Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 18


__ADS_3

Sejak tadi Irine merasa kikuk berada di ruangan hanya berdua dengan Presdir nya saja dan lagi sejak beberapa saat lalu pria itu hanya diam saja, membuatnya semakin gugup.


"Pre ....


"Irine...


Ucap keduanya bersamaan, membuat suasana ruangan itu semakin canggung.


"Ah, maafkan saya. Silahkan Presdir ingin mengatakan apa." Ucap Irine, merasa tak enak hati.


"Saya ingin Anda menjadi sekertaris saya!" ujar Kimtan dengan suara nya yang lantang.


"Ah?" Irene menatap Presdir nya dengan wajah yang terkejut.


"Mulai besok, bagaimana?" Tanya Kimtan kembali, padahal wanita di depannya belum memberikan persetujuan atau penolakan tapi pria itu tetap saja seperti menekan lawan bicaranya.


"Begini Presedir ....."


"Kimtan. Panggil saya Kimtan." Ucap Kimtan, memotong ucapan Irine.


"Eh? Tapi itu tidak sopan, hanya memanggil nama Anda saja." gumam Irine dengan suara pelan.


"K-I-M-T-A-N." seru Kimtan mengeja namanya dengan jelas.


Irine menggaruk dahinya bukan karena gatal, tapi itu gerakan otomatis ketika wanita itu berada dalam kebingungan.


"Mh, baiklah Ki-mtan." ucap Irine sedikit ragu.


"Bagaimana, kau mau kan dengan penawaran saya?" tanya Kimtan kembali, kedua matanya menatap wanita di depannya penuh harap.


"Saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya sekarang, jadi saya tidak mungkin untuk menjadi sekertaris Anda lagi." Ucap Irine, mencoba menolak pekerjaan sebagai Sekertaris yang diberikan oleh atasannya secara halus.


"Aku tidak suka penolakan, Irine!" Ucap Kimtan dengan tegas, membuat wanita itu menatap sendu ke arah atasannya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan Saya saat ini? Bukankah tidak baik jika Saya meninggalkannya begitu saja." Ujar Irine mencoba memberikan alasan, agar Pria di depannya mengerti dengan penolakannya.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya, jadi kau tidak perlu khawatir lagi masalah pekerjaan sebelumnya karena semuanya saya yang akan mengatur. Kau hanya perlu datang ke kantor besok, jadi Sekertaris pribadi saya." Jelas Kimtan pada Irine.


"Sepertinya tidak mungkin." Tolak Irine kembali. "Pasti yang akan menggantikan pekerjaan saya akan merasa bingung, Anda pasti mengerti pekerjaan Saya tidak mudah dan banyak sekali yang harus diurus." Irine tak mau mengalah begitu saja, alesan-alesan lainnya tetap Ia katakan guna menunda atasannya menjadikan dirinya sekertaris pribadi entah kenapa dia belum siap.


"Apa kau kurang jelas dengan kata-kata saya sebelumnya?" Kimtan memandang wajah Irine yang juga menatapnya. "S-E-M-U-A-N-Y-A S-U-D-A-H D-I-A-T-U-R, okey?"  ucapnya penuh penekanan.


"Ah baiklah." Jawab Irine singkat, mau bagaimana lagi? Sudah berbagai alasan diberikan, tapi atasannya ini benar-benar keras kepala dengan kemauannya. Sepertinya memang atasannya telah merencanakan semua sebelum dia datang kemari, buktinya saja Ia sudah mencari penggantinya secepat itu.


"Apakah Anda ke sini hanya untuk itu?" Tanya Irine mengingat kembali topik apa yang ingin Ia bicarakan.


"Tidak. Yang paling saya inginkan yaitu bertemu denganmu, Irine." Ucap Kimtan dengan wajah serius.


Deg.


Jantungnya kembali berdetak, tapi tidak seperti biasa. Ini baru dua jam Ia berbicara dengan atasannya, bagiamana jadinya jika Ia menjadi sekretarisnya dan selalu bercengkrama dengannya. Mungkin jantungnya akan mendapatkan masalah, pekik Irine dalam hatinya.


"K-au mengusir atasanmu yang tengah berkunjung?" Tanya Kimtan sulit dipercaya, tak lupa pria itu juga memasang wajah sendunya.


