
"Kau memanggilku" Tanya Arka yang langsung masuk ke ruangan Kimtan.
Kimtan memicingkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Arka.
"Apa kau tengah datang bulan?" Tanya Arka lagi, melihat wajah Kimtan yang tertekuk muram.
Kimtan mengabaikan pertanyaan Arka, kembali melanjutkan membaca laporan-laporan.
"Irine. Dia belum kembali bekerja juga?"
Akhirnya Kimtan mengeluarkan suaranya setelah beberapa menit mengabaikan Arka.
Bukannya menjawab Arka juga malah terdiam acuh, mengabaikan Kimtan yang sepertinya sudah mulai tumbuh tanduknya. Dan benar saja belum juga ia menarik nafas, suara menyebalkan Arka sudah masuk ke gendang telinganya.
"Yakk.! Apa kau tak punya telinga, Hah. Masuk tak sopan, di tanya pun kau tak jawab. Ohhh Astaga.!" Kimtan terus melempar makian-makian pada Arka yang hanya di tanggapi dengan kekehan menyebalkannya.
"Oh Astaga! Lihat kau bahkan menertawaiku." Sungut Kimtan pada Arka.
"Yakk. Apa kau tengah datang bulan?" Tanya Arka lagi dan itu membuat Mulut Kimtan terkatup rapat.
__ADS_1
"Ckk, Sudahlah. Aku lelah meladenimu hari ini." Ujar Kimtan lirih.
Arka melirik atasannya, dia melihat ekspresi yang membuatnya terkekeh, "Aish, ada apa dengannya." Gumam Arka masih tertawa.
Seketika tawa itu terhenti, saat kedua mata Arka bersitatap dengan seseorang yang tengah berada di ambang pintu. Menatap mereka berdua dengan tatapan datarnya.
"O-oh, Irine." Sapa Arka dengan wajah tersenyum.
Seketika Kimtan langsung mendongakkan wajahnya, saat kedua telinganya mendengar nama Irine dipanggil oleh Arka.
"Irine." gumam Kimtan sangat pelan. Dia cukup terkejut dengan kedatangan Irine di kantornya setelah hampir sebulan Absen.
"Tidak! Sama sekali tidak menggangu." Ujar Arka dengan cepat.
"Baiklah, saya ada urusan lain. Saya pamit undur diri Tuan." Ujar Arka, kedua matanya memberi kode Kimtan agar bersikap lebih santai pada Irine. Setelah itu Arka berjalan keluar, ia tak ingin mengganggu waktu keduanya.
Setelah kepergian Arka, atmosfer di ruangan itu berubah jadi gelap. Baik Kimtan ataupun Irine belum ada yang mau lebih dahulu membuka suaranya.
Ditambah Kimtan yang terlihat mengacuhkan Irine dan memilih berkutat dengan berbagai laporan yang menumpuk di meja kerjanya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa ia diam saja." Gumam Irine sangat pelan sekali, ia menghela nafas gusar.
Dia tak berani melangkah lebih jauh, ditambah bagiamana perilaku dia selama ini. Entah kenapa dia sangat gugup, meski dia sudah menyiapkan semua keberanian, nyatanya dia tak bisa begitu saja bersikap santai di depan Kimtan.
"Apa kau akan diam saja, seperti patung." Ujar Kimtan dengan suara datarnya.
Irine yang mendengar itu mengercutkan bibirnya tak suka, entah kenapa Kimtan menjadi dingin padanya. "Aku menunggumu berbicara." Ujar Irine pelan.
Kimtan mendongakkan kepalanya menatap wajah Irine. "Bukankah kau yang kemari, lalu kenapa aku yang harus berbicara." ucap Kimtan tak kalah dingin.
Irine menatap Kimtan sebentar kemudian langsung menundukkan wajahnya kembali.
"Aku sudah lama tak masuk kerja, apa Anda tidak ingin menanyakan alasan saya?" Tanya Irine sambil meremas kedua lengannya.
"Apa kau sedang merengek padaku?"
"Merengek?" Irine berbalik bertanya pada Kimtan, dia tak percaya, apa yang dikatakan atasannya dengan kata 'Merengek' tersebut.
"Bukankah yang kau lakukan selama hampir sebulan ini seperti itu." ucap Kimtan menatap datar Irine. Dia tak mengerti kenapa gadis ini sama sekali tak takut padanya.
__ADS_1
Astaga, padahal kemaren ia sampai tak bisa tidur akibat ulahnya, tapi lihat. Sekarang wanita ini berdiri dihadapannya seakan tak ada kejadian apapun sebelumnya.