MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 65


__ADS_3

Arman PoV


Pagi ini dengan semangat aku mulai mengajar Di Yayasan Pompes AlInayah. Aku mendapat tugas baru menjadi Wali kelas SMK jurusan APE Administrasi Perkantoran. Selama memperkenalkan diri, tidak sedikit anak anak yang tanpa sungkan mengutarakan perasaanya.


"Aiiih.." Pak Guru..."ganteng bangeeett.. "Jangan pernah lupa ya Pak Nama saya Fera anak tercantik di kelas ini."


"Huuu..!! begitulah anak laki laki berseru.


"Pak perkenalkan juga.. Saya Yuyun Yunengsih, anak cantik, badai cetar membahana, Syahrini pasti kalah." Celetuk salah satu anak itu memperkenalkan diri. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka.


"Huuu..anak cewek pada centil." mimpi di siang bolong." sloroh Reno anak berparas ganteng.


Yang membuat perhatianku teralihkan, ada salah satu anak menutup wajahnya dengan sebuah buku. Dia memang benar benar baca atau hanya menutupi mukanya, mungkin wajahnya jelek hingga tidak percayadiri pikirku. Aku melihat anak yang duduk di sebelahnya Dina Adiknya Dimas sahabatku, yang tak lain adalah murid SMPku di Yogya dulu.


Celotehan anak anak masih memperkenalkan dirinya sendiri hingga keadaan sekolah menjadi riuh, memang begitulah setiap aku memperkenalkan diri dimanapun aku mengajar, pasti anak anak akan cari perhatian.


"Pak Arman..." sudah punya Istrikah?" cletuk salah satu murid.


"Belum, baru calon." Jawabku asal.


"Waaahhh..patah hati akoh." siapakah wanita yang beruntung itu Pak?" Aku hanya menggelengkan kepala. Ternyata anak anak di sini lebih berani dari pada anak anak yang berasal dari Daerahku.


"Tidak usah di sebut ya..takut ada yang cemburu." hehe, aku mentertawakan diriku sendiri. Anak anak baru mulai diam memperhatikan.


" Anak anak mohon tenang ya...Bapak akan afsen kalia satu persatu."


"Baik pak Guru.."


"Tio Mahardika."


"Saya Pak."


"Reno Wibisono."


"Ada Pak


"Yuyun yunengseh."


"Hadir pak."


"Fera Anggraini,"

__ADS_1


"Siap Pak."


"Dina florenza."


"Ada Pak."


"Sulastri."


Tenggorokanku seolah tercekat, Nama Lastri memang pasaran di kampungku. Tapi Nama ini ternyata ada juga di kota Jakarta yang biasa memakai Nama yang panjang dan keren. Aku menjadi flasback 4 tahun yang lalu. Segera aku memulihkan kesadaranku.


"Ada yang bernama Lastri?" Aku perhatikan Dina menarik narik buku yang di pegang wanita di sebelahnya.


"Syahrini?! woyy!! tidurkah?" goda Reno.


"Kalau di panggil Lastri tidak mau jawab," panggil dia Syahrini Pak," cletuk Tio.


Aku mendekat, perhatianku menuju salah satu murid yang pura pura membaca buku dan di tarik oleh Dina.


Aku menurunkan bukunya, dadaku berdegup kencang, kakiku seolah tidak mampu untuk bergerak, gadis yang aku cari cari Satu tahun lebih, saat ini ada di depanku, Ia menunduk tidak mau menatapku. Gadis yang beberapa kali membuat air mataku luruh, dia makin dewasa dan semakin cantik, maka tidak heran jika teman temanya memanggilnya Syahrini. Wajahnya makin putih dan bersih aroma parvum melati menambah sensasi laki laki dewasa seperti aku.


Aku perhatikan Dina cekikikan melihat tingkah kami yang sama sama terpaku. Aku segera sadar, tidak ingin membuat Murid muridku yang lain bertanya tanya, walau bagaimana aku harus profesionsal. Aku segera kembali kedepan ambil tissu menyeka keringatku yang bercucuran.


Saya jadi ingat dulu, saya mempunyai Murid bernama Sulastri, tapi dia sering tidur di kelas, ketika Guru Guru mulai masuk kedalam kelas, malah kalau Gurunya mulai mengajar kadang masih terlelap.


"Nah jangan di tiru yaa.." aku menatap wajahnya memerah seperti tomad, lalu aku kembali afsen anak anak satu persatu hingga selesai. Aku melanjutkan mengajar seperti biasa, hingga jam Istirahat kedua pun tiba. Anak anak meninggalkan tempat duduk masing masing.


