Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 61


__ADS_3

Arka berjalan memasuki ruangan Tuannya, membuka pintu itu secara perlahan. Dia langsung membungkukkan tubuhnya saat tepat berada di depan Tuannya.


"Maaf saya terlambat datang, Tuan." Ujar Arka dengan sopan.


"Duduklah." titah Kimtan tanpa menatap lawan bicaranya, dia masih fokus dengan kesibukannya saat ini.


"Terimakasih Tuan." Arka duduk di kursi sebelah Kimtan.


"Kau sudah mengantarnya?" tanya Kimtan.


Arka menatap Tuannya, jika pertanyaan ini mengenai mengantar Nona Irine ke rumahnya dari bandara tadi Ia langsung menganggukkan kepalanya. "Tepat di depan rumahnya Tuan, Anda tidak perlu khawatir."


Kimtan tersenyum miring sambil menyesap minumannya. "Baguslah." Timpalnya.


"Tuan, saya tidak mengerti dengan semua yang Tuan lakukan. Bukankah Anda sudah mengetahui keberadaan Nona La..."


"Arka!" Kimtan langsung menyela perkataan bawahannya, dia menatap tajam Arka. "Tutup mulutmu." Lanjutnya, nada suara Kimtan sangat dingin.


Kedua mata Arka membola, tidak biasanya Kimtan bersikap seperti ini membuatnya menjadi gugup. "M-ma-maafkan S-sa-ya Tuan, saya akan menjaga perkataan saya lain kali."


"Biar aku urus semuanya, kau sebagai bawahan cukup patuhi perintahku." Titah Kimtan.


"B-baik Tuan." jawab Arka dengan suara tergagap.


"Pergilah!"


Setelah mendapat perintah itu, Arka langsung pamit keluar dari ruangan Tuannya. Dia berjalan dengan linglung, di kepalanya masih banyak setumpuk pertanyaan mengenai niat dari atasannya mengenai Nona Irine dan kakaknya.

__ADS_1


Jika dilihat sejauh ini, hubungan Tuannya dengan Irine berjalan baik. Bahkan, Tuannya sangat menunjukkan kepeduliannya terhadap wanita itu. Tapi, melihat tatapan Tuannya tadi, dia menjadi sedikit meragukan semua tindakannya selama ini. Sebenarnya apa yang sedang Tuannya rencanakan? Kenapa Dia tak memberitahunya, tidak seperti biasanya.


"Ah entahlah, pikiran orang Kaya memang berbeda." Decak Arka, mencoba menghiraukan pikiran-pikiran di kepalanya.


...****************...


Dilain tempat, di rumah sederhana tengah berkumpul tiga bersaudara tengah menikmati makan malam mereka dengan hening hanya suara sendok yang saling berdenting. Melihat suasana yang canggung seperti ini, membuat Candra merasa tidak nyaman. Dia melirik kedua Kakak nya yang seakan tubuhnya berada di sini, tapi nyawanya berada di tempat lain.


" Ekehem Ka Irine." Panggil Candra. "Kata Dokter besok Ka Lala harus di bawa ke rumah sakit lagi untuk pemeriksaan selanjutnya." sambungnya menatap sang kakak.


Irine menolehkan wajahnya, memfokuskan atensinya pada sang adik. "Hm, baiklah." jawabnya singkat, kemudian menyantap makannya.


"Tapi Kak, bisakah Kakak yang mengantar Ka Lala. A-aku ada jadwal untuk ke kampus." Ucapnya menatap dengan kedua mata memohon pada sang Kakak.


"Can, jika kau tidak bisa. Kita bisa undur waktunya, mungkin saja Irine sibuk bekerja be....."


Lala menatap Irine dengan tatapan sulit di artikan, mereka memang belum bertegur sapa semenjak dia pulang dari bekerjanya.


"Ah, syukurlah." Candra menarik nafas lega, setidaknya dia bisa tenang meninggalkan Kakaknya.


"Kau fokuslah untuk belajar." Ucap Irine mengusap kepala sang adik. "Aku akan menyajikan perawat untuk membantu Ka Lala selanjutnya."


"Irine." Lala menatap adiknya, begitupula Candra. Mereka terkejut dengan ucapan Irine.


"Menyewa perawat memerlukan biaya yang lumayan besar, aku tidak ingin membebani dirimu. Aku bisa tinggal di rumah, Candra juga setengah hari doang belajarnya." Tolak Lala.


"Benar Kak, memangnya Kakak memiliki uang untuk menyewanya. Kakak juga kan harus mengirim uang untuk Mamah, tak perlu seperti itu. Biar perlu Candra cuti saja."

__ADS_1


"Tidak apa, aku masih memiliki tabungan. Untuk kalian, itu sudah cukup. Bos ku juga sudah memberikan gaji yang lebih besar, jadi percayakan padaku semuanya." Irine menampilkan senyumnya, menunjukkan pada Kedua saudaranya bahwa dia bisa. "Kalo begitu, aku akan masuk ke kamar dahulu." Pamit Irine pada kedua saudaranya.


Lala menundukkan kepalanya dengan wajah sedih, dia merasa tak berguna sebagai seorang Kakak.


...***************...


Irine melempar tubuhnya ke tempat tidur, menenggelamkan wajahnya ke bantal. Sejak tadi moodnya sedang tidak baik, hah semua ini karena pria itu. Kenapa dia selalu membuatnya seperti ini? Untuk besok, aku harus mengatakan apa yah. Irine meraih ponselnya, membuka layar ponsel itu dan langsung mengetikan pesan untuk di kirim pada atasannya.


Message


Tuan Kim.


Selamat Malam saya minta maaf telah lancang menghubungi Anda malam-malam seperti ini, tapi saya ingin meminta izin pada Tuan untuk tidak masuk kerja besok. Saya mohon.


Tring. Pesan itu terkirim, kini tinggal dia menunggu balasan dari Tuannya. Entah di izinkan atau tidak, mungkin dia akan tetap bersikukuh karena Kakak nya tidak ada yang menemani.


Mengenai Tuannya. Mungkin orang akan bingung, karena terkadang aku bersikap formal padanya dan terkadang bersikap santai. Tapi, meski Tuannya menyuruh untuk bersikap santai dia belum bisa sepenuhnya. Dia khawatir orang-orang akan salah paham dan dia tak ingin larut terbawa perasaan konyol miliknya.


Drrt... Drrt.....


Irine merasakan getaran dari ponselnya, dia segera membukanya dan benar saja itu pesan balasan dari Tuannya.


Message From Tuan Kim.


Hn, baiklah.


Gadis itu menatap kesal dengan jawaban Tuannya, meski dia senang karena pria itu mengizinkannya untuk tidak masuk kerja besok. Tapi, kenapa jawabannya datar seperti ini. "Hah Irine, apa yang sedang kau harapkan." Gumamnya menatap sendu pesan dari atasannya.

__ADS_1


__ADS_2