MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 44


__ADS_3

Waktu berlalu, dua bulan sudah aku berada di bekasi, aku tetap bertahan dalam kondisiku, tante Sri secara tidak langsung menyiksa dalam fisik maupun mental.Orang tuaku tidak mengetahui keadaanku, hidup di jaman era serba modren seperti saat ini, tidak mempunyai benda pipih mungkin hanya aku yang mengalaminya.


Walaupun Tante tidak pernah memukulku, tapi dia mempekerjakan aku tidak manusiawi, badanku kurus kering, separuh nyawaku telah hlang, hidup enggan mati tak mau, harapan tinggal harapan. Makan sekali sehari saja kadang tidak memenuhi standar Gizi.


Andai aku orang yang berpengaruh, mungkin bisa menggugat tante. karna kerja paksa sudah di hapuskan dan di larang Internasional Labour. Akan tetapi pada prateknya, masih ada eksploitasi tenaga kerja walupun di era modren seperti sekarang ini.


Sekarang ini bukan lagi jaman belanda seperti sejarah yang sering aku baca, selalu memaksa bekerja, apa lagi aku masih di bawah umur.


Hari ini puncaknya kemarahan tante, tentu saja Om Bambang tidak tahu apa yang terjadi, sebab kalau telpon tante selalu berbohong.


Saat ini, usaha tante menurun, dan pekerjaan om Bambang di luar kota kena masalah, lambat laun Restaurant hampir bangkrut, kehidupan tante menjadi carut marut. Akan tetapi, lagi lagi aku yang di salahkan.


"Heh kamu anak membawa sial," gara gara kamu semua usahaku hancur," seandainya kamu tidak ada di sini saya tidak akan mengalami nasip seperti ini.!!


Tante nunjuk nunjuk muka aku. seperti orang kesetanan, semua yang ada di sekitar ruang tamu ia banting banting, hingga ruangan itu tidak berbentuk .


"Mamah ada apa ini..? sabar Mah." Nengrum menenangkan mamahnya, tapi tenaga Nengrum tidak kuat menahan tubuh Mamahnya. Sementara aku gemetaran tidak bergerak.


"Mamah! Istigfar Mah..!! Erna yang baru keluar dari kamar ikut menenangkan Mamahnya.


"Praaang... tante memukul Lampu hias hingga hancur berantakan, beling berserakan di mana mana.


"Mamaaah...,jerit Nengrum dan Erna melengking.


Aku mundur memasuki kamar, dan menguncinya dari dalam, apa yang akan terjadi terjadilah, aku sudah pasrah sama Allah hidup dan mati di tanganya pikirku.


"Dor dor dor tante menggebrak gebrak pintu.Aku tidak mau mati sia sia, aku melihat jendela dan membukanya, ternyata tidak terlalu tinggi.


Segera aku ambil tas kumalku, mengemas dengan cepat, Uang tabungan yang dari kampung masih terlipat dengan rapi, di tambah uang dari om Bambang, aku masukan kedalam kantong celana kolor yang biasa aku pakai dalaman, aku ambil 200 ribu, mau dibilang udik atau apa sebodoh teuing, yang penting aman pikirku.


"Dor..dor..dor keluaar.. kamuu.. anak pembawa sial..pekik tante sri.

__ADS_1


Aku pakai celana jin kaos dan jaket, lalu melompat keluar jendela. Aku berjalan tertatih tatih, malam ini sudah jam 11. Aku berjalan entah kemana, jalanan sangat sepi, satu jam sudah aku berjalan. Di tikungan jalan ada Masjid, kebetulan tadi aku belum sholat.


Sampai di Masjid, ada bapak yang sudah tua sedang berzikir. Segera aku ambil air wudhu dan sholat Isya.


"Neng dari mana malam malam kok masih diluar..?"


"Iya Pak saya kemalaman," atuh nahak budak awewe di luar peiting peiting?" Dari logat bahasanya bapak bapak ini berasal dari jawa barat.


"Iya ini Pak, mau ada keperluan, tapi kemalaman di jalan. Aku berbohong, tidak mungkin juga aku cerita dengan orang yang belum aku kenal, bisa bisa nanti di serahkan lagi sama tante Sri, aku sudah tidak kuat.


