Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 14


__ADS_3

Kimtan merogoh handphone miliknya yang berada di saku celana, lalu mengetikkan nomor pada benda pipih itu dan langsung menghubungi nomor tersebut, tak lama kemudian panggilan itu tersambung.


"Halo Nona Intan. " Ucap Kimtan setelah telepon itu tersambung.


"Siapa?" Ucap Intan yang terlihat bingung.


"Apakah kau sibuk? Aku ingin bertemu denganmu" Ucap Kimtan dengan suara pelan dan terdengar pada intinya, mengabaikan pertanyaan kebingungan yang dilontarkan oleh Intan.


Beberapa menit tak ada jawaban dari lawan bicaranya- Intan. Cukup lama dirinya terdiam, setelah mendengar suara lawan bicaranya yang semakin jelas. Ia menjadi tahu siapa orang yang menghubunginya, tapi darimana ia mendapatkan nomor ponselnya.


"Kau Kimtan. Ada apa meneleponku?" Tanya Intan, setelah beberapa detik diam menerka-nerka siapa yang menelponnya dengan tidak sopan seperti ini.


Kimtan tersenyum sinis. "Ada hal yang ingin aku katakan padamu, sebelum kau datang ke rumahku untuk makan bersama kedua orang tuaku." Jelas Kimtan dengan nada suara dinginnya.


Intan terdiam, nada yang tak bersahabat ini Intan sangat mengetahui maksud dari perkataan lawan bicaranya. "Di mana? Di mana kita bisa bertemu?" Tanya Intan pada akhirnya.


Kimtan menghela nafasnya pelan, "Bagus. Kita akan bertemu di Cafe Late, aku tunggu sekarang." Jelas Kimtan. Setelah mengatakan niatnya itu, pria itu segera memutuskan sambungan itu secara sepihak.


"Pergi ke Cafe Late." Perintah Kimtan pada Supirnya.


"Baik Tuan." Supir itu langsung membelokkan  arah mobilnya ke cafe Late yang Tuan nya perintahkan, Ia melajukan mobilnya dengan cukup cepat.


Kimtan menatap jalanan itu, otaknya Kembali mengingat pertemuannya dengan gadis itu. Membuatnya ingin bertemu gadis yang dia temui itu kembali, entah siapa sebenarnya gadis itu. Kimtan merasa tak peduli karena ia sungguh merindukan kekasihnya.


Dengan melihat wajah gadis itu, membuatnya merasa tenang dan memiliki harapan baru untuk hidupnya.


...****************...


"Sorry. Apa kau menunggu lama?" Tanya Intan yang baru saja datang.


Kimtan menggelengkan kepalanya. "Silahkan duduk." ujarnya, langsung mempersilahkan gadis itu untuk duduk.


"Terimakasih." Ucap Intan, dia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di depan Kimtan.


"Sebenarnya kau bertemu denganku ada urusan apa?" Tanya Intan tanpa berbasa-basi lagi, gadis ini langsung menanyakan 'inti' dari pertemuan mereka pada pria di hadapannya yang masih sibuk memainkan ponsel miliknya.


"Santai saja Nona Intan, sebaiknya kau pesan dulu makanan. Menu di sini saya jamin rasanya benar-benar enak." Kimtan menyodorkan buku menu makanan pada Intan.


Gadis itu menatap Kimtan, kemudian mengambil buku menunya dengan sedikit kasar. "Baiklah." Timpalnya dengan sinis.


"Aku tahu kita akan dijodohkan." Ucap Kimtan tiba-tiba, "Dan aku tidak menyetujuinya, aku harap Nona pun demikian." sambung nya.


"......" Intan cukup lama terdiam, dia tak mengerti maksud dari ucapan Pria di hadapannya. Kenapa dia menolak untuk di jodohkan dengan nya?


"Aku tak ingin berbagi hati dengan orang lain." Ucap Kimtan, memperjelas penolakannya.


