
Mengetahui Pasien yang tengah berbaring itu adalah Kaka nya yang selama ini hilang, Irine langsung berhambur memeluk tubuh itu.
"Ka..." Irine menggenggam lengan saudaranya dengan erat, seakan tak mau lagi melepaskannya. "I-ni seperti mimpi untukku, benar-benar nyata." Tangis Irine penuh haru, ini yang ditunggu-tunggu oleh Ibunya. Selama bertahun-tahun, bersabar dan tetap percaya bahwa keajaiban itu akan datang agar Ibu nya bisa tersenyum lagi.
Dokter Cleo menatap haru, "Jadi benar ini adalah Kakak kalian?" tanya Nya.
Irine menolehkan wajahnya ke arah Dokter Cleo. "A-pa maksud Dokter?" tanya Irine terlihat bingung. "Dia jelas-jelas Kaka kami." ucapnya penuh emosi.
"Tenang Ka, Dokter Cleo akan menjelaskan semuanya." timpal Candra, sambil mengusap bahu Kakanya Irine.
"Benar Rin, kamu tenang dulu." sahut Indah ikut menimpali.
"Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan." ucap Dokter Cleo, menatap serius pada Irine.
Irine menghapus sisa-sia air mata di kedua pipinya dan menganggukkan kepalanya. "Maafkan ketidak sopanan saya Dokter." Ucap Irine karena dia tadi menggunakan suara yang tinggi.
Dokter Cleo menganggukkan kepalanya tersenyum. "Saat ini, pasien tengah Istirahat. Sebaiknya kita berbicara di luar saja Nona Irine." ajak Dokter Cleo.
Irine sekilas melihat Kaka nya, kemudian menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah."
"Mari." ajak Dokter Cleo.
"Tolong jaga Ka Lala Can." pinta Irine pada sang adik.
"Baik Ka, Kaka tidak perlu khawatir." ujar Candra.
"Ayo Rin, biar aku temani." Ajak Dokter Indah membantu Irine berjalan sambil membawa infus milik Irine.
__ADS_1
Irine dan Indah pun keluar menyusul Dokter Cleo. Entahlah, Irine masih terkejut dengan kejadian hari ini. Dia tak menyangka akan menemukan Kaka nya setelah sekian tahun keluarganya mencari.
Pasti Ibu nya akan senang mendengar kabar ini dan akan bersikap baik lagi padanya. Semoga saja. Batin Irine.
...**********...
Clek.
Pintu itu dibuka oleh Dokter Cleo, kemudian Ia mempersilahkan Irine dan juga Dokter Indah untuk masuk ke dalam di mana ruangannya.
"Silahkan Irine, maaf ruanganku terlalu sempit." Ucap Dokter Cleo mempersilahkan Irine untuk duduk.
"Terimakasih Dok, ini tidak seberapa dengan kantorku yang juga sempit." Jawab Irine, mengingat bagiamana ruangannya yang super sempet karena banyaknya tumpukan berkas yang tergeletak di mana-mana ulah Bosnya.
Ah, jika mengingat pria itu Ia merasa bersalah soal kejadian tadi. Entahlah, Ia hanya merasa bingung saja harus apa? dia khawatir terbawa suasana dan jatuh ke dalam perasaannya sendiri.
"Ah, maafkan saya Dok. Saya jadi melamun, hehehe." Ujar Irine sambil terkekeh, dia merasa konyol dihadapan Dokter Cleo dan Sahabat nya.
"Tidak apa, santai saja." sahut Dokter Cleo.
"Dokter, aku cukup terkejut dengan situasi hari ini. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mengetahui bahwa Kaka yang sudah lama menghilang ternyata ada di rumah sakit tempat sahabatku bertugas." ucap Irine penuh haru.
"Dia adalah pasien yang aku ceritakan saat itu, Rin." seru Dokter Indah memberitahu Irine.
