
Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan acara perpisahan yang belum selesai, mungkin ini terakhir kali aku berada di sini. Untung waktu sudah hampir sore, jadi tidak terlalu panas. Aku menatap sekolah" selama 3 tahun ini membuat hidupku semakin berwarna.
Sampai dirumah, aku mendengar samar samar percakapan Ibu dan bapak dari dalam kamar.
"Bapak tega..!! hiks..hiks..aku gak mau Lastri pergi! Bapak harus batalkan supaya Lastri gak jadi kejakarta."
"Tidak bisa begitu buu.., semua akan baik baik saja." Biarkan Lastri mandiri.
"Bapak tidak sayang sama Lastri hiks...hiks jangan jadikan alasan Lastri supaya mandiri pak..,selama ini Lastri sudah sangat mandiri," apa pernah? sekalipun Lastri minta uang sama bapak? Tidak kan..!! hiks hiks..
Baru kali ini aku mendengar bapak dan Ibu bertengkar dan itu gara - gara aku. Aku masuk kamar lebih baik aku tidur dulu nanti bakda Ashar bangun sekalian menenangkan Ibu.
Sore hari aku bangun, shalat ashar dan keluar ingin menemui ibu. Aku lihat Ibu sedang masak di dapur.
"Masak apa bu?
"Eh kamu sudah pulang nak? Ibu menoleh aku lihat matanya sembab kebanyakan menangis.
"Pulang dari siang tadi bu tapi tadi langsung tidur."
"Masa siih kok Ibu tidak tahu ya..?
"Buu..Lastri mau bicara, biarkan aku pergi bu.." percaya sama Lastri, Insyallah aku akan baik baik saja. Yang penting Ibu doakan saja yaa.." Aku sama Ibu berpelukan. Tangis kami pecah. Akhirya Ibu menyetujuinya.
"Bu jangan bilang sama Ibu Susi ya.., kalau aku mu merantau.." memang kenapa nak?"
" Tidak apa apa bu yang penting Ibu tidak usah cerita kecuali kalau nanti aku sudah pergi, aku juga gak mau bilang sama pak Arman kok bu.
"Ya sudah nak" tarserah kamu saja.
******
Tidak lagi menunggu Ijazah aku sudah berangkat ke bekasi, biar saja nanti menyusul, aku juga tidak ikut jalan jalan, tidak satupun temanku yang aku pamiti aku di jemput Om Bambang dengan mobil sedan.
Saat aku memutuskan untuk pergi memantapkan hati untuk meninggalkan Bapak dan Ibu pergi jauh meraih cita cita ada delima yang bergejolak di hati. Apakah semua akan baik baik saja?
Bagaimana kehidupan jauh dari orang tua? Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di hatiku.
__ADS_1
Orang tuaku pasti akan mengalami hal yang sama terutama Ibu Pastilah ortu akan merasa berat hawatir, sedih, dan sepi namun mereka pasti memahami dalam diam dan mendukung dalam setiap untaian doa.
"Mas Eko mbak Dwi aku pamit ya.." kami semua larut dalam kesedihan.
"Maafin Mbak ya dek.." kalau bercanda suka keterlaluan! Mbak Dwi memeluku ia menangis tersedu sedu.
"Sama sama mbak aku juga nggak nurut sama Mbak Dwi..
"Mas aku pamit ya.."
"Iya hati hati yaa..kalau sudah sampai kasih kabar..kamu tidak pamit Pak Arman? aku menggeleng.
"Mas aku titip ini aja yaa..tolong sampaikan ke Pak Arman.
"Apa ini dek..? Mas Eko menimang nimang benda yang sudah aku kemas dengan sampul coklat ia penasaran.
"Hp Mas" tolong kembalikan. Baru aku pakai buat foto dan vidio aja.., belum pernah aku sekalipun memberi nomer ke orang lain.." bahkan dia juga belum tau nomerku.
"Terus nanti bagaimana kakak bisa hubungi kamu Las? minta no Om Bambang aja Mas Bapak kayaknya punya nomornya."
