
Irine berjalan tergesa-gesa setelah keluar dari lift yang berada di lantai tiga di mana kamar Kimtan berada, dia mulai mencari nomor kamarnya.
"354." Gumam gadis itu terus berjalan mencari kamar yang dituju. Setelah sepuluh menit, akhirnya Irine menemukan kamar Tuannya.
"Hah.. Hah... Benar, ini kamar nomor 360." Irine berucap dengan nafas yang terengah-engah. Bagaimana tidak dari parkiran dia sudah berlari untuk sampai dengan ke tempat ini. Tanpa menunggu lama, Ia langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Mengecek kembali pesan yang di kirimkan oleh Arka, pria itu mengirimkan sandi pintu Apartemen milik Kimtan.
"I.... I-ini." Kedua tangannya menjadi gemetar saat melihat pesan tersebut. "Tanggal lahir Ka Lala." Lanjutnya, suara Irine terdengar lirih.
Jari-jari tangannya yang sejak tadi sudah siap untuk menekan, kini menjadi mengepal di udara. Keraguan tiba-tiba muncul di dalam hatinya, dia tak bisa menjabarkan perasaan yang tengah berkecamuk dalam hatinya.
Tapi,
1 Menit
2 Menit
Hingga hitungan ke tiga menit gadis itu berdiri mematung di depan pintu, akhirnya dia memutuskan untuk masuk dan membantu Tuannya.
"Tidak apa, kau harus menolongnya." Gumamnya pada diri sendiri.
Tring. Setelah memasukkan Sadi tadi, pintu berbunyi dan langsung terbuka. Pertama yang gadis itu lihat adalah kegelapan, suasana ruangan itu benar-benar gelap. Dia menjadi tak yakin jika Kimtan berada di sini, tapi mana mungkin Arka berbohong padanya.
"Permisi, Tuan." Seru Irine memanggil Tuan nya, sambil mencoba mencari saklar lampu dengan penerangan kecil dari handphone nya. "Hah, kenapa ruangan ini luas sekali." Irine menggerutu karena tempatnya yang luas sehingga tidak memudahkan Ia langsung mengetahui letak saklar berada.
Trak!
Tubuh gadis itu langsung membeku di tempat, saat semua lampu tiba-tiba menyala dengan sendirinya.
1 Detik
2 Detik
__ADS_1
3 Detik
"Argghhhhh..." Suara Irine menggema ke seluruh ruangan. "M-m-ma-af, aku bener-bener minta maaf. A-ku cuma mau..."
"Mau apa?" tanya seseorang yang diyakini oleh Irine berada di belakangnya.
Irine menolehkan kepalanya dan kedua matanya langsung membola. "TUAN!" Pekiknya terkejut dengan kehadiran Kimtan, dia bersyukur karena itu memang Tuan nya tapi dia merasa malu karena tingkahnya tadi.
"S-sedang apa Tuan disitu?"
"Bukannya Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau berada di apartemenku sore-sore gini?" Kimtan menatap Irine dengan Intens. "Lagipula dari mana kau tahu sandi apartemen ini?" lanjutnya.
"Ah." Irine menjadi kikuk, dia bingung harus menjelaskan dari mana.
"Bukannya kau cuti hari ini?" Sepertinya Kimtan belum puas, sehingga banyak bertanya pada Irine.
Mendapati banyak pertanyaan dari Kimtan, membuat Irine bingung menjawabnya. Kedua matanya bergulir ke sembarang arah, menghindari tatapan Tuan nya.
Kimtan melirik lengannya dan tak memberikan respon mengenai ucapan Irine.
Irine menatap ragu Kimtan. "B-biar a-ku obati." Ujarnya. Tanpa menunggu persetujuan Kimtan, Irine langsung menarik Kimtan ke sofa yang berada tak jauh dari mereka.
Setelah duduk, Irine segera merogoh tas nya dan mengambil alat p3k yang telah dia bawa dari rumah.
"Kau membawa itu?" tanya Kimtan tak percaya.
"Ah, benar. Tadi Aku di hubungi oleh Arka, katanya Tuan terluka makanya aku ke sini dan membawa p3k." Jawab Irine dengan santainya.
"Arka juga yang menyuruhmu datang dan memberikan sandi apartemen saya?"
Irine sedikit mengangkat wajahnya, menatap Tuan nya dengan tajam. "Jangan marahi Arka, dia kan hanya meminta tolong. Dan maaf..."
__ADS_1
"Untuk?"
"Karena masuk apartemen Tuan tanpa izin terlebih dahulu." cicit Irine.
"Tidak apa lag... Akh." Kimtan tak melanjutkan ucapannya, dia tiba-tiba meringis kesakitan saat Irine mencoba mengoleskan alkohol ke lukanya. "P-pelan-pelan." lanjutnya.
"Sudah pelan-pelan kok, lagian Tuan kenapa bisa luka begini sih." Gerutu Irine kesal, kenapa laki-laki ini begitu ceroboh sehingga terluka. Gerutu Irine dalam benaknya.
"........" Kimtan bungkam mendapati pertanyaan itu, dia kembali mengingat kejadian tadi.
"Nah, selesai." Seru Irine tersenyum cerah melihat hasil karyanya.
Kimtan tersadar dari lamunannya dan melihat lengannya. "Apa-apaan ini, masa perbannya gini?"
"Aish, aku kan bukan perawat jadi wajar saja. Lagian Tuan bukannya berterimakasih, malah mengejek Saya." Gerutu Irine kesal. "Ini bagus kok." Pujinya.
"Hn, Terimakasih." Ujar pria berdarah dingin itu dengan suaranya yang datar.
"Kalo begitu Saya izin pulang Tuan." Ujar Irine sambil merapihkan peralatan P3k yang dia bawa dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
"T-tung-gu." Ujar Kimtan sambil menahan pergelangan tangan Irine, agar tak beranjak dari sampingnya.
"Eh?"
"Sebelum pulang, temani Saya makan malam." Ujar Kimtan dengan suara rendah.
"Tapi Tuan Saya..."
"Ini perintah." Sela Kimtan menatap tajam Irine dan Gadis itu setelah di tatap tajam oleh atasannya membuat dirinya tak bisa menolak.
Diamnya Irine membuktikan bahwa gadis itu menerima perintahnya, Kimtan bangun dari duduknya. "Tunggu di sini, aku akan memasakkan untuk mu." Perintah Kimtan berjalan kearah dapurnya.
__ADS_1
Irine menatap punggung Tuan nya. "Apa dia bisa masak? Di tambah dengan luka di tangannya." Gumam Irine.