
"Astaga Tuan," teriak Arka saat masuk ke ruangan Tuannya dan melihat ruangan itu sudah berantakan.
Sedangkan Pria yang bernama Kimtan tengah terduduk di sudut ruangan, dengan lagi-lagi luka ditangannya.
"Tuan. Kenapa Anda melukai diri sendiri terus menerus, aku sudah mengatakan untuk tidak terbawa emosi," ucap Arka menatap nanar darah yang keluar dari lengan Tuan nya.
Arka langsung mengambil kotak P3K yang berada di lemari, lalu Ia mendekati Kimtan untuk membersihkan darah yang sudah mengering di lengannya. Sepertinya sejak tadi Kimtan terluka, karena darahnya sudah mengering.
"Berikan aku laporannya," Gumam Kimtan dingin, Ia juga menepis lengan Arka yang akan mengobati lukanya.
"Tuan. Tidak bisakah aku mengobati luka Anda terlebih dahulu?" pinta Arka memohon.
"Kau sudah mendapatkan apa yang Aku minta?" Kimtan kembali bertanya, mengabaikan perkataan Arka.
"Tidak ada informasi yang penting yang aku dapatkan, Tuan," Timpal Arka dengan suara datar, kedua matanya menghindari tatapan Kimtan.
"Mana?" Tanya Kimtan kembali, tak mengindahkan permintaan dari Arka. Kimtan mendongakkan kepalanya, mata hitamnya menatap tajam kearah Arka. "Berikan padaku!" suara Kimtan semakin meninggi.
Tak punya pilihan lain, Arka segera menyerahkan map berwarna merah itu kepada Kimtan dan dengan cepat dia langsung merebutnya.
Kimtan membuka lembaran demi lembaran, mencari petunjuk kuat tentang gadis itu tapi dia tak kunjung melihatnya. Amarah nya tak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
"Sial." Desisnya tajam. Dia langsung menyobek kertas itu dan melemparnya asal. "Cari bukti lebih jelas lagi." suaranya penuh dengan emosi.
"Tuan. Gadis itu bernama Irine, awalnya Ia merupakan mahasiswa magang di Perusahaan ini. Tapi karena kepintaran yang dimiliki olehnya, dia di perbolehkan untuk bekerja di sini dengan kontrak selama 1 tahun. Selain itu dia memiliki keluarga yang tinggal di Bandung dan tak ada kaitannya dengan....."
"Apa kau sudah pastikan itu?" Sela Kimtan, menatap tajam Arka.
Arka menelan ludahnya, bohong jika dia tak takut dengan Tuan nya. Ia menarik nafasnya pelan sebelum menjelaskan informasi sedetail mungkin, yang dirinya dapat setelah beberapa hari melakukan pencarian.
"Dia mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas yang ada di Jakarta, karena itu dia tinggal di Kota ini. Tapi karena masalah keluarga dia sering mengajukan cuti kuliah yang membuat beasiswa nya di cabut, saat ini pun Nona Irine tengah cuti kuliah untuk menyelesaikan Kontrak di Perusahaan ini." Jelas Arka, berharap Kimtan akan mengerti dan tidak berurusan lagi dengan gadis bernama Irine itu.
"Kenapa dia sering melakukan cuti kuliah? Dia miskin?" tanya Kimtan.
"Tidak Tuan, keluarga nya yang di Bandung terbilang cukup. Hanya saja, setelah Ayahnya meninggal nona Irine menjadi tulang punggung keluarga nya karena dia juga harus membiayai sekolah Adiknya." timpal Arka, berharap Tuan nya menyudahi rasa penasarannya itu.
Arka menatap Tuan nya dengan tatapan bingung, padahal dia telah mencatat semua info di kertas itu. Tapi kenapa dia masih bertanya padanya? Batinnya kesal.
"Dia tinggal di Kosan yang tak jauh dari Kantor, Tuan." Arka terdiam sejenak. "Tingkat sosial nona Irine jauh dengan Nona Lala, Tuan. Jadi mana mungkin mereka satu orang yang sama, itu tidak mungkin." Sambung Arka, mencoba menyakinkan Tuan nya.
Penjelasan Arka tentang gadis itu, membuat rahangnya mengeras. Dia tak ingin mendengar kenyataan ini, tapi kenapa hatinya selalu berkata bahwa itu 'dia' batin Kimtan.
Mengacak rambutnya gusar, Ia sungguh tak ingin percaya dengan penjelasan dari Arka.
__ADS_1
"KAU TAU. AKU SUDAH BERTEMU DENGANNYA DAN AKU SANGAT MEYAKINI JIKA ITU 'DIA' " Kimtan tiba-tiba berteriak, Ia sudah tak bisa mengontrol seluruh emosinya.
"Bahkan tanggal lahir gadis itu beda dengan Nona, Tuan. Bagaimana mungkin jika itu Nona?" Tanya Arka pelan, Ia mencoba lebih menyakinkan Kimtan dan bersabar lagi menghadapai tempramen Tuan nya.
Kimtan mengepalkan jemarinya. "Bagaimana bisa itu terjadi, jelas-jelas aku melihat 'dia' berada di gadis itu. Sangat nyata, mana mungkin aku melupakan itu, kau tau itukan mereka t-erlihat sa-ma," Kimtan tertawa lirih, dia menangis. Menangisi kenyataan hidupnya yang telah ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya.
"Bagaimana bisa seperti ini, sebenarnya kau di mana?" Ujar Kimtan bernada lirih.
Kimtan kembali melemparkan benda yang berada di dalam jangkauannya. Kali ini, vas bunga menjadi korbannya. Pria itu melemparkan vas itu ke arah lemari kaca yang menimbulkan suara pecahan yang begitu nyaring.
Arka membulatkan kedua matanya, terkejut melihat kaca besar itu seketika ambruk oleh Tuannya. "T-tuan..." ujarnya tergagap.
Kimtan mengabaikan Arka dan berjongkok mengambil pecahan kaca itu dengan tangannya, tanpa rasa takut pria itu mengepalkan pecahan-pecahan kaca dengan tangannya sehingga darah begitu saja merembes menetes kelantai.
Tak ada raut ketakutan ataupun kesakitan di wajah Kimtan, dia seakan tak merasakan apa-apa. Tatapannya pun kosong.
"Tuan, aku mohon!" Pinta Arka menatap nanar ke arah Tuan nya.
Tubuh Arka bergetar melihat lagi dan lagi pria di depannya ini melukai dirinya sendiri, meski sudah terbiasa melihatnya seperti ini tapi tetap saja Arka sangat takut. Mungkin sebaiknya setelah ini, Ia akan memerintahkan orang-orang untuk menjauhkan benda-benda seperti ini agar tak melukai Tuannya lagi.
Tapi, bukan Kimtan namanya jika pria itu menuruti perkataan Arka. Kimtan malah semakin mengeratkan kepalan lengannya.
__ADS_1
"Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakan mu dan tetap berada di sisimu, jadi aku mohon kembali padaku." gumam Kimtan lemah. Saat ini Ia seperti anak singa yang kehilangan induknya, benar-benar tak berdaya.
"T-tuan..." seru Arka. Tak bisa berbuat lebih, dia hanya bisa berdo'a agar Tuannya bisa bertemu dengan wanita lain yang bisa membahagiakannya.