Aku merapikan buku buku di mejaku, hingga kelas menjadi sepi, Aku perhatikan dia sengaja bersembunyi di bawah meja, rupanya dia sengaja tidak mau bertemu aku, karna aku sengaja lama lama di mejaku. Aku tersenyum melihat tingkahnya, lalu aku memberanikan diri untuk mendekat.


"Kamu tidak keluar," ada kecoa loh."


"Aaah kecoa.." gubrak.. dia berlari sambil memegangi lututnya karna menabrak meja. Aku menjadi kasihan, padahal aku tidak bermaksud membuatnya kaget. Aku tahu, dia paling takut dengan kecoa di bandingkan ulat bulu maupun serangga lainya.


"Eh maaf kakimu terluka?" aku berusaha mengejar tapi dia berlari terpincang pincang. Aaachh...aku meremas rambutku, masih marahkah dia?" hingga melihat wajahku pun sudah tidak mau?! Kemudian aku melangkah keluar meninggalkan kelas menuju kantor? tidak mungkin juga aku mengejarnya tentu membuat Murid murid yang lain menjadi tanda tanya.


Arman PoV and


*****


Sulastri PoV


Semenjak kehadiran Pak Arman tadi pagi, aku terus terang menjadi inscure, Pak Arman yang dulu tentu beda dengan Pak Arman yang sekarang. Wajahnya makin tampan dan berwibawa, Pak Arman sekarang bukan hanya putranya Pak Burhan yang kaya raya di kampungku, dan bukan hanya seorang Guru SMP Negri dan Guru honor di SMK seperti dulu waktu aku SMP. Akan tetapi, Pak Arman sekarang seorang pengusaha Otomotif, Penjual mobil, motor, bengkel, steam mobil dan Cafe.

__ADS_1


Terus terang aku menjadi kecil sekali, dulu orang tuannya menentangku karna aku terlahir dari orang miskin. Apa lagi sekarang, aku hanya gadis yang bekerja sebagai ART, memikirkan itu aku menjadi pusing.


Sepanjang pelajaran tadi aku menjadi tidak konsentrasi, aku larut dalam pikiranku, tapi dengan caranya memandangku, aku bisa melihat tatapan di Netranya, bahwa Pak Arman masih mencintai aku. Selama mengajar tadi Pak Arman selalu mencuri pandang terhadapku, tapi aku selalu menunduk.


Aku berjalan ke kantin menyusul teman temanku. Dengan luka memar di lututku, untung Rok yang aku pakai panjang di tambah lagi aku memakai celana lezing kalalu tidak mungkin kulitku akan robek.


Aku bersembunyi di kolong meja, dengan harapan Pak Arman keluar terlebih dahulu, tapi dugaanku salah, justru Ia menungguku keluar dari persembunyianku, Pak Arman menyebut kata kecoak serangga yang menjijikan itu, membuat aku refek hingga lututku membentur meja.


"Tri, lo kenapa?" kok pincang sih?! Yuni dan Fera menatapku bertanya tanya.


"Nggak apa apa tadi pas mau keluar," kepentok meja." Jawabku.


"Lo melamunin apa sih.." sampai kepentok?"


"Udah nggak apa apa," ngapa sih pada bawel?"


"Lo nggak pada pesan makanan." tanyaku.


"Reno, Tio, sama Dina pada pesan, biar kedua laki laki itu kita manfaatin aja?" hehe celetuk Fera.


"Eh Guru baru kita bener bener ganteng ya..." Sloroh fera.


"Iya, gue mau jadi pacarnya." timpal Yuyun.


"Langkahin dulu mayat gue!!" Fera tolak pinggang. Mendengar ocehan temanku, aku tersenyum sendiri.


"Lo kenapa Tri? senyum senyum, mau ikut kompetisi mendapatkan Guru ganteng kita?" Sloroh Yuyun.


"Hehe..." lo lagian pada lucu, merebutkan pepesan kosong tau nggak?! aku meledek.


"Maksud lo apa! ngomong gitu?! namanya juga uasaha! lebih baik usaha, kalau gagal itu belakangan," yang penting kitakan sudah usaha." Iya nggak?! cerocos Fera.


"Silahkan dech..." pada ikut kompetisi, gue sih jadi penonton saja," sebab hati Pak Arman sudah punya orang lain." cerocos Dina yang tiba tiba datang membawa nampan, di ikuti Reno dan Tio dari belakang.


***Bersambung


Like


Coment


Vote***

__ADS_1


__ADS_2