Disini Kimtan terus saja bicara, sedangkan Intan tak merespon apa yang di katakan Kimtan. Gadis itu seakan menganggap Kimtan tak ada, yang dia lakukan hanya membolak-balikkan buku menu yang ditangannya dengan bosan.

__ADS_1


"Nona apa kau mendengarkan kata-kataku?" tanya Kimtan merasa kesal ketika tahu jika gadis di depannya mengabaikan dirinya.


Bruk.


Intan menutup buku menu itu dengan kencang, lalu matanya menatap Kimtan tajam. "Ayah Anda yang memintanya, kenapa harus berbicara padaku. Seharusnya Anda berbicara dengan Ayah Anda, Tuan." Jawab Intan dengan sinis, tak lupa dia juga menggunakan kata-kata yang formal berbeda dengan sebelumnya.


"Pelayan." Panggil Intan.


Pelayan yang tak jauh dari meja keduanya itu mendekat dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Tolong bawakan aku semua pesanan ini."  Ujar Intan menunjukkan beberapa makanan yang dia pesan.


"Baik, Nona." Jawab pelayan itu lalu berlalu pergi.


"Untuk itu Saya mengundang Anda, agar kita bisa saling membantu untuk membatalkan perjodohan ini." seru Kimtan merasa kesal dengan sikap yang dilakukan Intan, dia juga mengikuti bahasa gadis itu dengan mengucapkan kata-kata formal. Kimtan memicingkan matanya menatap Gadis di depannya.


"Anda tidak mendengarkan saya?" tanya Kimtan, setelah beberapa ucapannya tak di tanggapi oleh Intan.


"Sudah aku katakan, bicaralah pada orang Tua Anda. Kenapa Anda terus merengek kepada Saya seperti ini. Paham?"


"Hah?" Kimtan tak percaya dengan apa yang dia dengar. 'Astaga wanita ini' Batin Kimtan menahan kesal.


Pelayan datang membawa pesanan Intan, membuat kedua matanya berbinar menatap hidangan yang menggugah selera.


"Sudah, sudah. Pembicaraan kita sudahi di sini, sekarang waktunya untuk makan, kebetulan aku tengah lapar." seru Intan, langsung menyantap makanan yang telah dia pesan.


...****************...


"Bagaimana pertemuan Anda dengan Nona Intan, Tuan?" tanya Arka sambil membuka kan pintu mobil untuk Kimtan.


"Entahlah, Aku tidak yakin wanita itu akan setuju dengan rencana yang telah aku susun atau tidak. Dia terlihat sangat angkuh dan sulit di atasi." Ucap Kimtan mengingat kembali bagaimana sosok Intan yang baru saja dia temui di Cafe.


"Dia merupakan salah satu anak dari konglomerat di Jakarta, Tuan. Wajar saja jika memiliki daya kuat sebagai seorang wanita, semoga saja dia mau menyetujui rencana, Tuan." Timpal Arka.


"Tidak, kau salah." Potong Kimtan "Sebaliknya, Aku sama sekali tidak menemukan didalam dirinya sosok wanita. Yang ada hanyalah singa betina yang siap memakan mangsanya." Ujar Kimtan membuat Arka hampir saja tertawa lepas jika tidak mengingat sopan santunnya.


Bos nya memang benar-benar kejam, Wanita secantik nona Intan saja Ia bilang seperti singa betina. Arka menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tuan, Anda memang tak bisa ditebak." gumam Arka kembali fokus dengan kemudinya.


...****************...


Di sisi lain, Intan baru saja masuk ke dalam mobilnya setelah di jemput oleh sang supir. Setelah pertemuannya dengan Kimtan, mood wanita itu menjadi jelek. Pria itu dengan sombongnya menolak perjodohan ini, memangnya siapa yang mau di jodohkan dengan pria yang dingin seperti itu? Pikir Intan meremas rok nya sampai kusut karena kesal.


Dengan hati yang masih kesal. Intan mengambil handphonenya, lalu menelpon Tuan Bramasta.


