
Kita nengok dulu keriwehan kakak beradik siapa lagi kalau bukan Dimas dan Dina. Meskipun saling menjahili tapi mereka saling menyayangi.
"Kaaak..." cepetaaan," Dina memanggil kakaknya yang masih di lantai dua.
"Kakaaak sudah siang nih..."Dina menata sarapan pagi di meja makan.
Sebenarnya Dimas dan Dina mempunyai ART tapi datang jam 8 dan pulang bila sudah selesai.
"Heeeh! Teriak teriak sih lo" berisik tau!" macam di hutan aja. Dimas menatap adiknya dengan tajam.
"Tap tap tap..Dimas tampak terburu buru menuruni anak tangga.
"Lagian kakak lama banget, sudah siang tau!" Dina menatap balik kakaknya denagan kesal.
Adimas mengelola 3 bengkel ayahnya di kota Y .
Tapi tepatnya hanya memantau sebab sudah ada tangan kananya yang fokus mengelola.
Disamping itu Dimas melanjutkan S2 di kampus ternama di kota Y.
Sebelum berangkat Dimas selalu mengantarkan adiknya terlebih dahulu ke sekolah.
"Kak Dimas."
Paan? Jawab Dimas.
Tadi malam kak Dimas habis dari mana?"
Kayaknya seneeeng gitu." Dia heran kenapa kok tumben kakaknya sampai sebahagia itu.
°Darimana lo tau?! gue sampe, lo sudah molor kok."
Flashback on
Tadi malam Dimas pulang habis mengantarkan Lastri.
Ceklek..
Na na na
La la la
Du du du
Dimas bersenandung, tangan kanannya di goyang goyangkan keatas, berputar balik, kemudian bergoyang lagi sambil memutar badanya.
Dimas melangkah menaiki tangga bak aktor india yang sedang kasmaran.
Sementara Dina bersembunyi di balik tangga menahan tawanya.
Selesai mandi ganti baju Dimas menjatuhkan badanya di kasur, dengan rasa bahagia yang membuncah. Mungkin karna cape juga Dimas langsung terlelap.
Sementara Dina naik keatas niat hati ingin memanggil kakaknya untuk makan malam.
Uaum..Uauummm...Dimas memonyongkan bibirnya, mencium cium guling dalam pelukanya.
"Hahaha... Dina tertawa menutup mulutnya berlari kebawah. Heem ada bahan nih, buat godain kakak besok pagi, Dina mengambil ponselnya dan merekam apa yang di lakukan kakaknya.
Dina Akhirnya tidur juga melewatkan makan malam.
__ADS_1
Flashback off
Pagi harinya.
"Kak, aku kenalin dong" sama pacar kakak."
"Dina masih penasaran sama kelakuan kakanya tadi malam.
"Keppo sih lo"
Tapi nanti kalau lo kenal sama dia, pasti seneng. Dimas tersenyum mengembang mengingat tadi malam bisa mengantar Lastri pulang ke rumah.
"Woy!" kakak, cek cek cek." Dina berdecak heran, kakaknya memang benar benar bucin saat ini.
"Jadi tambah penasaran aku, siapa sih yang sudah nyuri hati kakakku?"
"Teman kulih atau teman kerja kak?" Dimas hanya diam saja mendengarkan adiknya nerocos.
Dina penasaran sebab Ia belum pernah lihat kakanya punya pacar.
"Menurut lo kalau kakak punya pacar cocoknya yang seperti apa?" Tanya Dimas.
Dimas menatap adiknya yang sedang menyuap nasi goreng.
"Ihh..Mana aku tahu!" Dina mengakat kedua bahunya keatas.
"Selera orang kan beda beda kak, kalau menurut aku sih, Orangnya baik, sopan ,anggun cantik pastilah," Dan yang penting, sayang sama aku dan gak pelit kaya kakak.
Dimas menoyor kepala adiknya, Enak aja lo! memang selama ini gue pelit apa?
"Okay.. "Kakak ku yang ganteng baik hati, tidak sombong dan tidak pelit."
"Mana sekarang uang jajanya..." Jangan pelit ya!!"
Iihh..."Sakit tahu kak".
Dimas merogoh kantong dan memberikan uang 20 ribu kepada adiknya.
"Dikit amat kak."
"Ya udah kalau gak mau," Dimas memasukkan uang kedalam kantongnya kembali.
Dina merogoh ponselnya dari saku sambil senyum senyum melirik Dimas.
"Apa lo senyum senyum?"
Dimas heran lihat adiknya senyum - senyum sendiri.