"Wah benarkah?" tanya Irine terkejut. "J-adi selama ini Dokter Cleo yang telah menolong Kakaku?" Irine tak menelen ludahnya tak habis pikir jika Kakaknya lah yang diceritakan oleh Indah selama ini.
"Bahkan semua Dokter hampir menyerah dan hanya Dokter Cleo saja yang mau menolongnya. Saya merasa sangat berhutang Budi dengan apa yang dilakukan Dokter Cleo pada Kaka saya." Sambung Irine.
__ADS_1
"Kau sangat berlebihan, ini semua adalah pekerjaan dan tanggung jawab saya sebagai Dokter." Ucap Dokter Cleo dengan bijak dan penuh rendah hati.
Irine menatap Dokter Cleo tak percaya, beliau benar-benar Dokter yang luar biasa.
"Tapi Irene, meskipun Kakak mu sudah sadar dari Komanya. Dia tidak bisa pulih seperti sediakala lagi." jelas Dokter Cleo.
Deg.
Perkataan Dokternya membuat hatinya tersayat, setelah dinaikkan ke tingkat tertinggi sekarang malah dihempaskan ke jurang yang tak berdasar.
"Kau tak perlu khawatir, aku akan membantumu dengan usahaku. Kau tau itu, kalo aku dokter yang hebat bukan?" Hibur sang Dokter, mencoba tak membuat Irine risau ataupun cemas dengan situasi saat ini.
"Ba-gaimana aku bisa tetap tenang? Bahkan aku tidak bisa paham dengan perkataanmu Dokter." Sahut Irine dengan suara nya yang tergagap. kata-kata Sanga Dokter sama sekali tak membuatnya tenang. Ia malah bertambah cemas.
"Begini, sudah hampir 3 atau bisa dibilang 4 tahun terbaring di tempat tidurnya. Jelas Ia tidak akan secepat itu kembali normal, Ia harus banyak melakukan terapi karena syaraf-syaraf ditubuhnya ikut tertidur saat Ia koma. Harus melakukan banyak pemulihan baik mental dan fisiknya, dari nol lagi. Seperti kita mengajarkan anak kecil berjalan, berlari dan beradaptasi kembali dengan kehidupan saat ini." Jelas Dokter Cleo pada Irine.
"Jadi saya meminta kamu terus menjaga pola pikir Kakak mu menjadi positif agar Ia tak banyak berpikir keras, sehingga mengganggu kerja otaknya. Selain itu, dia tengah mengalami amnesia."
"Amnesia?" Tanya Irine semakin terkejut.
"Benar. Irine, Kakak mu bahkan tak mengenali Candra. Seandainya kalo aku tahu itu kakak mu mungkin sedari lama aku akan memberitahu dirimu." timpal Dokter Indah. "Tapi sayang nya saat dia terbangun dari komanya, Kakak mu tidak mengenali dirinya sendiri dan identitas Kakak pun saat kecelakaan tak ditemukan. Untuk itu, Dokter Cleo memberi namanya Putri."
"A-ku mengerti, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang untuk Kaka? A-ku bingung dan otakku tak bisa berpikir jernih." Jawab Irine.
Ia termenung, meski Tuhan memberikan keajaiban itu pada mereka. Ternyata mereka juga harus melalui situasi yang baru lagi dan mereka harus bersabar.
"Tenanglah Irine, ada aku di sini dan ada Dokter Indah juga yang akan siap membantumu. Kau tak perlu takut karena sendiri, kau lihat Dokter Indah bahkan sangat peduli pada Kakak Mu. Jadi kau tak perlu mencemaskan semuanya, karena kami akan ada untuk kalian." Ucap Dokter Cleo menenangkan Irine.
__ADS_1
Irine yang mendapati kata-kata seperti itu hatinya mulai tenang, dia senang Kaka nya bertemu dengan orang baik seperti Dokter Cleo dan juga Dokter Indah.