"Halo Tuan Bramasta, sepertinya aku tidak tertarik dengan perjodohan ini."  Ujar Intan, langsung berbicara pada intinya, tanpa sedikit pun rasa takut.

__ADS_1


"T-tunggu ...


"Ini sudah menjadi keputusanku secara matang. Lagipula sepertinya putra Anda sangat tidak menginginkan perjodohan ini karena barusan dia mene-muiku." Ucap Intan memotong perkataan Tuan Bramasta, membuat pria tua itu sama sekali tak di berikan kesempatan untuk berbicara.


"Nona Intan, sepertinya Putraku hanya bergurau saja." Ujar Tuan Bramasta sambil terkekeh.


'Bergurau? Yang benar saja. Batin Intan mendecih. "Entahlah. Aku hanya ingin kita membatalkan perjodohan ini dan sebaiknya menghentikan kerjasama kita."


Tut..


"Hah." Desah Intan. Gadis itu menarik nafasnya panjang, Ia memandang keluar jendela. " Pak sebaiknya kita pulang." pinta Intan kepada supirnya.


"Baik, Nona." Jawab supir Intan.


Padahal Ayahnya memiliki kekuasaan yang lebih dari pria itu tapi dia dengan seenaknya mempermainkan perjodohan ini, membuatnya benar-benar seperti wanita murahan yang mengemis seolah aku yang menginginkan perjodohan ini. Yang benar saja.


...**********...


Tut.


Saat sambungan telpon itu terputus, Tuan Bramasta langsung melemparkan gelas yang tak jauh darinya.


"Brengsek." Desisnya tajam.


Jonathan yang kebetulan berada di ruangan Tuannya terkejut saat gelas itu melayang begitu saja dan hampir mengenai dirinya. Bukan takut yang lelaki itu rasakan saat ini, melainkan kekhawatiran dirinya pada Tuan nya itu.


Ia tahu banyak kerumitan pada kehidupan orang kaya dan Ia telah masuk kedalam permainan itu. Meski begitu ia bersyukur karena Tuan Bramasta selalu baik dan mempercayai dirinya.


"Tuan, sebaiknya Istirahat terlebih dahulu." Jonathan mencoba menenangkan Tuannya, meski dia tidak tahu apa yang tengah terjadi.


"Jonathan." Gumam Tuan Bramasta


"Iya, Tuan." Jawabnya.


"Aku berusaha kuat untuk keluargaku, tapi ternyata aku tak bisa. Bahkan anakku terlihat menderita karena diriku sendiri. Padahal aku memilihkan wanita baik-baik untuk dirinya, tapi kenapa Ia tak mau mengerti juga." keluh Tuan Bramasta.


Jonathan tak tahu harus berkomentar apa, Ia bingung harus memihak pada siapa karena menurutnya keduanya saling menyakiti. Seandainya saja mereka mau mengalah dan berdamai dengan situasi mungkin keluarga ini akan harmonis.


Tapi ia juga tahu, bahwa Tuannya melakukan ini mungkin ada alasan dibalik semuanya. Meski ia belum mengetahuinya, karena Tuannya tak pernah mengatakan apapun.


"Tuan, setiap Ayah memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya. Mungkin saja Tuan muda belum menyadarinya." Jonathan tersenyum mencoba menenangkan pikiran Tuannya. "Sebaiknya Anda segera Istirahat, sejak pagi jadwal Anda begitu penuh." Lanjutnya.


Tuan Bramasta tersenyum dan melakukan apa yang di sarankan Jonathan. "Kau memang anak yang baik, Jonathan." Bisik Tuan Bramasta, membuat Jonathan tersenyum atas pujian dari Tuannya.


"T-terimakasih Tuan." Timpal Jonatan dengan sedikit malu.


"Baiklah. Tolong kau antarkan aku pulang ke rumah, mungkin besok aku akan menemui Intan kembali untuk membicarakan perjodohan ini." Ujar Tuan Bramasta berjalan mendahului Jonathan.

__ADS_1


__ADS_2