
Lastri masih terus berbalas chat dengan Pak Arman, tingkahnya dikasur seperti cacing kepanasan. Tiduran, bangun lagi, duduk, kadang miring kiri, miring kanan. Tertawa sendiri. (Buna jadi ingat masa remaja mendapat surat cinta pertama, dari mantan, tapi mantanya jadi suamiku kok 🤣🤣🤣 )
Lartri; Pak Arman belum ngantuk."
Arman; Sebenarnya sudah ngatuk, tapi aku ingat senyumu terus."
Hihihi Lastri cekikikan sendiri untung di kamar kalau di luar pasti dikira orang gila.
Lastri; Iss, yang benar, bukanya lagi mikir sidia."
Arman; "Iya, dia itu kamu. Kamu yang selalu ada dalam hatiku."
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu."
"Coba kamu ada di sini, temani aku."
Waaa hihihi..Lastri tengkurap di atas kasur. Membaca rayuan Pak Arman, kakinya di angkat ke atas sambil di goyang goyang.
Arman: "Baru tadi siang kita ketemu, tapi aku sudah merindukanmu. Mimpi indah ya!"
Waaa.. hihihi Lastri bangun. Kemudian duduk. Perasaanya membuncah. kali ini Lastri terlentang kembali, kedua lututnya bertaut.
Arman: Sudah malam, kamu bobok besok kan sekolah. Mimpikan aku ya.."
Lastri: Selamat tidur pangeran ganteng, jemput aku dalam mimpimu."
"Terimakasih, aku seneeeng..." bisa ngobrol malam ini untuk pengantar tidurku."
Kemudian Lastri menutup mulutnya. Menenggelamkan mukanya ke dalam bantal. Lastri malu dengan kata katanya barusan, tapi mau bagaimana lagi, mau di hapus sudah terlanjur di baca oleh Pak Arman.
Arman; (Night is a wonderful opportunity. To take a rest, to forgive , to dream, to smile and to get ready for all the battles that you have to fight tomorrow.)
Malam adalah kesempatan yang bagus untuk beristirahat, untuk memaafkan, untuk bermimpi, untuk tersenyum, dan bersiap siap untuk semua pertempuran yang harus di hadapi hari esok , terimakasih wanita cantiku karna kamu mencintaiku sampai sekarang .
"Good night.
"I love you.
Lastri kemudian menutup ponselnya membekap nya dalam dada. Waaa..Pak Arman tulis apa tadi? I love you. Bibirnya tidak henti hentinya tersenyun beberapa menit kemudian Lastri terlelap.
******
Pagi yang cerah, matahari hadir memberi kehangatan, sehangat hati Lastri pagi ini. Setelah membatu simbok memasak Lastri ke atas menyibak gorden jendela di kamarnya. Kemudian ia mandi, memakai seragam putih abu abu, mematut dirinya di depan cermin. Kali ini ia menyemprotkan parvum aroma mawar.
Begitulah Lastri selalu koleksi parvum yang beraroma ringan aroma melati, mawar, dan lavewnder. Dengan langkah semangat ia menuruni tangga.
"Kamu makin cantik saja Tri?" pandangan Mbak Nina tidak berkedip sejak Lastri keluar dari kamar hingga sampai di meja makan. Mbak Nina saat ini sudah rapi hendak berangkat kerja.
__ADS_1
"Hehe, Mbak Nina bisa saja, biasa aja kali mbak." Lastri kemudian duduk di samping Bayu sejak tadi dia terlihat murung.
"Beneran kok, kamu kelihatan seger gitu loh." Puji Mbak Nina.
"Ya iya lah Non, soalnya sudah bertemu sang pangeran." Timpal Narsih yang sedang duduk di sofa sambil menyuapi Yoga.
"Pangeran? pangeran siapa?" tanya Mbak Nina heran, yang ia tau selama ini Lastri tidak mempunya pacar.
Bayu mendengus kesal, kemudian berdiri pergi meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.
Semua yang berada di meja makan saling pandang, Mbak Nina memandangi Lastri seolah ingin bertanya, Lastri hanya menggeleng, menandakan bahwa dirinya tidak tahu. Sebab Mbak Nina tahu selama Lastri di sini Bayu selalu dekat denganya.
Mereka menikmati sarapan bersama, tapi tidak ada bayu di situ. Sebenarnya Mbak Nina penasaran ingin menemui adiknya dan menanyakan apa yang terjadi.
Tapi waktunya sudah siang nanti malam sajalah pikirnya. Pak Dadang, Mbak Nina dan Lastri mereka berangkat menuju tempat masing masing.