"B-ukan seperti itu." Sanggah Irine cepat. "Adikku sebentar lagi akan pulang, jadi sebaiknya Anda segera pulang saja." ucap Irine dengan cepat, dia jadi tak enak juga melihat ekspresi wajah Atasannya yang murung seperti itu.


Dan benar saja, belum juga mulut Irine mengatup. Suara Candra sudah terdengar dari arah luar.


"Kaka, apa di rumah ada tamu?" Tanya Candra yang baru masuk saat melihat sepatu pria.


Irine langsung menghampiri Candra. "Kau sudah pulang? Sebaiknya kau segera mandi dan ganti baju!"Perintah Irine dengan cepat tanpa membiarkan Candra untuk menyapa tamunya.


"Baiklah. Tapi kak ...." Candra menolehkan wajahnya ke arah sang kakak. "Apa kau sudah makan siang? Maaf karena pulang terlambat." Candra mendekat ke Kakanya dan memegang kening Kakanya. "Syukurlah, sudah turun demamnya." ujarnya sambil tersenyum.


"Ah Iyah." Irine menyingkirkan lengan Candra. "Sudah sana mandi, setelah itu istirahat." Irine mendorong tubuh Candra untuk masuk ke kamar.


"Kau belum makan?" Tanya Kimtan yang mencuri dengar pembicaraan Irine dan adiknya.

__ADS_1


"Ah yah, begitulah." jawab Irine gugup.


"Kaka, dia siapa? Apa dia kekasih Kaka?" tanya Candra yang baru menyadari kehadiran pria selain dirinya.


"Aish, anak ini. Kenapa mengatakan hal konyol seperti itu, sebaiknya kau segera masuk ke kamar mu." Usir Irine, dia sedikit menepuk punggung adiknya berharap sang adik peka dan segera pergi.


"Hn, baiklah-baiklah aku akan masuk ke kamar." Ujar Candra sekilas melirik ke arah pria asing itu.


"Maafkan atas perilaku adik Saya, Tuan." ucap Irine sangat menyesal.


"Tidak apa, dia cukup menggemaskan." timpal Kimtan sambil terkekeh.


Irine tercengang, baru kali ini dia melihat atasannya tertawa. Padahal sejak tadi, ekspresi sangat minim sekali.


"Jika kau belum makan, biar aku masakan untukmu." Tawar Kimtan pada Irine.


Irine mengibaskan tangannya dengan cepat. "Ti-dak-tidak, saya akan memasak na-nti. Anda pulang saja, Presdir ah maksud Saya Kimtan!" Ujar Irine kembali menyuruh Kimtan untuk pergi dari Kosan nya.


"Kau sering sekali menyuruhku pergi, apa kau merasa tak nyaman dengan kehadiranku di Kosan mu?" Tanya Kimtan dengan mimik wajah dibuat sendu kembali, sepertinya dia pintar membuat ekspresi seperti itu.


Melihat itu Irine menjadi tak tega lagi. "Baiklah, nikmati waktu 'Anda di Kosan saya." ucap Irine dengan penekanan, dia menyerah dengan usahanya menyuruh pria ini untuk segera pulang.


"Oke baiklah, aku akan membuatkan kalian makanan yang spesial." Seru Kimtan menggulung lengan bajunya, lalu kaki nya melangkah menuju ke arah dapur.


Sedang Irine mengikutinya dari belakang. 'Sebenarnya apa yang ingin pria ini lakukan?' Batin Irine.


"Apakah tidak merepotkan Anda?" Tanya Irine sedikit gelagapan.


"Kau duduk saja, aku yang akan memasak." Ucap Kimtan membuka kulkas milik Irine, dia berpikir mau memasak apa sambil melihat-lihat isi kulkas.


"Bagaiman kalo nasi goreng ati ampela?" Ucap Kimtan menatap kearah Irine yang tengah duduk cantik di meja makan, yang jaraknya tak jauh dari Kimtan.


"Hm, baiklah. Apapun itu, aku suka." Jawab Irine asal, sejujurnya dia sedikit tak yakin jika pria itu bisa memasak. Tapi, apa boleh buat dia bersikeras jadi Irine membiarkannya untuk kali ini.

__ADS_1


__ADS_2