
Irine mulai membuka matanya perlahan, dirasakan kepalanya masih terasa berat. Ia merasa masih pusing, tapi ini lebih baik dari pada saat pagi tadi. Memang sejak semalam suhu tubuhnya tinggi, kepalanya serasa berputar-putar dan tubuhnya begitu lemah.
Semalam setelah mandi, tiba-tiba larut malam tubuhnya menjadi menggigil. Ia pikir ini hanya demam biasa yang keesokan paginya akan membaik. Maka dari itu Ia memaksakan dirinya untuk masuk kerja dan langsung lembur malamnya. Ternyata, meski Ia meminta izin untuk cuti terlebih dahulu pekerjaannya tetap menanti dirinya, alhasil semua pekerjaan berjejeran di meja kerjanya.
Irine juga tahu kenapa kemaren malem dirinya terkena demam, sebab sakitnya ini akibat dari aktivitas yang Ia paksakan. Sehingga tubuhnya menjadi Drop lalu jatuh sakit.
Setelah kedua matanya terbuka sempurna, Irine menatap langit-langit kamarnya.
"Akh. Candra sudah pergi belum yah?" Irine mencoba bangun dari tempat tidurnya, sambil meringis menahan sakit pada kepalanya yang terus berdenyut.
Saat tubuhnya sudah dalam posisi bangun, tak sengaja kedua matanya melihat makanan yang sudah tersaji rapi di sisi meja tempat tidurnya. Perasaannya menjadi haru seketika, sepertinya Adik laki-lakinya memasakkan makanan untuknya.
"Dia pria yang baik." gumam Irine. Dia juga menemukan secarik kertas di atas meja, lalu Ia meraih kertas yang tertera di atas hidangan yang dibuat adiknya.
'Untuk Kaka.' Bunyi pesan singkatnya.
Seulas senyum terukir di bibir manis Irine, saat melihat isi tulisan adiknya. "Dia tahu saja jika Kaka nya tengah sakit." Gumam Irine menaruh kembali kertas itu, kemudian membuka penutup makanannya. Telah tersaji makanan favoritnya waktu dulu, Candra benar-benar mengingat setiap detik kesukaannya tapi nyatanya Ia yang terlalu sibuk sendiri.
"Emh, ternyata makanan nya sudah dingin." gumam nya sedih, Irine melirik jam di handphone nya ternyata sudah siang.
Bruk.
Irine terkejut mendengar suara pintu tertutup dengan suara cukup kencang, di sana tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka sang adik tengah berdiri dengan pakaian rapinya.
"K-au sudah pulang?" Tanya Irine yang masih heran menatap adiknya, yang tiba-tiba membuat keributan kecil.
Candra tak menjawab, Ia semakin mendekat ke arah kakaknya dan mengulurkannya lengannya ke kening sang Kaka.
"Syukurlah, sekarang demam Kaka menurun." Ujarnya dengan bernafas lega, Candra memang sengaja pulang lebih cepat karena ingin memastikan apakah demam Kakaknya sudah menurun atau belum, Ia sangat menghawatirkan kakaknya.
"Apasih, kenapa kau jadi perhatian begitu padaku." Ujar Irine menepis lengan Candra dengan cepat.
__ADS_1
"Astaga kakak, wajar dong aku Khawatir padamu. Kalo kamu tidak bekerja siapa yang akan memberiku uang saku." ucap Candra dengan bercanda.
Irine langsung memukul tubuh adiknya. "Dasar anak nakal, kau cuma perhatian padaku karena uang? Siapa yang kemaren mengatakan akan membantu bekerja? Hueh dasar. "Balas Irine mencibir adiknya "Bisa-bisanya Aku tersentuh dengan perhatian adikku yang gila." Gumamnya dengan kesal.
"Dasar Tidak asik diajak bercanda nih kakak." Timpal Candra sambil tertawa.
"Sudah sana pergi lagi, aku sudah baik-baik saja. Bukankah hari ini ada pertemuan lainnya." Ujar Irine melirik ke arah Candra.
"Lagi pula aku mau makan, sono jangan ganggu." usir Irine.
Candra langsung merebut makanan di tangan Kakanya.
"Hey, apa yang kau lakukan?" pekik Irine terkejut dengan tingkah adiknya yang merebut makanan miliknya.
"Ini udah dingin, lagian kenapa kau bangun siang sekali." ucap Candra menggerutu. "Aku belikan makanan untuk mu nih, makan sekarang aku tidak ingin ada berita 'seorang gadis meninggal karena di Kosan sendiri tak makan tak minum'." sindir Candra sambil menyerahkan satu kotak makanan yang terlihat menggunggah selera.