"Nih kak, aku punya sesuatu" mau lihat gak?!
Dimas berdiri mendekati sang adik. "Apaan tuh!
Dina menyalakan vidio sambil tertawa terbahak bahak. hahaha.
"Iihh " sialan lo mana ponselnya!"
"Hahaha... muach muach, Dina memperagakan Dimas seperti orang ciuman.
Dimas kelabakan melihat vidio dia yang lagi mesun dalam mimpinya.
__ADS_1
"Iiihh... sialan lo mana ponselnya?! Seru Dimas.
Dimas mengejar adiknya. Dina berlari memutari meja makan. Sehingga terjadi kejar kejaran seperti laga India. kwkwkwk.🤣🤣🤣
"Kasiih gak! ponselnya," Dimas ingin merebut ponselnya Dina.
" Eh tunggu dulu kak, sabaar..."Kalau gak mau vidio ini aku kirim ke Mamah ada saratnya."Dina tertawa penuh kemenangan.
"Halaaah lo, palingan saratnya uang kan !
Berapa?" Cepetan sebutin".
Dimas ingin cepet cepet hapus vidio itu sebab adiknya tidak akan main main. Dimas tau kalau adiknya sudah mengancam, pasti benar - benar akan membuktikan ancamanya.
Dimas kesal, mengacak acak rambut Dina yang belum sempat menyematkan kerudungnya.
"200 ribu kak," Dina menjentik njentikan jari dan jempolnya. Dimas hanya bisa menghela napas panjang. Ia kesal kenapa sih adiknya masuk kamar sampai dia tidak tau.
"Dasar mata duwitan lo" Dimas maju memiting leher adiknya, mereka berdua bergulat padahal Dimas sudah rapi dengan kemeja setelanya.
Saking kesalnya, tangan Dimas merogoh kaos kakinya yang belum sempat ia pakai dan di gosokan ke hidung adiknya 🤣.
"Hueeek..."Kak Dimaaas... "Bau tahu! Dina mundur dan menghentakan kakinya.
"Hahaha akhirnya gue dapat" makanya jangan main main lo" sama gue," Sampai ngancem lagi, kaya preman jalanan. Hahaha Dimas tertawa puas. Dimas kemudian menghapus vidio dan meletakan ponsel adiknya diatas meja makan.
Ayo mau berangkat gak nih, nanti telat lo."
Dina hanya diam bersungut sungut.
Dimas melenggang keluar meninggalkan Dina yang masih kesal dengan kakaknya. Bagaimana gak kesal sudah gak dapat 200 ribu malah yang ia dapat kaos kaki bau.🤣🤣🤣
Dina baru sadar kalau kakaknya sudah starter mobilnya. Ia berlari keluar terengah engah.
"Kakaaak,..tungguin."
Mereka akhirnya berangkat meskipun drama yang menyebalkan tadi. Dimas memberikan uang 200 ribu.
"Waah...."Terimakasih kakakku..."Yang ganteng dan tidak pelit." Dina wajahnya berseri - seri.
"Heh, jangan seneng dulu."Untuk seminggu itu."
"Yaah kakak" pelit bener sih, sama adik sendiri". "Ok lah kalau gitu aku tinggal telpon Mama minta di kirimi."
"Heh, harusnya kamu tuh bersyukur, masih bisa jajan, bukanya kamu pernah cerita, katanya temen kamu siapa tuh?" Yang suka kesekolah sambil jualan kue?" Itu harusnya bisa lo jadikan contoh Din." Tidak semua orang bisa mendapatkan uang dengan mudah." Malah kamu juga pernah bilang mau bayar SPP sampai tidak mampu.
Dimas memberikan nasehat adiknya panjang lebar. Dimas meskipun slengean, tapi dia juga tau saatnya kapan harus serius. Biar bagaimana adiknya adalah tanggung jawabnya dan harus mengingatkan kalau sekiranya tidak benar.
Dina berpikir, benar juga apa yang di bilang kakaknya. Ia sekolah bukan di kalangan elit. masih banyak orang yang kekurangan hanya sekedar untuk makan.
Sedangkan dirinya bisa dengan mudah mendaptkan uang dari ortunya maupun kakaknya.
Walaupun Dina juga sering menyisihkan uang jajan untuk di sumbangkan tapi belum cukup untuk membantu mereka.
Hayoo tanya serius nih,?..siapa yang suka jail sama adiknya..☝️☝️☝️
**Jangan lupa hadiah
Like
__ADS_1
Coment
Vote**