Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 22


__ADS_3

"Apa Anda tidak ingin pulang?" Tanya Irine, dia menatap Kimtan yang masih santai duduk disebelahnya sambil menonton acara televisi kesukaannya.


Mungkin terdengar kurang sopan pertanyaan ini, karena secara tidak langsung dia seakan mengusir tamu nya. Tapi, bagaimana tidak bertanya seperti itu sedangkan sekarang sudah jam 11 malam dan besok dia harus bekerja lagi. Paling penting, mereka hanya berdua saja di dalam satu kosan tanpa memiliki hubungan secara khusus nanti apa yang akan dikatakan oleh tetangga.


"Aku melupakan jalan pulang, jadi aku akan menginap di sini." ujar Kimtan dengan tersenyum menampilkan gigi-gigi putihnya, tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Tidak!" Jawab Irine dengan lantang, mendengar kata-kata Presdir nya membuat Ia sedikit meninggikan nada suaranya. 


"Cepat pulang!" Ucapnya lagi, Irine langsung berdiri dari duduknya dan tubuh kecilnya itu menarik-narik lengan Kimtan, berharap pria itu segera bangun dan pergi dari Kosannya.


Hanya saja, semua usahanya ternyata tak membuahkan hasil. Pria itu masih setia duduk manis di tempatnya, tanpa menghiraukan Irine yang sejak tadi berusaha menyeretnya pergi.


"Ayolah, aku butuh tempat tidur." Rengek Kimtan tiba-tiba, membuat Irine tak percaya dengan ekspresi wajah yang ditampilkan Kimtan saat ini.


"Kau lihat." ucap Irine, jarinya menunjuk ke arah jam di dinding. "Sudah pukul 11 malam, sebaiknya kau pulang."


Tak ada respon atau pergerakan dari pria di depannya membuat Irine semakin kesal.


"Aish." Desisnya melepas lengan Kimtan, Ia kemudian mengabaikan Kimtan lalu berjalan masuk ke kamarnya sambil terus mengoceh bos nya tersebut. "Padahal kau tinggal meminta Arka untuk menjemputmu atau jika bisa kau menginap di hotel sungguh menyebalkan." geramnya sambil menghentak-hentakkan kaki nya ke lantai.


"Terimakasih Irine, aku akan tidur nyenyak." Sahut Kimtan dari ruang televisi.


Setelah itu, Ia tersenyum dengan semua rencananya. Akhirnya Ia bisa berlama-lama dengan wanita yang benar-benar mengingatkannya dengan kekasihnya, tak apa jika dia harus tidur di sofa yang keras ini.


...****************...


Keesokan paginya, Kimtan terbangun dari tidurnya saat indera penciuman nya mencium bau harum makanan.


"Hm, harum sekali." Gumamnya sambil meregangkan otot-ototnya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Irine yang masih sibuk mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi ini, wajahnya terlihat seperti biasa tanpa menunjukkan emosi atau hal lainnya.


Kimtan tidak menjawab pertanyaan Irine, lelaki itu langsung bangun dari tidurnya dan duduk manis. Kedua matanya menatap pemandangan indah di depannya, yaitu Irine yang tengah memasak.


Kimtan berpikir, semua yang ada di Kekasihnya hampir ada pada Irine. Mungkin, perbedaan terbesar mereka dari sifat Irine yang terlihat dingin tak tersentuh sedangkan kekasihnya tipikal orang yang ramah dan selalu tersenyum pada semua orang.


"Nah, silahkan di makan!"  ujar Irine membawa satu piring nasi goreng campuran sosis dan baso pada Kimtan. "Maaf, hanya ini yang bisa aku berikan padamu." ucap Irine sedikit menyesal.


"Terimakasih." Ucap Kimtan tersenyum manis kearah Irine. "Selamat makan."


Irine bergabung ikut duduk di sebelah Kimtan setelah dia mengambil air minum dan menaruhnya di atas meja. Kedua matanya menatap ke arah Kimtan yang lahap menyantap masakannya, membuat hatinya menjadi berdebar. Sering bersama dengan pria ini, membuatnya semakin tidak bisa mengontrol laju detak jantungnya.


'Ah sadarlah Rin, itu tidak mungkin terjadi.' Pikirnya.

__ADS_1


...**********...


"Kenapa kau tidak cepat naik?" tanya Kimtan.


Irine menatap Kimtan bingung, kenapa dia harus naik apalagi pergi bersama. Tidak! Dia tak ingin pergi bersama pria ini, kemarin sudah banyak yang melihat apalagi sekarang? Irine segera menggelengkan kepalanya, membayangkan nya saja sudah membuatnya pusing. Lagian, kenapa pria ini menyuruh Arka datang kemari sih? Padahal semalam dia berakting tidak tahu jalan pulang segala.


"Tidak Kimtan, lebih baik aku naik mobil Bus atau taksi dibandingkan ikut denganmu." Tolak Irine menautkan kedua tangannya di depan dada. "Lagian aku kan sudah bilang padamu, aku hari ini izin masuk siang karena ada urusan dengan temanku." ucap Irine mengingatkan Kemabli pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu.


"Tidak apa, biar aku antar sebelum pergi ke kantor." Timpal Kimtan.


"Tetap saja tidak." tolak Irine, dia tetap bersikukuh dengan keputusannya.


"Dasar gadis keras kepala." Desis Kimtan meninggalkan Irine di halte bus.


