
"Tubuhku yang remuk seketika menjadi segar kembali setelah keluar dari salon kecantikan" Seru Stefi dengan mata yang berbinar, setelah keluar dari salon.
"Yah, karena kau. Aku harus mengeluarkan lebih banyak uang hari ini." Desis Irine.
"Itu kan Uang Presdir dan lagi Presdir kan memang yang menyuruh kita untuk senang-senang." timpal Stefi tersenyum lebar.
"Huft." Irine sedikit menyesal menerima begitu saja perintah Kimtan, tapi kenapa pria itu melakukan ini? Pikir Irine dengan keras karena menurutnya tidak ada alasan untuk Kimtan melakukan ini pada bawahannya.
"Belanja udah. Ke salon udah. Sekarang saatnya kita mengisi perut." Ucap Stefi masih dengan semangat nya yang membara.
Irine memutar bola matanya jengah, harus sampai kapan dia mengikuti kegilaan Stefi.
"Kenapa sih Rin, sejak tadi memelototi aku terus?" tanya Stefi pada Irine.
Bagaimana tidak memperhatikan. Lihat saja kedua lengan Sahabatnya yang sudah penuh dengan barang belanjaannya, Ia tak habis pikir Stefi masih memiliki wajah seceria itu. Padahal, dirinya sudah kelelahan karena mengikuti wanita itu ke sana kemari. Tumitnya saja sampai terasa sakit, Ia ingin segera duduk dan melepaskan high heels sialan nya ini.
"Ayo Irine, kita masuk ke Resto itu." Tunjuk Stefi pada salah satu Resto yang terlihat mewah.
"T-tapi Stefi, itu terlihat mewah dan sepertinya makanan di sana terlalu mahal. Sebaiknya kita cari tempat yang biasa saja, okey?" ucap Irine sambil menahan lengan Stefi.
"Hueh, tidak apa sih Rin. Sesekali kan." Ucapnya, melepaskan lengan Irine dan segera berjalan menuju resto tersebut.
"Ini mah Aku yang mengantar dia." Gumam Irine, dia pun terpaksa menyusul Stefi.
"Kau lihat, tempatnya bagus kan. Di sini makanan orang-orang kalangan atas, ayo cari tempat yang kosong." Ajak Stefi menarik lengan Irine masuk ke Restoran bintang lima yang ada di kawasan Jakarta Pusat.
Irine menarik nafasnya lelah, dia dengan gontai mengikuti langkah kaki Stefi yang entah mau ke mana perempuan ini membawa tubuhnya.
'Aku ingin pulang.'Batin Irine menahan kesal.
...****************...
Di tempat yang sama, Isabel menahan rasa harunya, saat Putranya kembali mengajak dirinya makan di restoran tempat mereka dulu sering datangi. Sepanjang turun dari mobilnya, Isabel tak pernah melepaskan tautan tangan Putranya. Ia sudah lama tak merasakan momen seperti ini lagi bersama putranya, Ia sangat senang.
"Ibu, duduk di sini saja. Lebih nyaman dan tidak terlalu bising." Ucap Kimtan pada Ibu nya.
Karena Ia tak bisa pungkiri bahwa ini merupakan restoran kawasan elit yang ramai di kunjungi, jadi wajar jika Kimtan berkata demikian.
Tak lama salah satu pelayan langsung mendatangi tempat duduk mereka. "Ini buku menunya Tuan." Ujar Pelayan itu sambil menyerahkan buku menu pada pasang Anak dan Ibu itu dengan sopan.
Selain itu, Kimtan juga berpikir bahwa pelayanan di sini benar-benar bagus. Saat pelanggan datang, salah satu pelayan langsung tanggap melayani mereka dengan sopan. Tanpa harus bersusah-susah menunggu lagi.
"Ibu, silahkan pilih makanan apa yang mau di makan." ucap Kimtan dengan lembut.
"Terimakasih, Sayang." Sahut Isabel menerima buku menu makanan dari Putranya.
__ADS_1
"Hm, Nak. Apa kamu masih suka cumi bakar? Atau Aaa- di sini juga ada makanan Korea Nak, apa kau mau juga?" tanya Isabel menunjuk menu kesukaan Putranya dengan antusias.
"Apa saja Bu, pesanan saja apa yang Ibu mau." Jawab Kimtan tersenyum.
Isabel menatap Putranya penuh haru, putranya kembali lagi padanya Ia begitu senang.
"Kalo begitu saya pesan Ini dan ini, aa- lalu ini." Tunjuk sang Ibu.
"Baik Nyonya, apa tidak ada tambahan lagi?" Tanya pelayan tersebut.
"Mm, tidak Terimakasih." Jawab Isabel dengan lembut dan senyumnya yang tulus.
"Baik Nyonya, mohon tunggu sebentar yah." Ucap Pelayan itu mengambil buku menunya kembali, lalu beranjak pergi.
"Sudah lama Ibu tidak datang ke sini lagi, Ibu senang kamu mengajak Ibu ke sini lagi." ujar Ibu Kimtan dengan lembut.
"Lain kali, Saya akan menyempatkan waktu lagi untuk Ibu." kata Kimtan.
"Hah, benarkah?"
"Hn, tentu."