"Bapak pengurus Masjid ini ya..?


"Iya neng.., bapak dari ciamis, "karna tidak ada tempat tinggal" warga mengizinkan Bapak tidur disini, malah di buatkan kamar lagi neng.." 0h aku hanya manggut manggut.


"Apa boleh ya Pak ?" saya nginap disini satu malam.., aja"


" Oh sok neng.." eneng tidur di kamar bapak yaa.., nanti bapak tidur di sini aja.


"Udah nurut, budak awewe mah" gak boleh tidur di luar." Aku menurut, kemudian aku tidur di kamar pengurus Masjid.


Aku merebahkan tubuhku di kasur tanpa ranjang, menatap langit langit, pikiranku menjadi flashback, aku meninggalkan pak Arman dalam keadaan marah, mungkin ini akibat orang yang ambil keputusan dengan keadaan emosi. Sesal ternyata ada di akhir. karna sudah sangat lelah aku terlelap.


"Artii..tungguu..kamu mau kemanaa..?


Aku menoleh berhenti sejenak melihat Arman berlari mengejar.Aku berlari kembali.


"Artiii..pleas..tungguu..pak Arman terus mengejarku, aku berhenti sejenak. mengatur napasku yang ter engah engah.


"Aku mohon..jangan tinggalkan aku..," aku mencintaimu ," kita pulang ya..? Pak Arman menuntun aku, menyebrangi kali bersamanya. Sampai di tengah, tiba tiba banjir besar datang, aku hanyut di bawa air. Pak Arman menjerit memanggil aku


"Artiii...

__ADS_1


Aku terbangun dari tidur, keringatku bercucuran. Hawa dingin menusuk pori pori kulitku.."Astagfirullah..aku Istigfar melihat jam ternyata sudah jam tiga pagi.


Aku terbangun menuruni anak tangga, melihat Bapak pengurus Masjid masih meringkuk di tikar, kasihan bapak itu, aku sudah mengganggu tidur nyenyaknya, karna merelakan kamarya aku pakai.


Aku menjalankan shalat tahajut, dan lanjut mengaji..


Aku membaca Surah ' Li ilafi Quraisy. agar perjalananku nanti di permudah .Adhan subuh berkumandang, Masjid menjadi ramai, aku mengikuti shalat berjama,ah.


Selesai shalat aku membantu pengurus masjid menyapu dan mengepel.


"Neng nggak usah, biar bapak aja ya..," Tolak bapak pengurus masjid.


"Sudah..bapak duduk aja ya.., ini sebagai ucapan terimakasih buat bapak," karna sudah mengizinkan saya menginap disini," dan merelakan kamarnya, untuk saya."


"Eh Bapak ngomong ngomong namanya siapa?" kita belum kenalan ya," hehe.


"Saya Cecep neng.., Orang biasa manggil Mang Cecep. Oh..aku mengangguk angguk.


"Eneng teu sakola?" Lagi lagi itu, pertanyaan Pak Cecep. Seperti Bu Ijah, juga tanya begitu. Ahh..ngomong Bu Ijah aku jadi ingat, beliau selalu menghiburku tidak jarang aku menangis di pelukannya. Sudah seperti Ibuku sendiri.Walaupun tante Sri jahat sama aku, masih banyak yang menyayangiku. Padahal mereka bukan siapa siapa aku. Ibu warung depan rumah tante, juga selalu menghiburku, Walaupun aku tidak pernah bercerita kepadanya, mungkin ia peka dengan anggota tubuhku yang semakin kurus dan sangat menyedihkan.


Fajar menyingsing, aku mengikuti langkahku, entah bagaimana kehidupanku selanjutnya, apakah lebih baik? atau justru sebaliknya. Yang penting aku keluar dari bekasi, dan menjauh dari Tante. Entah bagaimana kelak hubungan kekerabatan, Bapakku dengan Om Bambang, itu di pikirkan nanti.


Dengan Ijazah SMP apa yang akan aku lakukan? untuk pulang kekampung halaman, oh no.. Aku malu. Aku mengikuti langkah kakiku berpijak, naik Kereta api menuju tanah abang.


HAPPY READING


**Jangan lupa tinggalkan jejak


Like


Coment**.

__ADS_1


__ADS_2