
Di dalam mobil Kimtan. Irine sejak tadi hanya diam, tak ada sepatah katapun suara yang dikeluarkan olehnya membuat Kimtan menjadi serba salah dibuat gadis itu.
Kimtan membenci suasana ini, tapi dia bingung harus memulai percakapan dari mana karena jujur saja bukan hanya gadis itu yang merasa malu, dia pun sangat-sangat merasa malu.
"Pakai sabuk pengaman mu!" Ucap Kimtan langsung mencondongkan tubuhnya, membantu Irine.
Irine yang menyadari itu, tanpa sadar tubuhnya refleks mundur begitu saja. Bukan hanya itu, nafasnya pun tertahan seketika karena jarak yang begitu dekat.
Irine benar-benar merasa gugup dengan kedekatan tubuh mereka. Kedua matanya menatap kelopak mata Kimtan yang dapat dia lihat secara dekat, bulu matanya yang lentik dan memanjang membuatnya terlihat semakin tampan. Ditambah lagi wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria ini, Irine merasa sudah tak bisa lagi menahan detak jantungnya yang menggila.
__ADS_1
"Nah, kalo gini kan kau jadi aman." Ucapnya mengembangkan senyum, memperlihatkan giginya yang berbaris rapih.
"Ekheem." Irine memalingkan wajahnya ke sembarang arah, "P-adahal a-aku bisa sendiri." Bisiknya gugup, kedua tangannya meremas setetblet dengan kencang.
Kimtan terkekeh melihat reaksi gadis itu yang sangat imut di matanya. "Kau lucu yah. Padahal terlihat seperti wanita yang jutek, sombong, angkuh. Tapi lihat, wajahmu memerah hanya karena hal seperti ini saja." Goda Kimtan.
'Memerah? Mana mungkin' Batin Irine sambil memegang kedua pipinya yang memanas. Ia melirik tajam ke arah pria di sampingnya yang masih menertawainya itu, akh ini memalukan sekali kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu secara terbuka sih padanya. Batin Irine kesal.
"Baiklah-baiklah, kita akan berangkat. Jangan ngambek lagi yah, mukamu jadi jelek jika terus memanyunkan bibirmu." Ujarnya mengusap rambut Irine dengan lembut.
__ADS_1
Irine melirik pria itu yang tengah menyalakan mesin mobil, apa tidak peka yah laki-laki ini sejak tadi selalu membuatnya gugup. Akh, menyebalkan sekali dengan seenaknya menghancurkan dinding yang kokoh di dalam hatinya.
'Jangan sampai aku jatuh pada laki-laki disampingnya' Batin Irine.
Tanpa disadari, sebelum mengatakan hal itu. Ia sudah terjerat oleh pesona Kimtan lebih awal. Membuatnya terperangkap dalam sangkar yang telah dibuat dan direncanakan oleh Kimtan jauh-jauh hari.
'Ini sungguh kenyataannya, kenyataan di mana aku benar-benar jatuh cinta kembali dengan seseorang yang persis dengan kekasihnya dulu.' Batin Kimtan melirik Irine yang tengah fokus menatap keluar jendela.
'Semoga kau selalu bahagia di manapun kau saat ini. Aku pun pasti akan belajar untuk bahagia dan menata ulang serpihan-serpihan hati yang lama hancur karena kehilanganmu' Batin Kimtan, fokus menatap jalan di depannya. Ia tersenyum dan menyakinkan hatinya untuk bangkit kembali bersama orang yang sangat ingin Ia buat bahagia.
__ADS_1
Kemudian tanpa disengaja oleh keduanya, mata mereka saling bersitatap saat Kimtan menolehkan wajahnya lagi kearah Irine. Hal itu membuat situasi mereka bertambah canggung.