
Irine berjalan mengikuti Kimtan sambil membawa beberapa berkas yang diperlukan.
"Selamat Siang Tuan Kimtan, senang akhirnya bisa bertemu denganmu." sambut seseorang yang diyakini oleh Irine itu adalah partner bisnis atasannya.
"Hn, selamat siang Mr. Handoko maaf telah buat mu menunggu." Kimtan menyambut salam hangat dari Mr. Handoko. "Ah perkenalkan ini adalah Irine sekertaris pribadi saya." Lanjut Kimtan memperkenalkan Irine.
"Saya Irine. Senang berkenalan dengan Anda Mr. Handoko." Irine tersenyum hangat menjabat tangan partner bisnis nya hari ini.
"Ah, Anda sangat cantik Nona Irine." puji Mr. Handoko.
"T-terimakasih." jawab Irine tersipu malu.
"Hahaha Anda pintar memilih sekertaris Tuan Kimtan." canda Mr. Handoko
Kimtan melirik Irine yang terlihat tak nyaman, dia pun langsung memutuskan percakapan itu dan melanjutkan pembahasan mengenai projek yang akan mereka garap.
"Ekhm, sebaiknya kita langsung membahas projeknya." Ucap Kimtan dengan suara tegasnya.
"Baiklah-baiklah, mari silahkan duduk." timpal Mr. Handoko mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
"Mari." Ucap Kimtan memegang lengan Irine, lalu menuntunnya untuk duduk.
Setelah sampai di depan meja yang telah di persiapkan Mr. Handoko, Kimtan menarik kursi dan mempersilahkan Irine untuk duduk di kursi yang dekat dengannya. "Duduklah."
Irine tersenyum tipis menatap Kimtan, lalu menganggukkan kepalanya. "Terimakasih."
Perlu sedikit lama, kedua mata Irine terpaku menatap ke arah Kimtan. Dia sangat menyadari bahwa perlakuan tuannya seperti ini membuat hatinya menghangat, hal itu membuatnya semakin takut terjerat dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Hal itu juga yang membuat Irine semakin merasa bersalah pada Kimtan dan juga Kakanya. Jika seandainya saat itu dia tak pernah bertemu dengan Kimtan, seandainya saja dia tak magang di perusahaan keluarga Kim.
Jika saja saat itu.....
Hah. tanpa sadar dia menarik nafasnya dengan kasar. Dia sungguh tak tahu dan tak mengerti situasi seperti apa yang dia inginkan.
"......Rin....Rin...."
"Irine."
Guncangan pelan Kimtan pada bahunya, membuat Irine tersadar dari lamunannya.
"A-h y-yah..." Seru Irine dengan suara yang terbata. Kedua matanya menatap Kimtan yang entah sejak kapan jarak wajahnya begitu dekat dengannya, terlihat raut cemas pria itu yang ditunjukkan padanya.
"Kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya Kimtan. "Sejak tadi aku memanggilmu." Lanjut Kimtan.
"Ma-aaf." Sesal Irine. Lengannya menarik rambutnya ke belakang, dia sungguh menyesal karena terlalu banyak melamun dan tak fokus dengan pekerjaannya.
Dengan patuh Irine langsung meminumnya. "K-emana Mr. Han?" tanya Irine yang baru menyadari bahwa mereka hanya berdua doang di tempat ini.
"Hm, dia tengah menerima telpon." Jawab Kimtan.
Sekali lagi Irine merasa bersalah, dia bertanya-tanya apakah rapatnya berjalan dengan lancar?
"Tenang saja, semua nya berjalan dengan lancar." Ucap Kimtan tersenyum manis sambil mengusap rambut Irine lembut.
'K-enapaa dia bisa tahu apa yang ada di pikiranku?' Batin Irine terkejut.
__ADS_1
"Ah Iyah, sekali lagi aku minta maaf."
...****************...
Candra baru saja selsai berbelanja, dia masuk ke dalam rumahnya sambil bersenandung ria.
Saat di dalam rumah, suasananya terlihat sunyi.
"Apa Kaka belum bangun yah?" gumamnya. Dia menaruh belanjaannya di atas meja pantry, lalu berjalan menuju kamar Kakanya.
Klik.
Ternyata kamar Kakak nya tidak terkunci, Candra pun membuka nya secara perlahan. Saat pintu terbuka, Ia bisa melihat Kakak nya ternyata telah rapi dengan baju perpotongan yang Minggu lalu mereka beli. Tapi, ada yang terlihat aneh. Sejak kemarin Kakak nya semakin banyak diam, terlihat seperti sekarang dia hanya duduk diam di tepi ranjang sambil melihat gedung-gedung tinggi dari jendela kamarnya.
"Kakak, aku baru selesai berbelanja. Kakak ingin di masakkan apa hari ini?" tanya Candra usai masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Apa saja." timpal Lala, terdengar helaan nafas berat darinya. "Tapi jangan daging yah." lanjut Lala sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Hmmmm...." sejenak Candra berpikir, dia baru tahu jika kakak nya tidak menyukai daging. "Baiklah, aku akan masakkan Nasi Bakar cumi. Gimana apa kakak suka?"
"Memangnya kau bisa masak seperti itu?" Tanya Lala meragukan kemampuan adiknya.
"Hn, Kakak benar-benar meremahkan diriku? Lihat saja, nanti kakak pasti akan ketagihan." ujar Candra tak terima.
"Hahahaha... Baiklah-baiklah, Kakak akan menunggu hasil masakanmu."
"Oke. Kakak tunggu di sini, aku akan secepatnya membuatkan untuk Kaka."
__ADS_1
"hm."
Setelah adiknya keluar dari kamarnya, senyum di wajah Lala menghilang. Dia kembali menatap sendu ke arah luar, entah apa yang tengah di sembunyikan oleh wanita itu pada adiknya.