
Irine memandang gusar sekitarnya, setelah dari ruangan Presdirnya dan Ia sangat bersyukur karena Sekertaris Presdir yang tadi ada kini tidak ada, dia hanya tak ingin orang-orang menatapnya aneh.
Dengan cepat Irine berlari kembali menuruni anak tangga, hatinya menjadi sedikit terguncang setelah kejadian tadi. Emosi yang telah lama Ia pendam seketika memuncak, menimbulkan amarah pada dirinya.
Pria itu dengan brengseknya mencium dirinya, mungkin terdengar berlebihan karena dia hanya mencium pipinya saja. Tapi bagi seorang Irine ciuman itu yang pertama untuknya, meski dunia ini sudah terbilang sangat modern dan hal seperti itu memang sudah biasa dan dianggap wajar tapi tidak dengan dirinya. Ini benar-benar melukai harga dirinya sebagai seorang wanita dan lagi pria itu seenaknya menggertak dirinya seakan Ia mengenalinya yang baru pertama bertemu.
"Dasar Psiko!" Desis Irine. Hari-harinya di kantor mulai tak nyaman, banyak yang membuatnya kesal dan dongkol sepanjang hari.
Drrtt.. Drtt..
Irine menatap lengannya saat handphonenya berbunyi, memecahkan kekalutannya. Ia segera melihat benda pipih itu, di layar handphone nya tertera nama teman kerjanya yang saat ini tengah melakukan pembuatan rencana bersama.
"Hallo," sapa Irine dengan nada suara senormal mungkin, Ia tak ingin orang sekitarnya akan mengkhawatirkan dirinya.
"Kau baru mengangkat telpon mu?" Tanya seseorang diseberang telpon. "Kau tau. Sudah berapa kali aku menelpon mu, tak ada satu panggilan yang kau terima pagi ini," cerca orang itu kepada Irine tanpa mengijinkan Irine barang sedikitpun untuk menejelaskan.
"Kau gila apa, membiarkan aku menyelesaikan pekerjaan ini seorang diri?"
Irine memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut, sudah masalah dengan Pak Bagas, Presdir dan sekarang teman kantor nya malah mengomeli dirinya.
"Sorry yah Lana, tadi aku disuruh untuk menemui Presdir. Aku akan membantumu menyelesaikannya, taruh saja di meja. Aku sedang di toilet saat ini." Ucap Irine memberi alasan.
"Baiklah, aku akan menaruh berkasnya di mejamu. Jangan lupa besok akan diberikan pada Direktur." ucap Lana memperingati Irine untuk segera menyelesaikan berkasnya.
Irine menghela nafasnya dalam, setelah panggilan itu di matikan. Ia tahu semenjak beberapa hari ini urusan kantor benar-benar membuatnya frustasi setengah mati. Bahkan dirinya harus mengambil cuti kuliah lagi, demi membiayai Ibu dan adiknya.
"Hari ini aku harus lembur lagi." Desah Irine. Dengan langkah gontai dia kembali menuruni anak tangga.
"Kau harus sabar Irine, semangat!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
"Irine." Panggil Stefi. "Kok turun dari tangga darurat?" tanya Stefi terkejut.
"Akh, yah kau lihat lift tengah di perbaiki." Tunjuk Irine kearah lift yang tak jauh dari mereka berdiri. Entah kenapa, pada situasi sulit seperti ini selalu muncul Stefi.
__ADS_1
"Di perbaiki?" Stefi memiringkan kepalanya, melihat ke arah pintu lift yang sepertinya baik-baik saja. Karena baru saja dia melihat beberapa karyawan lain yang keluar masuk dari lift. "Sepertinya tidak Rin."
Irine menolehkan wajahnya, mengikuti arah pandanga Stefi ke arah lift. Dan benar saja, ada orang yang baru saja keluar dari lift itu.
"Sial." celetuk Irine langsung, padahal dia harus cape-cape naik turun tangga hanya untuk menemui Presdir Mesum itu.
Stefi menatap Irine kasihan. "Sudahlah hitung-hitung olahraga. Sebaiknya kita cus ke kantin, sekarang sudah jam istirahat." Ajak Stefi dengan wajah sumringah.
"Sebentar, aku ingin melihat berkas yang diberikan Lana padaku." ucap Irine berjalan menghampiri mejanya, Stefi ikut mengekori Irine dari belakang.
"Okay. Jangan lama-lama, aku udh laper nih, butuh asupan," seru Stefi.
"Wah, dia benar-benar telah menyelesaikan bagian ini. Pantas saja dia terlihat marah saat menelpon tadi." Gumam Irine melihat berkas yang telah dikerjakan oleh Lana, kemudian Irine merapikan berkas itu dan menaruhnya di laci meja kerja nya. "Ayo Stef ke Kantin."