"Bapak,Ibu doakan Lastri ya.. semoga Lancar semuanya..Maafkan Lastri ya Pak , Bu selama ini selalu membuat Bapak dan Ibu susah.
"Dek,. Bambang.. aku titip anakku ya..tolong sekolahkan dia hanya itu yang ia cita citakan.
"Tenang Pak dhe Lastri aman di tangan kami.
Aku naik mobil sedan, Uang 3 juta yang tadinya mau aku buat daftar sekolah aku bawa buat bekal .
Selama di dalam mobil om Bambang orangnya pendiam sekali bicara kalau hanya ada perlu.Aku juga hanya diam, aku tidur terlelap di belakang.
"Las bangun... aku mendengar orang yang membangunkanku, aku membuka mataku dimana ini? pikirku. Kita turun dulu Las ,sudah sampai Rest Area. shalat dulu, aku baru sadar kalau aku sedang di jalan Tol.
" Oh iya om..aku turun mengikuti om Bambang.
"Jangan jauh jauh Las nanti kamu hilang..Om Bambang tersenyum..sepanjang jalan tadi aku baru melihat ia tersenyum sekali.
"Hehe iya Om..hanya itu jawabanku. Aku shalat, selesa shalat Om Bambang membelikan aku sebungkus nasi padang, teh hangat dan cemilan. Kami menikmati makanan di dalam mobil aku melirik jam ternyata sudah jam 8 malam.
__ADS_1
Alhamdulillah sudah shalat sudah makan Om Bambang melanjutkan perjalanan.
"Kamu tidur saja Las" paling nanti sampai kira dini hari."
"Baik Om..Aku pun tertidur kembali.
Author PoV
Di Rumah Arman.
Arman membuka kotak pesegi bersampul coklat yang di titipkan Mas Eko tadi siang. Arman baru sempat buka, soalnya siang tadi mengajar anak kelas satu dan dua, baru ujian kenaikan kelas.
Apa ini isinya yaa..setelah di buka isinya hp yang pernah Arman belikan. Apa maksutnya Lastri mengembalikan ini? Arman bermonolog. Arman membuka hpnya Lastri, ternyata aktif .Setelah dinyalakan Arman terkejut Melihat vidio Ibunya yang sedang memaki Lastri. Arman mengepalkan tanganya.
Arman juga melihat Galeri melihat foto foto dia dengan Tantri. Arman menutup mulutnya tidak percaya. Ada hampir 10 foto termasuk Tastri yang sedang menyuapi dirinya.
Kemudian Arman membuka surat yang terselip di dalam Casing.
"Pak Arman... mafkan saya ,saya harus pergi , jujur hatiku tidak Ikhlas meninggalkan Pak Arman. Tapi apa boleh buat ,keadaan yang membuat kita harus berpisah ,Carilah wanita yang sepadan dengan Bapak . Aku belum layak untuk mendampingi bapak . Terimakasih bapak sudah membuat hidupku lebih berwarna , termakasih atas perhatianya ,banyak wanita yang sangat menginginkan Bapak ,tapi justru hati bapak berlabuh di hatiku.Aku merasa tersanjung andai nanti kita kita berjodoh Insyaallah kita akan bertemu. jalanku kedepan masih panjang doakan ya pak semoga aku bisa meraih cita citaku ...I love
You Mas Arman.💘💘💘
Lastri .
Artiii...kemana kamuuu?... huu..uuu.
Arman menangis tergugu, tanganya meninju ninju kasur ia telungkup di atas bantal.
Kenapa harus seperti ini..kenapaa?...huuu..huuu.Arman seperti ayam kehilangan induknya. penyesalan selalu ada di belakang ingin memperbaiki pun sudah tidak bisa. Lastri sudah pergi.
Apa yang harus aku lakukan! apaaa...?
Aku benci semua ini..aku benciii...
***Selamat membaca
Like
__ADS_1
Coment***