Bayu setiaji PoV
Tadi malam setelah pulang dari cafe aku berkunjung ke Rumah Arman, sahabatku.
Kami berbincang bincang dengan Arman tentang kegiatan masing masing sepanjang hari ini.
"Bagaimana pertama kali lo ngajar di kampus?"
Tanya Arman sambil mengotak atik ponselnya.
"Lancar sih, tapi banyak cewek cewek yang centil." Jawabku.
"Gue aja nih, setiap ngajar selalu di godain dari SMP sampai SMK. Mereka nggak segan segan mengutarakan perasaanya. tuturnya sambil senyum dan geleng geleng kepala.
Lalu aku mulai mancing tentang hubunganya dengan Lastri. Sebab saat ini Arman mengajar di sekolah itu, sudah pasti cinta lamanya akan bersemi kembali.
Sebenarnya waktu Dimas mengatakan bahwa Arman mencinyai Lastri, aku masih cukup percaya diri untuk mendapatkan cintanya.
Akan tetapi saat ini aku harus rela melepas Lastri kalau memang mereka saling mencintai. Persahabatan lebih penting dan aku tidak mau persahabatanku dengan Arman akan goyah.
"Lalu, lo sudah bertemu, dengan cewek yang lo taksir waktu SMP." Tanyaku pura pura tidak tahu. Arman belum tau kalau Lastri tinggal dirumah kakakku.
"Sudah, dia makin cantik dan kelihatan lebih dewasa. Tapi sekarang dia makin centil. hehe Jawab Arman.
Tidak lama pelayan mengantarkan minuman dan makanan. Rupanya Arman tadi memesanya. Makanan yà ng di pesan Arman dari lantai bawah. Cafe milik Arman sendiri.
Aku perhatikan dari tadi, Arman senyum semyum sendiri.
Sedang asyik kirim pesan dengan seseorang, hampir satu jam aku di abaikan.
"Gue balik ya Ar, sudah jam sembilan ini." Aku melirik jam di lenganku.
__ADS_1
"Di makan dulu lah, baru pulang! kata Arman . sambil ketik ketik pesan.
"Ah lo aja sibuk gitu, lagi chating siapa sih?" tanyaku penasaran.
Aku menyeruput kopi susu yang di suguhkan Arman. Dan menyantap bolen bandung rasa pisang salah satu menu Cafe ini.
"Pisangnya enak bro." kataku. Aku perhatikan menu Cafe ini yang di tonjolkan serba pisang. Aku jadi ingat Lastri, dia suka sekali jenis olahan pisang.
"Gue perhatiin menu cafe lo, berasal dari olahan pisang ya Ar?" tanyaku menyelilidik.
Arman kemudian meletakan hpnya di atas meja.
"Iya, yang berada di Cafe ini hampir semuanya aku ambil dari wanita yang aku cintai."
"Terinspirasi olehnya, model Cafe ini, minuman dan menu makanan di sini. Ada keterikatanya dengan dia.
"Sampai nama Cafe dan Sorum di bawah. Aku sisipkan Nama dia." Tutur Arman sambil menatap langit langit.
"Lo tau nggak Cafe ini aku beri Nama Arti, Arman dan Lastri. Kata Arman berbinar.
Deg
Mendengar penuturan Arman aku menciut. Ternyata segitu dalam cinta Arman sama Lastri.
Ting...
Ponsel Arman ada pesan masuk, ia membukanya lagi dan mulai ketik ketik.
"Chating siapa sih lo, penasaran gue?" tanyaku.
Ia menunjukan profil Wa milik Lastri.
Deg
Ada rasa iri dalam hatiku. Sedetik kemudian aku beranjak. Pamit pulang.
"Gue cabut dulu Ar." Aku pulang dengan rasa kecewa yang mendalam, beginilah rasanya patah hati. Sakit hatiku luka tak berbekas. Keesokan harinya di Rumah mbak Nina. Ketika aku mau sarapan melihat wajah Lastri berbinar. Mbak Narsih selalu menggodanya, tentang pangeran, siapa lagi kalau bukan Arman.
Rasa laparku langsung menguap, kemudian aku keatas membereskan pakaianku. Pulang ke Pasar Minggu, menghindar dari Lastri untuk sementara waktu akan lebih baik untuk menata hatiku.
***Bersambung
Jangan lupa dukunganya.
Like
Coment.
__ADS_1
*****
Terimakasih readher yang sudah setia dengan karya amatirku, usia Buna saat ini sudah tidak muda lagi, jauh jika di bandingkan dengan karya anak muda saat ini. Tapi yang buat Buna semangat ada yang tidak bosan membaca dari part awal hingga saat ini 💕💪💪💪***