapan ya? gue bisa ketemu sama cewek itu, cantik, putih, mancung, kok seperti bukan orang desa ya." monolognya.
Flashback on
__ADS_1
Sore itu seorang gadis, mondar mandir milih barang belanjaan. Kerudung berwarna pink, senada dengan warna bibirnya tanpa polesan, menggetarkan hati seorang. Adimas prayoga, setelah pertemuan waktu itu, ia penasaran dengan seorang gadis. Tapi, tak pernah lagi bertemu. Tdak jarang, tiap sabtu Dimas nongkrong sampai berjam jam di mini market dengan harapan gadis itu belanja.
"Brukkk"
"Eh, Maaf dek, saya tidak sengaja" ucap Dimas tidak sengaja menabrak keranjang. Membuat gadis itu tersenyum meperlihatkan gigi gingsulnya, yang membuatnya semakin sempurna.
Adimas terpana melihat kecantikan gadis mungil itu..Dimas mendekati gadis itu, membantu membereskan belanjaan yang berhamburan.
Adimas mengulurkan tanganya. "Kenalan dek, Namaku Adimas, panggil aja Dimas."
Belum sempat cewek itu mengulurkan tangan. Seorang Ibu datang.
"Las sudah dapat semua?"
"Sudah bu" jawab Lastri.
"Ya sudah kita kekasir dulu yuk" Lastri mengikuti seorang Ibu.
"Dooorrr."
Dina datang mengagetkan kakaknya.
"Sialan loe, bikin kaget tau gak" Dimas bersungut sungut.
"Hehe maaf, lagian dari tadi aku panggil-panggil kakak gak nyahut. Eh lagi mikirin siapa sih kak, jangan-jangan...
kakak sudah punya pacar, ya?" Cecar Dina.
Dina cengar cengir menggoda kakanya..
"Kenalin dong kak, boleh sih punya pacar, tapi harus yang sayang sama aku," Dimas cuek tidak mendengar celotehan adiknya itu.
"Bodok!" ucap Dimas kesal.
"Jangan sok sedih lo, seperti anak gak keurus aja, mau minta berapa?" Dimas tidak tega juga.
"Seratus cukup buat empat hari kak, dua ratus juga boleh deh" terkekeh.
Dimas merogoh kantong.
"Nih.. setatus"
"Kakaaaak... serius nih" Dina menghentak hentakkan kakinya di lantai.
"Hahaha..." Dimas tertawa ngakak.
Ya jelas aja Dina marah , pasalnya Dimas memberi uang 100 rupih logamanπππ.
Ini kakak adik selalu jail satu sama lain, tapi mereka saling menyayangi..
Deerrt deerrt handphone Dimas bergetar.
(....)
"Dimana?"
(....)
"Okay..."
Dimas berdiri mengambil kunci motor, dan beranjak tanpa melihat adiknya lagi.
"Kakaaaakk," Dina berlari mengejar kakaknya.
"Mana dwitnya" Dina nengadahkan tangnya,
__ADS_1
"Besok!" ucap Dimas sambil memakai sepatu.
"Sekolahnya juga masih besok, gak megang uang tunai gue, sudah besok aja, gua buru buru." kata Dimas.
Dimas mengendarai motornya menuju caffe. 20 menit kemudian. Dimas sudah sampai tujuan. Ia melihat sahabatnya duduk di sudut ruangan hanya seorang diri. Dimas kemudian ikut duduk.
"Mau pesan apa?" tanya Arman.
"Samain lo aja"
Kenapa lo? romanya bete amat?"
"Kesal gue" Arman hidungnya mengembang rasanya ingin meninju seseorang.
"Ngapa? berantem lagi sama tunanganlo?"
"Nggak, udah gue buang kelaut dia! mungkin sudah menjadi santapan paus kali??" Arman semakin kesal.
"Terus ngapa? sama nyokap lo lagi?" cecar Dimas.
"Lo tau gak? gadis yang gue tabrak kemarin?"
"Tau, murid lo itu kan! kenapa dia? makin parah ya?" Dimas mencecar pertanyaan itu pada sahabatnya.
"Kesel gue, tadi gue ke rumah sakit niat hati pengen jagain dia, eh malah dia lagi mesra-mesraan lagi sama cowok lain, coba kalau lo gak kesal."
"Hahaha... jangan bilang lo, bucin sama murid lo?" "hahaha..." Dimas tertawa puas. "Masih anak abg lo embat juga!" Dimas geleng-heleng.
"Armanjaya putra, yang selama ini sulit takluk sama cewe, eh ternyata malah klepek- klepek sama anak abg, hahaha..."
"Pletak."
Arman melempar Dimas dengan tempat tisu di depanya.
"Ngledek aja terus lo, gua sumpahin lo jatuh lebih dalam sama anak abg." Arman kesal.
Pasalnya, pengen curhat malah di ledek habis-habisan sama sahabatnya itu.
"Lo, gak ngerti men, dia itu beda sama cewek yang lain, usia memang boleh abg, tapi kedewasaanya, jauh di atas rata-rata." Puji Arman.
Dimas mencibir. "Dewasa lo bilang? terus itu katanya lagi mesra-mesraan sama cowok lain, itu yang lo bilang dewasa?"
Armam terdiam rupanya ia terjebak dengan kata-katanya sendiri. "Nah diem kan lo?!" Dimas merasa puas bisa menggoda sahabtnya.
" Trus gemana sama tunangan lo?" Dimas membahas yang lain.
"Kan sudah gue bilang tadi, kalau dia sudah gue buang kelaut" Arman mengulangi ucapanya.
"jadi lo sudah putusin dia?" tanya Dimas.
"Putusin! kapan gue pacaran sama dia?!" ketus Arman.
Arman kemudian menceritakan semuanya, tentang Arshi yang kepergok selingkuh sampai dia menabrak Lastri.
"Hahaha jadi penasaran gue sama cewek abg lo?" Dimas kembali kepokok pembahasan.
"Ngledek aja lo, nanti gue sumpahin lo, kecantol sama temen adiklo!" kata Arman.
"Nggak, gue sudah punya incaran kok" Dimas tersenyum mengingat cewek yang di temui di mini market tempo hari.
Hehe, padahal lo sudah kecantol juga, sama cewek abg huh" Dasar Dimas πππ
β‘β‘β‘β‘β‘
Mohon kritik dan saran.
__ADS_1