Isabel benar-benar diliputi rasa bahagia saat ini, sikap dingin putranya perlahan mencair padanya.
...****************...
"Heh, kenapa Irine?" Tanya Stefi melihat sahabat nya termenung di jalan.
"Akh, tidak." Bohong Irine. Sebenernya Ia tadi mendengarkan perkataan pelayan tadi bersama temannya. Mendengar hal itu, entah kenapa jadi teringat Presdir. Tapi mana mungkin, hah lagi pula juga kenapa Ia memikirkan pria itu sih. Gerutunya kesal.
"Irine, bagiamana kalo kita duduk di sisi kanan itu." Tunjuk Stefi pada tempat duduk yang terlihat lenggang tak terlalu ramai.
Irine hanya menganggukkan kepalanya, mengikuti tarikan tangan Stefi pada lengannya. Padahal, pikiran wanita itu sedang tak fokus.
...****************...
'Irine, Irine, sini.'
'Irine' Batin Kimtan saat telinganya mendengar seseorang memanggil nama wanita itu, Ia segera saja memutarkan kepalanya ke sisi kanan tempat duduknya dan benar saja pendengarannya tidak salah.
Di sana tak jauh dari nya, terlihat Irine tengah bersama sahabat perempuannya. Entah kenapa, wajah Irine langsung dikenali oleh Kimtan meski banyak orang yang ada di ruangan ini.
Kimtan berdiri hendak menghampiri Irine, namun lengannya di pegang oleh Ibu nya.
"Mau ke mana nak?"
__ADS_1
Kimtan menolehkan wajahnya menatap Ibu nya yang tengah menatapnya bingung. "Ada temanku di sini, aku hanya ingin sekedar menyapanya sebentar." Jawab Kimtan tersenyum.
"A-ah benarkah, di mana temanmu itu nak?" Tanya Isabel melihat sekeliling area restoran.
Awalnya Ia sempat khawatir Kimtan akan meninggalkannya, tapi ternyata kekhawatiran dirinya terlalu berlebihan pada putranya.
"Di sana Ibu." Tunjuk Kimtan. "aku akan menyapanya terlebih dahulu. Ibu tunggu di sini, ok?" lanjutnya lalu meminta izin untuk menghampiri temannya.
"Baiklah, jangan lama-lama. Nanti makanannya keburu datang dan dingin." Sahut Ibu nya.
Kimtan segera berjalan dengan cepat menghampiri wanita yang sudah membuatnya gila, karena merindukan sosoknya.
"Irine." Panggil Kimtan sambil menarik lengan Irine sehingga membuat tubuhnya tertarik ke arahnya dan menubruk dada bidang Kimtan.
"Hah." Irine terkejut bukan main saat lengannya ditarik seseorang dan wajahnya terhempas ke dada bidang seorang lelaki, awalnya Ia ingin berontak namun saat mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria ini. Tubuhnya menjadi menegang, Ia tahu siapa lelaki ini.
Secara perlahan, Irine mendongakkan wajahnya menatap kearah sang empu.
'Mengapa mereka harus bertemu?' Pikir Irine, Ia tak berani beranjak se-inci pun, Jantungnya berdebar dan wajahnya sudah pasti memerah.
"Aku benar." Seru Kimtan entah kenapa merasa senang.
Irine hanya terbengong menatap pria di depannya, hingga dia tersadar saat lengannya di tarik seseorang lagi dan pekikan suara Stefi.
"Apa-apaan Kau!" Pekik Stefi yang baru tersadar dari keterkejutannya, saat sahabatnya Irine ditarik begitu saja oleh pria yang tak Ia kenal. "Menyingkir dari sahabatku!" Titah Stefi tak suka.
Amarahnya hampir saja meledak jika saja wanita itu tak menatap wajah pria itu.
"Presdir..." Ucap Stefi terkejut.
Dia langsung melepaskan tangannya dari pundak Kimtan. "A-ah maafkan Saya... saya...." Dia tak bisa berkata apa-apa, mulutnya sulit sekali untuk berbicara.
Stefi melihat Jas Presdirnya yang kusut akibat remasan tangannya tadi, dengan cepat Stefi langsung merapihkan Jas Presdirnya.
"M..maafkan saya Presdir, saya ti...dak tahu jika itu Anda." Stefi berbicara dengan suara yang tergagap, kedua matanya menatap Irine yang mematung di depannya seakan meminta pertolongan.
"Anda kenapa Pak? kenapa menarik saya begitu, membuat orang lain salah paham." Tanya Irine senormal mungkin, dia berusaha untuk tenang meski jantungnya berdebar dua kali lipat.
Kimtan menatap Irine yang menghindari tatapannya, dia memang salah karena tiba-tiba membuat Irine terkejut dan temannya juga.
"Tidak apa, bukan sesuatu yang penting. Saya pergi dulu." Timpal Kimtan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hah..."
"Hah..."
__ADS_1
Kedua sahabat itu menarik nafasnya bersamaan, dengan pemikiran yang berbeda. Irine bersyukur karena Kimtan tak berbicara omong kosong lagi di depan Stefi yang akan menimbulkan Stefi curiga.
Sedangkan Stefi sendiri bersyukur karena Presdirnya tak memarahi atau mengungkit kesalahan yang baru saja dia lakukan.