
Kimtan menatap berbinar hasil masakannya, meski lengannya terluka dia bersyukur masih bisa memasakan makanan untuk Irine.
"Semoga dia suka." Bisik nya sambil melepaskan celemek ditubuhnya. .
Setelah merapihkan kembali penampilannya, Kimtan berjalan menghampiri Irine yang tengah menonton Drama.
"Rin." Kimtan berucap terkejut. "Astaga, kenapa dia sampai tertidur seperti ini." Kimtan menatap khawatir gadis yang berada di depannya.
"Irine....Rin..." Panggilnya sambil menepuk-nepuk kedua pipi Irine dengan lembut.
Merasa terganggu dengan tidurnya, gadis itu melenguh. "Euhhhhh..."
Kimtan mengembangkan senyumnya. "Ayo makan malam, aku sudah selesai memasak."
"Eh, T-tuan." Irine mulai tersadar, dia bangun dari tidurnya sambil mengucek kedua matanya. "Apa aku ketiduran?" tanya Irine.
"Hm, sepertinya begitu." Ujar Kimtan sambil terkekeh. "Ayo makan, nanti keburu dingin."
Irine menganggukkan kepalanya, berdiri lalu mengikuti langkah Kimtan dari belakang.
"Maaf, Saya hanya bisa memasak ini saja." Ujar Kimtan, dia menarikan kursi untuk Irine duduk.
"T-terimakasih, menurutku ini lebih dari cukup." Timpal Irine menatap takjub dengan hidangan yang berada di depannya. "A-pakah ini sungguh masakan Tuan?"
__ADS_1
Kimtan melirik Irine. "Apa kau tak mempercayai Saya?" Ucapnya dengan dingin.
"Ah?" Irine merutuki pertanyaan yang keluar dari mulutnya. "T-tidak begitu. S-aya hanya takjub melihatnya. Anda benar-benar pandai memasak." Lanjutnya.
Blush. Tanpa sadar kedua pipi Kimtan memerah mendapat pujian dari Irine.
"Sudahlah makan ini, Saya memasakkan steak untuk mu semoga kau menyukainya." Kimtan menyodorkan steak yang telah selesai dipotong-potong olehnya.
"T-tuan, ini tidak perlu." Tolak Irine merasa segan, padahal Tuan nya telah memasakkan makanan-makanan enak untuk nya. Dia tak ingin merepotkan nya lagi, ditambah lengan Tuan nya yang terluka.
"Makan saja!"
Sepertinya memerintah memanglah sifat dasar dari seorang Kimtan, meskipun Irine telah menolaknya dia tetap memaksa.
"Terimakasih." Ujar Irine pada akhirnya, yah mau bagaimana lagi dia tidak bisa menolak ucapkan Tuan nya dengan tampilan wajah yang menggemaskan seperti anak anjing itu.
Setelah itu di meja makan itu kembali hening, kedua nya sibuk menyantap makan nya. Hanya dentingan garpu yang beradu dan hembusan nafas mereka.
Dan hal itu sukses membuat Irine merasa gugup di situasi seperti ini, ah dia ingin cepat-cepat menghabiskan makanan ini dan segera pulang ke rumahnya.
...****************...
Irine dan Stefi tengah menunggu antrian mereka di Kantin perusahaan, di sana Stefi membuka telinganya lebar-lebar saat mendengar bisikan-bisikan dari para karyawan yang memang tengah beristirahat dari pekerjaan mereka. Dan yang paling membuat Stefi sebal adalah tatapan mereka semua tertuju ke arah Irine, memangnya apa yang mereka gosipkan siang-siang begini.
__ADS_1
"Hey, kau lihat itu. Bukankah wanita yang keluar dari mobil Ceo Kita tadi pagi?"
"Ah, bukankah itu sekertaris nya? Mungkin hal wajar."
"Tidak! Lihat saja pakaian yang dia kenakan, bukankah itu pakaian yang bermerek. Aku tidak yakin jika mereka hanya sekedar Atasan dan bawahan."
"Astaga, jika di pikir-pikir kamu ada benarnya juga."
"Benarkan? Aish, dasar muka seperti itu saja berani menggoda Ceo kita. Ditambah dia kan dulunya mahasiswi magang di sini."
Wajah Stefi langsung memanas setelah dapat mencuri percakapan kedua perempuan itu. Uekh, rasanya ini dia ingin langsung menjadikan nya santapan siangnya.
"Stefi." Irine memegang lengan temannya, mencegah nya untuk menghampiri wanita-wanita yang tengah bergosip itu. "Jangan, biarkan saja." Lanjutnya.
"Apa kau bilang?" tanya Stefi merasa tak terima. "Kau tidak dengar apa yang mereka katakan tentangmu?" suaranya meluap-luap menahan emosi.
Irine menatap Stefi lembut, dia bukannya tidak mendengar. Tapi, dia tidak ingin menimbulkan keributan dan lagi yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah.
"Sudahlah, ayo ambil makanannya." ucap Irine mengalihkan perhatian Stefi.
"Uekh, kau selalu begitu diam saja ketika di katain yang tidak-tidak." gerutu Stefi.
"Sudah-sudah." Irine mengusap-usap bahu temannya tak enak hati.
__ADS_1
Sesaat dia menyesal karena mengiyakan ucapan Kimtan semalam, yah semalam setelah selesai makan malam. Pria itu memaksanya untuk tetap tinggal dengan alasan tak ingin jika dirinya kenapa-kenapa, mau tak mau disitu Irine mengiyakan ucapan Kimtan. Lain kali, dia harus berhati-hati dengan sekitarnya dan tak asal menuruti permintaan konyol atasannya itu.