Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 32


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu luangnya hingga menjelang malam hari bersama Ibu nya, Kimtan akhirnya mengantarkan perempuan yang sangat berjasa dalam kehidupannya itu pulang ke rumah.


"Sayang, kamu serius gak mau mampir dulu ke rumah?" Tanya Isabel sekali lagi pada Putranya.


Kimtan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap Ibu nya, entah sudah berapa kali Ibu nya mengatakan hal itu.


"Tidak, lain kali saja. Setelah ini Saya ada keperluan dengan Arka, maaf yah Bu." ucap Kimtan menolak permintaan Ibu nya.


"Hm, baiklah Nak. Kau harus jaga pola makananmu, jangan lupa untuk mengunjungi Ibu mu yang sudah tua ini." Ucap Isabel memeluk putranya, Ia mengusap lembut punggung putranya. Ia senang karena hubungan dengan putranya sedikit membaik, Ia harap ini akan tetap berlanjut dan tidak ada lagi kesalah pahaman diantara mereka.


"Baik, Saya pasti akan mengunjungi Ibu. Tolong jaga kesehatannya, salam untuk Ayah." Ucapnya lembut.


Setelah salam perpisahan, Kimtan kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya keluar pekarangan rumah orang tuanya. Dia mencoba menghubungi Arka.


'Halo Tuan.'


"Kau di mana?" Tanya Kimtan langsung menanyakan keberadaan asistennya itu.


"Aku berada di salah satu rumah sakit yang berada di Jakarta Tuan, apa Anda butuh sesuatu Tuan?" Tanya Arka.


"Hn, aku perlu bertemu denganmu. Setelah kau beres dengan urusanmu di sana, segera hubungi aku saat itu juga." Perintah Kimtan. Ia langsung mematikan panggilannya dan melepas Earphone yang bertengger di telinganya.


"Aku harus menyelidiki semuanya, aku masih belum percaya jika Irine tak memiliki hubungan apapun dengan Lala." Gumam Kimtan sambil meremas stir mobil itu dengan kencang.


...****************...


Isabel baru saja menutup pintu rumahnya setelah diantar pulang oleh putranya, baru saja dia bernafas lega hingga Ia dibuat terkejut oleh suara suaminya.

__ADS_1


"Kau senang sudah berbaikan dengan Putramu?" Tanya Suaminya yang tak berada jauh darinya, sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.


Isabel membuang muka. "Heuh, ini kan ulah mu yang membuat Putraku salah paham dengan Ibu nya." ucap Isabel menyindir lelaki dingin yang selama ini menjadi suaminya.


"Kau tau, aku senang Kimtan sudah mau berbicara padaku. Meski kami terlihat canggung, tapi tidak apa aku tetap senang." Kata Isabel sambil memainkan jarinya.


"Hmm, syukurlah jika begitu. Aku ikut senang mendengarnya, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan tentang Kimtan lagi. Ia sudah besar bukan anak kecil dulu kita lagi, hmm?"


" Iyah pokoknya jangan libatkan aku lagi pada setiap pertikaian kalian, pokoknya aku gak suka." ucap Isabel dengan tegas.


"hn, baiklah." ujar Pria itu merasa kalah.


Isabel mendongakkan kepalanya, menatap suaminya yang juga menatapnya. "Ah Iyah, lalu bagaimana dengan keputusanmu mengenai perjodohannya dengan anak temanmu itu?" tanya Isabel merasa was was.


"Aku menundanya terlebih dahulu, itu pinta Kimtan padaku siang ini." Jawab Pria berperawakan kekar itu.


"Apakah itu berarti Kimtan secara tidak langsung menyetujui perjodohan itu? Apa maksudmu sayang, aku kurang mengerti." Tanya Isabel menautkan kedua alisnya, meminta penjelasan suaminya.


"Ukh, ingin rasanya aku merekam tingkah mu yang seperti ini. Lantas aku berikan pada bawahan mu, entah bagaimana reaksi mereka seperti apa, hahahaha." Isabel tertawa jika membayangkan hal tersebut membuat Suaminya merajuk dan menggendong Isabel ala Bridal style menuju kamar mereka.


"Astaga sayang, kau membuatku terkejut." Ujar Isabel sambil memukuli dada suaminya.


"Siapa suruh kau menggoda suamimu, malam ini pokoknya kau harus di hukum!" Seru Tuan Bramasta, mengabaikan kata-kata Istrinya yang memberikan berbagai alasan.


...****************...


"Ternyata anak itu bersungguh-sungguh untuk tidak pulang ke rumah." Gerutu Irine, berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Entah kenapa kepalanya jadi berdenyut nyeri, padahal sudah kaki yang sakit juga sudah menyiksa ini di tambah sakit kepala. Kepalanya langsung memberikan Alarm peringatan, untuk tidak pergi jalan-jalan dengan Stefi. Hueh, mengingatnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


Memang Irine adalah wanita yang berbeda, dia type yang tak suka banyak berbelanja apalagi sampe seharian full mengelilingi Mall.


"Jam berapa sekarang?" Gumam Irine menatap pada ponselnya. "Uekh, sudah tengah malam ternyata. Sebaiknya aku Istirahat, agar besok kembali segar dan tidak datang terlambat lagi." Gumam Irine merebahkan tubuhnya di tempat tidur miliknya.


1 detik


2 detik


..


5 detik


Kini Irine sudah terlelap dalam tidurnya, membuat orang yang sejak tadi mengamatinya berani memunculkan diri.


"Kau demam?" Bisik seseorang itu dengan sendu.


Pria itu kembali keluar, mencari sesuatu guna membantu demam Irine turun.


"Padahal, tadi dia baik-baik saja. Kenapa tubuhnya sering sakit?"


"Tuan Kimtan, kenapa Anda terlihat gelisah?"


Kimtan, sosok lelaki itu terkejut dengan kedatangan Arka yang tak Ia sadari. "Kau mengikuti ku?" tanya Kimtan menatap Arka dengan kesal.


"Maaf Tuan, Saya hanya mengkhawatirkan Anda." Ucap Arka dengan tenang. "Sebaiknya Anda pulang, Tuan." pinta Arka.

__ADS_1


"Tidak!" Tolak Kimtan cepat, setelah mendapatkan apa yang diperlukan Kimtan kembali berjalan ke arah kamar Irine sambil membawa bak yang berisi air.


Arka menarik nafas putus asa, Tuan nya memang keras kepala. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggui nya di sini.


__ADS_2