
Hari ini benar-benar 180 derajat berbeda dibandingkan sebelumnya, Irine dihadapkan kebingungan dengan tingkah Presdir barunya. Pertama saat acara makan siang, lalu sekarang saat jam pulang pria ini bersikukuh untuk mengantarnya pulang ke kosan.
Padahal dia sudah sangat berusaha menolaknya, dia takut akan ada gosip baru lagi. Belum juga gosip pengangkatannya menjadi sekertaris mereda, malah dia mau buat orang-orang bergosip tentang dirinya lagi. Memikirkannya saja membuat kepalanya pusing.
"Tuan, Anda benar-benar akan mengantar Saya?" tanya Irine merasa terbebani dengan semua perilaku atasannya tersebut.
Sejenak Kimtan menghentikan langkahnya. "Apa kau tak suka aku mengantarmu pulang? Padahal orang lain sangat berharap di antar olehku." Ujar Kimtan menatap kecewa Irine.
"Hah, b-bukan sepeti i-tu." Irine bingung harus menjelaskan seperti apa pada atasannya.
"Sudah final, sebaiknya kau ikuti saja." Ucap Kimtan, beranjak pergi meninggalkan Irine.
"Hah." Desah Irine, dengan terpaksa dia segera menyusul langkah lebar atasannya secepat mungkin.
Entah kenapa saat dirinya mencoba menghindar, Pria ini semakin gencar mendekatinya entah rencana apa yang ada di otak Presdir nya karena Ia pun tak memahami jalan pikiran lelaki ini.
Kini dia harus rela di antar oleh Presdir, meski Ia sudah menolak dengan sangat keras tawaran dari Kimtan, tapi pria ini memang sifatnya sangat keras kepala hingga akhirnya dia tak bisa menolak tawaran tersebut.
"Tuan, apa tidak sebaiknya saya turun di halte bus saja." Tawar Irine merasa tak enak hati. Ditambah tadi ada beberapa karyawan yang melihatnya di antar oleh Kimtan, dia bisa pusing menghadapi gosip yang aneh di forum kantor lagi.
"Tidak!" Tolak Kimtan cepat. "Saya sudah mengatakan akan mengantarmu sampai Kosan, lagian Kosan mu kan tak jauh dari kantor tentu itu tidak merepotkan saya, Irine." Sambungnya menampilkan senyum manisnya.
"Baiklah." Irine menghela nafasnya, Ia tak tahu harus apa menghadapi Presdir nua yang seperti ini.
"Dan lagi, panggil saya Kimtan." ucap Kimtan, mengingatkan kembali Irine.
Irine menatap Presdirnya dengan tatapan melasnya, dia sudah lelah menghadapi bos nya yang seperti ini. 'Ya Tuhan.'
...****************...
Irine melempar tas nya secara asal saat Ia sampai di tempat tidurnya. Yah benar, saat ini Irine telah sampai di Kosan miliknya setelah di antar oleh Presdir nya. Setelah mengucapkan terimakasih, dia langsung berlari pergi.
Saat ini, setelah berada di dalam kamarnya hal pertama yang Ia lakukan adalah bermalas-malasan di kamar. Sedikit mengistirahatkan tubuh letihnya yang hampir seharian ini kerjaannya duduk dengan setumpuk berkas membuat bokong dan pinggulnya terasa sakit sekali.
Meski bukan kali pertama Ia bekerja, tapi tetap saja Ia butuh beradaptasi dulu dengan pekerjaan barunya yang diberikan oleh lelaki itu yang super memaksa.
"Ah, ngomong-ngomong ke mana anak nakal itu?" Irine menengok jam yang menunjukkan pukul lima sore. "Padahal sudah sore, kenapa Ia belum juga pulang. Ah, lama-lama anak itu semakin seenaknya pulang pergi." Ujar Irine frustasi.
Tiba-tiba getaran ponselnya membuat Irine sedikit terkejut, karena mengenai punggungnya. Ia pun bangun dan melihat siapa orang yang menelponnya? Ah, ternyata dilayar itu tertera nama adiknya, Candra.
"Baru juga di omongin nih anak." Gumam Irine langsung menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
__ADS_1
'Halo kak.'
"Hmm." Jawab Irine seadanya.
'hehehe' Candra tertawa mendengar tanggapan Irine yang biasa saja padanya, sepertinya Kaka perempuannya tengah bete padanya.
'Kak, sepertinya aku akan menginap di rumah kekasihku. Jadi Kaka jangan tunggu aku pulang yah. Kemaren terlalu sibuk mengurus kaka jadi tak ada waktu berduaan dengan kekasihku.'
Irine menatap ponselnya dengan kesal, alesan yang tak bermutu dasar adik sialan. Sangat menyesal dia memuji adiknya kemarin, bucinnya benar-benar di luar nalar.
"Ya sudah, jangan berbuat yang tidak-tidak." pesona Irine, nada suaranya terdengar sedikit kesal.
'Okay, Terimakasih Kaka. I love you, kakaku.' Ucap Candra mengakhiri panggilannya.
Setelah bertelepon dengan adiknya Irine menjatuhkan tubuhnya di kasur menghadap langit-langit kamarnya, menelentangkan tangannya.