Astaga, kata-kata adiknya memang tak pernah di saring terlebih dahulu. "Ya, ya, ya.. sana pergi, sudah jam 2 siang kau akan bertemu Profesor kan?" tanya Irine, sambil menerima kotak nasi yang diberikan adiknya.
Benar kata sang kakak. Hari ini Candra memang tengah ada pertemuan dengan Profesor nya. "Baiklah. Aku akan pergi lagi kak, tapi Kakak hati-hati di rumah. Jika ada apa-apa, tolong hubungi aku yah ka." Pinta Candra menatap Irine serius.
"Baiklah, aku pergi Kaka." pamit Candra.
Irine memandang punggung adiknya yang semakin menjauh, lalu bibirnya tersenyum ternyata adiknya sudah semakin dewasa. Bukan hanya tubuhnya sekarang sudah melebihi tinggi badannya, padahal dia pendek saat kecil. Tapi, pemikirannya pun sudah dewasa.
...****************...
Tok.Tok.Tok
Stefi mengetuk pintu ruangan atasannya, setelah beberapa detik baru Ia di izinkan untuk masuk. Terlihat atasannya tengah sibuk dengan pekerjaannya, meski begitu wajahnya semakin tampan dan rupawan.
"Permisi Presdir, saya ingin memberikan laporan ini kepada bapak." Ujar Stefi menyerahkan berkas kepada atasannya. 'Pak Presdir memang luar biasa tampan' Batin Stefi.
__ADS_1
Kimtan menerima berkas itu tanpa sekalipun melirik kearah Stefi, saat membuka laporan itu Kimtan sedikit menautkan kedua alisnya. "Bukankah ini laporan yang saya minta kepada Irine?" Tanya Presdir menatap dingin kearah Stefi.
Stefi yang ditatap wajahnya, membuat Ia bersemu merah dan jantungnya semakin berdegup. Tanpa tahu, orang di depannya dalam mood jeleknya.
"Hello, kau mendengarkan aku?" tanya Kimtan menatap Stefi dengan raut aneh.
"Oh Iyah Presdir." Jawab Stefi tersadar dari lamunannya. "Maafkan saya."
"Lalu kenapa kau yang mengantarkannya padaku, kemana Irine?" tanya pria tampan itu lagi, mengulangi pernyataan nya tadi.
Stefi sedikit gugup, saat Presdir menatapnya tajam. "Irine izin untuk tidak masuk Presdir?" Jawab Stefi.
"Lagi? Kenapa Ia selalu suka sekali izin." Desis Kimtan.
"Bukan seperti itu Presdir, kemaren memang Irine izin cuti. Tapi kali ini Ia tidak masuk karena sedang sakit, semalam Ia menghubungi saya." Sahut Stefi cepat, mencoba lebih menjelaskan kondisi Irine.
"Di mana alamatnya?" tanya Kimtan tiba-tiba.
"Heh?" Stefi terlihat terkejut dan bingung secara bersamaan. "M-aksud Presdir alamat saya?" tanya Stefi memastikan pertanyaan dari atasan nya tersebut.
Kimtan menatap tajam wajah Stefi,. "Alamat Irine." Jawabnya dingin.
"Ah." Stefi menjadi lemas, Ia pikir Presdir nya menanyakan alamat dirinya. Padahal sudah merasa senang seperti ini, tapi dijatuhkan lagi dengan kenyataan.
"Dia tinggal di Kosan yang tak jauh dari sini Presdir, Kosan Sukma lLY anggrek." Jawab Stefi.
"Hm, baiklah kau pergi sekarang." Perintah Kimtan pada Stefi, setelah mendapatkan sedikit informasi tentang Irine. Pantas saja wanita itu tak pernah terlihat batang hidungnya beberapa hari ini.
"Terimakasih Presedir, saya pamit undur diri." ucap Stefi, berjalan keluar dari hadapan Atasan nya.
Setelah berada di meja kerjanya, Stefi baru tersadar dan merutuki kebodohannya karena telah memberikan alamat Irine pada Presdirnya tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Irine. Dirinya pasti akan kena amuk Irine, jika gadis itu tahu masalah ini.
__ADS_1
"Aduh kacau nih, bagaimana jika Irine marah padanya." Stefi menjambak rambutnya kesal dengan kebodohannya. "Tapi, jika dia tak memberikan alamat Irine dia sudah pasti lebih dulu di amuk oleh Presdir nya." Bela Stefi untuk dirinya.
"Dibandingkan itu semua.....-" Stefi menjeda suaranya, kembali membayangkan wajah Presdirnya yang sangat tampan. "Presdir begitu tampan, aku tak bisa menolaknya." Ujar Stefj memegang kedua pipinya yang sudah merah merona, membayangkan kembali bagaimana sempurnanya wajah CEO nya.