
Doni pov
Aku mengenal Lastri sejak dua tahun yang lalu, Saat dia mulai bekerja di rumahku. Sebenarnya Mamah ragu, apakah mampu? Anak usia 14 tahun mengerjakan pekerjaan kasar, yang biasa di lakukan oleh para Ibu.
"Namun, dengan semangat Lastri memohon.
Tolong bu, saya sudah biasa melakukan pekerjaan itu." katanya.
Akhirnya Mama menerima, sebenarnya Mama tidak tega mempekerjakan anak di bawah umur.
"Ya sudah, kamu boleh bekerja disini, tapi di coba seminggu dulu, kalau memang kamu belum mampu, lebih baik berhenti ya." kata ibu panjang lebar.
"Baik bu,"
"Ya. Sudah... kalau kamu mau, boleh langsung kerja hari ini" titah Mamaku.
"Terimakasih Bu" ia tampak berbinar-binar.
Aku hanya bisa memandangi dari lantai dua. Aku perhatikan ia bekerja dengan cekatan, ngepel, menggosok, dan mencuci pakaian, dia lakukan sudah sangat lihai.
Aku pandangi wajahnya yang putih, hidung mancung, di tambah lagi ia mengenakan kerudung pink, makin menyempurnakan penampilannya..
Saat itu dadaku bergetar seolah ia menghipnotisku. Sejak saat itu, seolah hatiku terpatri untuknya, padahal banyak teman wanitaku yang menyukaiku, malah ada yang tidak tau malunya mengutarakan isi hatiku kepadanya.
Dua tahun sudah aku mencintainya dalam diam, setiap ingin mengutarakan perasaanku selalu gagal, seperti hari ini, aku memberanikan diri untuk merangkai kata, dengan harapan semoga ia memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Tapi Mama seolah mengacaukan semuannya.
Sebenarnya Mama bukan orang yang memandang dari status sosial, malah mamah sering membantu orang yang sedang kesusahan.
Sebenarnya bukan Mamah yang membuat aku ragu, tapi justru perasaan Lastri terhadapku, apakah ia juga mencintai aku? Aaarrrrg...pusing kepalaku..
Sulastri PoV.
__ADS_1
Di sekolah biasa aku datang paling pagi, padahal aku hanya berjalan kaki tidak seperti teman- temanku, yang biasa menggunakan sepeda motor, atau sepeda ontel.
Aku berjalan melewati lorong-lorong sekolah masih sangat sepi, di dekat ruang UKS , aku mendengar suara.
Pok, pok, pok.
Aku mendekati asal suara.
"Bapak"
"Kamu."
Suara kami bersamaan. Aku lihat Pak Arman, sedang ngibas-ngibas buku di dinding tembok, ada semut mungkin?" aku membatin.
Aku mendekat, ku cium punggung tangannya seperti Guru-Guru yang lain, tapi ada perasaan berbeda yang aku rasakan, dadaku berdebar-debar.
Aku perhatikan wajah tampanya, dan aroma Parvum menguar membuat betah siapapun yang berada di dekatnya.
Inikah yang orang bilang cinta pertama? entahlah karna selama ini aku belum pernah merasakanya, lebay mungkin? masa iya, anak SMP sudah merasakan ini. Pikirku.
"Eh pak, maaf, first lov"
Lagi-lagi ucapanku membuat Pak Arman kaget.
"Apa?" Pak Arman mendekat kearahku.
"Coba ulang ulangi yang tadi" titahnya .
"Eh, eh gak pak, maaf." Aku membungkam mulutku sendiri malu, itu yang aku rasakan.
"Astri, kamu datang sepagi ini?"
"Lastri pak, bukan Astri.
__ADS_1
"Biar beda panggilan saya, sama yang lain. Jawabnya menggodaku.
"Eh, Pak Arman so sweeet... aahh... mimpi apa aku semalam ya, pikiranku melayang kedunia hayal.
"Astri, kamu berangkat kesekolah naik apa?"
"Naik kaki pak,
"Maksudnyaa" tanya Pak Arman dengan mengerut.
"Jalan kaki maksutnya pak."
"Memang rumahmu dekat dari sini ya?"
"Kira-kira satu jam pak kurang lebih, jalan cepat tapi."
"Waat" pak Arman terbelalak kaget.
" Ya Allah pak, tidak usah kaget kalii? jalan kaki tuh, banyak manfaatnya, bisa membakar lemak sarapan pagi, meskipun hanya lauk tempe plus sayur kangkung. Nih lihat badan saya? langsing tinggi, imut. Ideal tuh berkat jalan kaki, hehehe."
Pak Arman hanya manggut-manggut.
"Pak, saya pamit ke kelas dulu ya... sampai jumpa di kelas..." Ketika aku ingin melangkah pak Arman menyuruhku berhenti.
"Eh, tunggu! Kamu bukanya yang suka tidur di kelas ya?"
"Nah itu bapak tau, ini saya mau tidur dulu pak, lumayan masih ada waktu 30 menit." jawabku.
"Ya, percuma dong kamu membakar lemak, kalau akhirnya tidur lagi." katanya tidak mau kalah.
"Sudah ya pak, permisi... saya mau tidur dulu, siapa tau nanti saya mimpi ketemu pangeran ganteng, sepertii... Pak Arman" up aku menutup mulutku hampir keceplosan..
"Dasaar bocah" Pak Arman menatap kepergian ku, senyum-senyum entah apa yang ia pikirkan.
__ADS_1
Di kelas, perasaanku membuncah...haaah ada apa ya jantungku? jangan mimpi Lastri.
JANGAN PERNAH BERHENTI BERHARAP, KARNA HARAPAN AKAN MEWUJUTKAN, SEMUA IMPIAN SEPERTI SINDERELA BERTEMU SANG PANGERAN.