Menarik nafasnya kemudian mengeluarkannya, rasanya benar-benar nikmat ketika sambil meregangkan tubuhnya.
"Aku harus mandi." ucapnya saat kedua matanya melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06 sore.
Setengah jam berlalu, Irine baru saja keluar dari kamar mandi nya setelah menyelesaikan ritual mandinya. Saat ini, Irine hanya menggunakan sehelai kain handuk di tubuhnya dan hendak mengambil pakaian tidurnya di lemari, tapi bunyi ponsel mengagetkan dirinya.
'Halo.'
"Maaf ini siapa?" Tanya Irine bingung, ini suara laki-laki tapi siapa? pikirnya.
'Apakah kau sudah beristirahat? Saya ingin bertemu denganmu.' Ujar seseorang di sebrang telpon, mengabaikan pertanyaan dirinya.
Cukup lama Irine terdiam, setelah mendengar suara lawan bicaranya yang semakin jelas. Ia menjadi tahu siapa orang yang menghubunginya, tapi dari mana lelaki ini mendapatkan nomor ponselnya.
"Saya sibuk! Lagi pula Saya tengah bersama Adik Saya ..... belum juga Irine menyelesaikan perkataannya, lelaki ini langsung memotongnya.
'Adik mu tengah bersama kekasihnya.' Ujar Kimtan membuat Irine terkejut. Ia tak tahu dari mana Kimtan mengetahui keberadaan adiknya.
'Di mana?' Tanya Kimtan lagi.
Irine menghela nafasnya pelan, "Saya tidak bisa, ini sudah malam dan ingin beristirahat. Jadi jangan mengganggu lagi, oke."
'Baiklah, aku akan ke sana tunggu saja!' Perintah Kimtan, lalu menutup sambungan telponnya dengan sepihak.
Hal itu membuat wajah Irine memerah menahan rasa kesal, tidakkah dia biarkan istirahat tanpa mempedulikan lelaki itu? Teriak batinnya kesal.
__ADS_1
Irine melemparkan ponselnya asal, lalu segera mengambil pakaiannya dengan asal juga. Dia tahu lelaki itu tak bercanda dengan kata-katanya, dia pasti akan datang. Ia menengok ke dinding di mana Jam menggantung di sana, sudah menunjukkan pukul 22:00 malam.
"Apa benar dia akan datang?" sebenarnya dia sedikit tak percaya juga jika melihat jam yang sudah larut, tapi lelaki itu kan pria yang nekat.
"Ah sudahlah, sebaiknya aku kembali istirahat." Ujarnya berjalan ke kamarnya. Baru juga akan mematikan lampu kamarnya, pintu Kosannya ada yang mengetuk.
Tok Tok Tok Tok
Berkali-kali pintu itu di ketuk, membuat Irine menahan nafasnya kesal. "Sabar Rin, sabar." ucapnya. Dengan sedikit berlari Irine menuju pintu luar, dia khawatir tetangganya akan bangun karena keributan yang di timbulkan oleh lelaki itu.
Kriet.
Pintu terbuka, benar saja lelaki bernama Kimtan berdiri dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal. Kenapa dia yang kesal coba? bukankah seharusnya dirinya yang kesal karena telah di ganggu jam istirahat nya.
"Kenapa lama sekali, di sini dingin tau." Desis Kimtan memeluk tubuhnya sendiri, Ia langsung saja masuk ke Kosan Irine tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh pemiliknya.
Sedangkan Irine memutar bola matanya malas, Bos nya ini benar-benar pria yang menjengkelkan sekali. Tiba-tiba menelponnya, kemudian datang ke rumahnya dan sekarang mengomeli dirinya. Wah luar biasa sekali lelaki ini.
"Bisa tidak kau memiliki tata Krama sedikit?" Gumam Irine sambil menutup pintu Kosannya.
"Oh yah, kamu masak apa hari ini? Aku ikut makan yah." Ujar Kimtan berjalan ke arah dapur, mengabaikan perkataan Irine.
'What?' pendengaran Irine tak salah kan.
"Kau punya ramen?" Tanya Kimtan sedikit memelas.
Sepertinya dia memang kelaparan. Tapi kenapa kemari? Bukannya dia bisa pergi ke restoran yang makanannya enak-enak.
Dengan kesal Irine membuka lemari tempat stok makanannya berada, Ia langsung mengambil satu ramen. Setelah itu dia langsung menuangkan air panas ke dalam ramen.
"Silahkan di makan." ucap Irine memberikan satu cup ramen yang telah matang.
"Terimakasih." Sahut Kimtan. Pria itu langsung memakan ramen yang sudah Irine buat. "Baiknya." bisik Kimtan pelan.
"Ada apa? Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Irine memastikan pendengaran dirinya.
Kimtan menatap Irine dalam, kemudian Ia menggelengkan kepalanya. " Tidak ada, terimakasih untuk ramen nya" Jawab Kimtan kembali menyantap ramen nya.
"Akh, sepertinya aku mendengar pria itu berbicara tadi. Apa hanya aku saja yang salah mendengarnya." Monolog Irine.
Ia kembali menatap kembali Presdir nya yang tengah serius memakan ramen buatannya. 'Ah, sepertinya dia memang kelaparan.' Pikir Irine melihat lahapnya Kimtan memakan Ramen.
__ADS_1