
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Arka yang terlihat khawatir melihat Tuan sekaligus sahabatnya, yang tengah melamun dengan raut wajah masamnya.
Pria itu mendongakkan kepalanya tersenyum sendu ke arah Arka. "Tengah berpikir.." jawabnya dengan asal.
Membuat Arka menautkan kedua alisnya karena dibuat bingung. Kemudian, Arka melirik ke arah ruangan biasa Irine bekerja dan ternyata kosong. Hah, sepertinya Arka mengerti tentang kegundahan yang Tuannya rasakan.
"Jangan terlalu berpikir keras, kau akan cepat tua nanti." Celetuk Arka pada Kimtan. "Kau ingin makan sesuatu, aku pikir dengan begitu semangatmu akan kembali lagi, Tuan." tawar Arka.
Kimtan menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan itu yang aku butuhkan." Jawabnya pelan.
"Apa kau lelah ? Kau terlihat tidak bersemangat." Tanya Arka bodoh, tidak perlu ditanyakan pun Ia sudah tau kalo Tuannya ini memang tengah berada di mood terendahnya.
"Jelas aku lelah." Sahut Kimtan keras. "Akh, kenapa wanita itu selalu berada dalam pikiranku." Teriak Kimtan merasa frustasi. Pada akhirnya Ia mengakui bahwa dirinya tengah gundah melanda hatinya karena wanita yang bernama Irine.
Kimtan menyandarkan tubuhnya di sofa panjang itu sambil merentangkan kedua lengannya, "Arka, Kau sudah menaruh sarapan untuknya kan?"
"Sudah Tuan. Saya melakukan semuanya sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Anda." Jelas Arka.
"Hm baiklah, tapi kenapa wanita itu bisa telat? Apa jalannya macet? Atau dia ada keadaan mendesak lainnya sehingga dia terlambat?" Ucap Kimtan sambil menopangkan dagunya di atas meja kerjanya. "Hey, menurutmu jika seorang wanita merespon apa yang kita lakukan padanya, apa wanita itu juga menyukai kita?" Tanya Kimtan menatap Intens wajah Arka, seakan berharap ada hal baik yang akan di katakan oleh Arka.
__ADS_1
Arka yang ditanya perihal wanitapun bingung harus menjawab apa? Sebab Ia juga belum berpengalaman jika menyangkut soal wanita. Selama ini hidupnya Ia abdikan untuk keluarga Bramasta, jadi mana ada waktu baginya untuk pergi berkencan.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya kimtan kembali.
Arka yang tak sadar jika dirinya melamun segera meminta maaf kepada Tuannya. "Maaf Tuan."
"Ah sudahlah, kau tak pernah juga berkencan." Ucap Kimtan mengibaskan lengannya.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak berpengalaman banyak mengenai wanita. Tapi yang saya tahu, meski wanita itu merespon. Tentu Tuan harus semakin gencar untuk mendekatinya, karena perumpuan suka dikejar agar Ia mengetahui seberapa dalam rasa dari pria itu." Jelas Arka seadanya. Itulah yang Arka ketahui, bukan dari pengalaman dirinya tapi dari buku atau film yang Ia tonton selama ini.
"Woahhh. Aku pikir kau tidak mengerti juga perihal ini, tapi kau jagonya." Seru Kimtan merasa takjub. "Baiklah aku akan sering-sering membuktikan perasaanku pada Irine, hingga Ia tak bisa lagi lepas dari seorang Kimtan." Ucapnya penuh percaya diri.
Di lobi, Irine berjalan dengan tergesa-gesa. Karena ketinggalan mobil Bus dia terpaksa menunggu lebih lama, hingga membuatnya telat masuk kerja. Entah apa yang akan Bos nya itu katakan, ekspresi marah Bos nya sudah terbayangkan di kepalanya dan itu membuatnya benar-benar bergedik takut.
Sampai di depan Lift Irine segera masuk dan menekan tombol menuju lantai 4 di mana tempat kerjanya berada. Untung saja di lift dia hanya seorang diri tidak seperti biasanya yang penuh membuat sesak, jika hari ini lift penuh entah apa yang akan terjadi ditambah keringatnya sudah keluar banyak pasti tak akan nyaman jika harus berdempet-dempetan.
Tring!
Pintu lift terbuka, dia melirik jam ditangannya sekilas. Kedua matanya semakin membola.
__ADS_1
"Mati aku, sudah jam 8 aku telat 30 menit." Gerutu Irine menepuk jidatnya. "Aish, apa alasan yang kuat agar Bos memaafkannya kali ini." Ucap Irine sambil berjalan tergesa-gesa.
Di depannya adalah ruangan besar, di pintu itu tercetak tulisan 'Ruangan Presedir'. Dia masih ragu-ragu apakah dia masuk atau sebaiknya hilang dari sini? Irine berjalan mondar mandir di depan pintu sambil menggigit jarinya, entah apa yang akan di lakukan gadis itu. Hingga suara pintu terbuka membuat tubuhnya langsung diam layaknya patung, tapi jika patung bukankah gak bergerak sedikitpun? Tapi lain hal dengan Irine, tubuhnya memang diam tapi perasaan takut dan cemasnya membuat siapa saja yang melihat pasti sangat menyadari jika tubuh wanita itu bergetar.
"Nona Irine." Panggil Arka.
Mendengar suara siapa yang memanggilnya, Irine langsung bernafas lega.
"Anda kenapa berdiam diri di sini?"
Irine membalikkan tubuhnya, bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman. "A-akh, tidak Tuan Arka. Saya hanya tidak enak jika harus masuk, khawatir akan mengganggu obrolan Anda berdua." Bohong. Astaga Irine bisa gila, pada situasi ini dia benar-benar bisa berbohong. Ya Tuhan maafkan Aku, ini semua demi nyawaku aku takut di bunuh oleh Bos dan Asistennya ini. Jerit Hari Irine.
"Benarkah?" Tanya Arka menatap Irine, di pandangan Arka nona Irine terlihat kacau pagi ini. Rambutnya berantakan, terlihat jelas keringat itu turun dari pelipisnya sepertinya nona Irine habis berlari.
Irine menatap ragu Arka, "Be-nar Arka." Jawabnya gugup.
"Sebaiknya Nona pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, jangan khawatir Tuan tidak akan marah meski Nona telat sekalipun." Ucap Arka kemudian pergi meninggalkan Irine yang diam tercengang di tempatnya.
"Akh, sepertinya aku memang tidak pandai berbohong." Ringis Irine sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Baiklah, sekarang pergi ke kamar mandi baru masuk ke ruangan itu." Tunjuk Irine pada ruangan Presdirnya.
__ADS_1