"Aih apa katanya, Gadis keras kepala? Uekkkhh, kau yang keras kepala dasar pria gila" teriak Irine meski dia tahu teriakannya tak akan di dengar oleh Kimtan karena sudah pergi dengan mobilnya.


...****************...


Hari ini gadis itu meminta izin padanya untuk menemui temannya, ruangan kerjanya jadi hampa. Biasanya Ia akan memperhatikan Irine diam-diam dari meja kerjanya, tapi sekarang semuanya kosong.


"Apa sebaiknya aku telpon saja. Tapi, apa tidak keterlaluan." Kimtan mengusap wajahnya kasar, Ia tak tahu mesti seperti apa. Bisa dikatakan Ia merindukan wanita itu.


Kimtan mengambil benda pipih itu dan mengetikan sesuatu, lalu mengirimkannya pada Irine. Yah, Kimtan merasa tidak enak jika harus menelponnya dan memilih untuk mengirim pesan pada Irine.


Kapan kau kembali? Send Irine.


Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Dengan cepat Kimtan mengambil ponsel itu dan melihat notif di ponselnya, benar saja ada satu pesan masuk dari Irine.


From Irene:


Sebentar lagi.


Kimtan tersenyum membaca pesan itu dan langsung membalasnya kembali.


To Irene:


Mau aku jemput? Kirimkan alamatnya padaku.


Sudah satu menit berlalu, namun Irine tak kunjung membalas pesannya. Membuat seorang Kimtan frustasi dibuatnya.


"Akh, gadis ini kenapa selalu membuatnya jadi seperti ini." Desisnya sambil mengacak rambutnya dengan asal.


Tok.Tok.Tok

__ADS_1


Kimtan tersadar saat mendengar pintu ruangannya diketuk seseorang, Ia segera saja mengijinkan orang itu masuk.


Clek. Pintu itu terbuka dan ternyata Arka yang datang menghampirinya.


"Permisi Tuan, maafkan saya mengganggu waktu Anda." Ucap Arka membungkukkan kepalanya.


"Ada hal penting apa?" Tanya Kimtan cepat, melihat dari situasinya dia yakin Arka menemuinya bukan maksud lain selain memberikannya informasi penting.


"Ketua, Ayah Anda. Telah mengikat kembali kerjasama dengan Tuan Wijaya dan akan tetap menjodohkan Anda dengan nona Clara, Tuan." Jelas Arka pada Kimtan.


"Akh, kepalaku terasa sakit sekali." Keluh Kimtan sambil memegang pelipisnya. "Kenapa Ayah tetap bersikeras mengenai perjodohan i.... " Kimtan tak melanjutkan ucapannya, saat ponselnya kembali berbunyi.


Ting. Satu pesan masuk dari ponsel Kimtan, membuatnya buru-buru mengambil ponselnya dan langsung melihat isi pesan tersebut.


From Irene:


Baiklah. Aku berada di cafe Cantika, ini aku share lokasinya.


"Yes." Seru Kimtan senang. Ia segera mengambil kunci mobilnya, dan berjalan keluar ruangannya mengabaikan Arka yang sejak tadi terbengong karena tingkah dirinya.


"Ah, Arka. Masalah ini aku akan mengurusnya, tapi kau harus tetap mengawasi pergerakan Ayah di belakangku. Aku akan pergi keluar terlebih dahulu, jadi kau tolong handel kerjaan ku di kantor." Perintah Kimtan sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu kokoh itu, menyisakan Arka yang tengah menatap horor tumpukan berkas yang berada di meja Tuannya.


"Dia selalu seenaknya seperti ini." Keluh Arka, berjalan gontai ke arah meja kerja Kimtan.


...*********...


"Irine, kau sedang apa sih sejak tadi senyum-senyum ke handphone terus." Seru Indah merasa curiga dengan sahabatnya itu.


Irine hanya menjawabnya dengan gumaman, Ia lebih fokus pada handphonenya membuat Indah merasa terabaikan sekali sejak tadi.


"Bagaiman kabar keluargamu Rin? Aku sudah lama tidak berkunjung ke Bandung nih, kapan-kapan main yuk ke Bandung. Sekalian kamu pulang kampung hehehehe." ucap Indah sambil terkekeh.


Irine yang sejak tadi fokus dengan handphonenya kemudian mendongakkan kepalanya saat Indah menyebut kata Bandung, Ia menjadi teringat Ibu nya yang berada jauh di sana.


"Mungkin lain kali, Indah." Jawab Irine menatap kosong ke arah Handphonenya. Ia bukan tak rindu dengan kotanya ataupun dengan Ibu nya. Tapi, sepertinya Ibu nya tak akan senang jika dia pulang?


"Eumh, baiklah." Jawab Indah cepat, Ia tak meminta penjelasan apapun dari Irine. Meski Ia tahu, ada sesuatu yang mengganjal di hati sahabatnya tersebut.


"Aku akan kembali ke kantor, terimakasih sudah menemaniku mengobrol di sini." Seru Irine, cepat-cepat merapikan tasnya.


"Baiklah, aku juga akan kembali." kata Indah tersenyum. "Kau hati-hati yah di jalan."


"Eumh, terimakasih untuk makanannya." Ucap Irine memeluk Indah. "Aku pergi." pamit Irine bergegas pergi.

__ADS_1


__ADS_2