Dengan riang Stefi menghampiri Irine. "Ayo, sebelum makanan enaknya habis oleh karyawan lain." Bisik Stefi di telinga Irine.
Irine memutar bola matanya jengah, sahabatnya satu nya ini jika urusan makan dan pria tampan dia adalah number one.
Stefi menggandeng lengan Irine menuju ke kantin perusahaan yang letaknya tak jauh dari ruangan sekitar mereka, cukup menuruni satu kali lift.
"Bagaimana apanya sih?" Tanya Irine balik. Nada suaranya terdengar tak senang ketika Stefi bertanya mengenai hal itu, karena membuatnya harus mengingat kejadian tadi.
"Ya bagaimana, kamu kan tahu Presdir itu benar-benar tampan. Terus uekh, dia keren banget. Pasti dia baik kan?" Todong Stefi dengan penuh pertanyaan, membuat Irine dibuat pusing kepala.
"Ya ya terserah dirimu deh, yang pasti aku melihatnya tidak seperti itu,"
ucap Irine menyangkal perkataan Stefi dengan suara santainya.
"Hah? Serius? Kau mah memang aneh matanya, Presdir yang tampan itu saja kau sebut biasa aja. Oh Tuhan, seperti apa sebenarnya pria tampan menurutmu Irine." celetoh Stefi tak henti, hingga suara lift berdenting.
Ting!
Suara lift terbuka. Dengan cepat Irine berjalan meninggalkan Stefi yang masih berbicara di belakangnya. Syukurlah, setidaknya Irine bisa selamat dari berbagai pertanyaan Stefi lagi. Meski Ia tak yakin dengan itu, karena pasti di Kantin Ia akan terus mengoceh lagi.
__ADS_1
"Irine, tungguin aku dong!" Teriak Stefi yang ditinggal olehnya.
"Buruan!" Ujar Irine, mengabaikan teriakan Stefi.
Saat tiba di Kantin Kantor, suasana di sini cukup lenggang tidak seperti biasanya. Namun, Irine malah mensyukuri nya karena dengan itu Ia bisa sedikit bernafas lega menghirup udara.
"Stef, cepetan. Kamu pesen apa aja sih, gak usah banyak-banyak nanti gak habis loh," perintah Irine pada Stefi yang terlihat masih sibuk memilah-milah makanan. "Ya udah, aku duluan duduk di sana yah," ucap Irine, sambil melangkah membawa nampan makanannya.
Irine memilih makan di sudut ruangan yang sepi dari kerumunan, Ia menaruh nampan itu di atas meja dan langsung duduk. Melihat sekitar, akh seandainya kantin selalu lenggang kaya gini mungin Ia akan rajin ke kantin. Sepi membuatnya merasa tenang, tanpa kebisingan.
"Irine. Kamu jauh banget sih tempat duduknya, padahal di sana masih banyak yang kosong loh," ujar Stefi lagi-lagi datang dengan omelnya.
"Sudah-sudah, sini duduk dan makan," Irine, menepuk tempat duduk di sebelahnya, dia sedikit bergeser mempersilahkan Stefi duduk.
"Wah, kamu benar-benar sedang diet yah. Makanan kamu sedikit sekali," gumam Stefi menatap makanan Irine yang hanya beberapa saja.
"Tidak juga. Aku hanya lagi tak ingin makan yang berat-berat." kilah Irine.
Stefi tak lagi menanggapi Irine, Ia langsung sibuk dengan makanannya yang setumpuk itu. Irine pikir temannya ini benar-benar kalap, makanan sebegitu banyaknya.
"Nafas yah Stef makannya, awas loh kalo lupa nafas." sindir Irine mengunyah makannya.
Stefi tak tertarik dengan ucapan Irine, dia lebih tertarik dengan makanan yang berada di depannya. "Akh, juru masak di kantin kantor benar-benar nikmat dibandingkan dengan masakan warung depan Kosan." celetuk Stefi membuat Irine yang tengah makan tersedak.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Mendengar ucapan Stefi, membuat dirinya terbatuk-batuk.
"Astaga Rin, makan tuh hati-hati dong. Makanya jangan kalap makannya yah." Ucap Stefi tersenyum menampilkan semua giginya, sambil menepuk-nepuk pundak Irine.
"Sebaiknya aku tak berteman dengannya lagi." gumam Irine dengan suara pelan.
"Sudah nih minum, nanti tersedak lagi." Stefi menyodorkan gelas minum pada Irine.
Irine menerima gelas yang diberikan Stefi.
__ADS_1
"Terimakasih, setidaknya kau cukup membantu." Ucap Irine menekan suaranya sambil menatap tajam ke arah Stefi, kedua matanya seakan berbicara 'Aku akan membalas mu nanti' hal itu membuat Stefi bergidik ngeri dengan sahabatnya ini.