
Kimtan menatap sebentar ke arah di mana meja Irine berada. Di sana dibalik tiang yang menjulang tinggi, dia melihat Pelayan yang tadi Ia suruh sepertinya sudah memberikan bingkisan itu pada Irine. Kimtan sedikit bernafas lega, sehingga Ia berjalan kembali ke mejanya di mana sang Ibu berada.
"Maafkan Saya Bu, karena membuat menunggu lama." Sesal Kimtan, Ia menarik kursi itu dan mendudukkan pantatnya.
Isabel menatap Putranya, Ia merasa ada yang sedang terjadi pada anaknya. Tapi apa? Lalu bola matanya melihat putranya saat ini sedang tidak fokus.
"Tidak apa Nak, Kau terlihat seperti orang kebingungan. Apa ada masalah dengan teman mu itu?" tanya Isabel dengan pelan.
"A-ah, semua nya baik-baik saja. Saya hanya cemas karena meninggalkan Ibu terlalu lama seorang diri, untuk itu Saya sedikit berlari untuk kembali." Bohong, Kimtan terpaksa berbohong karena Ia tahu Ibu nya pasti akan semakin penasaran dan terus menanyakannya.
Isabel menganggukkan kepalanya mengerti. "Makananmu jadi dingin, apa perlu Ibu suruh pelayan untuk membawakan yang baru?" Tanya Isabel menatap hidangan yang sudah disajikan oleh pelayan resto ini beberapa menit yang lalu.
"Tidak perlu Bu, Saya akan memakannya." Tolak Kimtan secara halus, kemudian memulai menyantap makanan yang telah Ibu nya pesan. "Ini enak, silahkan Ibu juga makan." seru Kimtan tersenyum kecil.
"Benarkah? Syukurlah jika kamu masih menyukai nya, Sayang." timpal Isabel tersenyum senang.
Isabel mengeratkan pegangan pada sendok, entah kenapa dia belum bisa melepas dinding pembatas yang dibangun putranya. Dia paham, setelah apa yang terjadi pasti akan sulit untuk Kimtan terbuka padanya. Meski mulut itu mengatakan 'tidak apa' tapi dia sangat yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh Putranya ini. Terlihat dari gestur tubuhnya yang sejak tadi merasa tak nyaman, bola matanya yang sesekali menatap ke arah sisi Resto.
"Setelah ini kau akan pulang ke rumah kan?" Tanya Isabel mencoba mengambil alih perhatian Putranya.
"Ah, sepertinya tidak. Saya akan tetap tinggal di Apartemen, karena jarak kantor lebih dekat dibandingkan dari rumah." Tolak Kimtan cepat.
Mendengar itu, wajah Isabel menjadi masam.
"Ibu tenang saja, Saya pasti akan berkunjung sesekali menemui Ibu." Gumam Kimtan, saat melihat ekspresi wajah Ibu nya yang tertekuk.
"Ibu sangat menantikannya Nak." timpal Isabel.
Kimtan benar-benar tidak bisa fokus makan bersama Mamahnya, yang ada di kepalanya saat ini hanya Irine, Irine dan Irine seorang.
...***********...
Mereka memutuskan untuk pulang, Stefi mengantar Irine terlebih dahulu ke tempat Kosannya. Di perjalanan, Stefi sesekali melirik ke arah Irine yang tengah menatap keluar jendela.
"Rin...." panggil Stefi.
"Hn." jawabnya datar.
"Are you Ok?" tanya Stefi yang khawatir.
"Hm, aku baik-baik saja." Jawab Irine. "Sepertinya kau penasaran, Stefi." celetuk Irine membuat Stefi terkejut.
__ADS_1
"Wah sepertinya kau mengetahui isi otakku." Ujar Stefi terkekeh.
"Yah, aneh saja jika kau tak merasa penasaran dengan apa yang terjadi di Restoran tadi." Seru Irine.
"Dari kemarin juga aku curiga Rin, sepertinya di antara kalian ada 'Sesuatu yah'..." Kata Stefi menatap Irine, mencoba mencari kebenaran dari tatapannya.
"Apa'an sih, jangan melihatku seperti itu serem tahu." Seru Irene sambil terkekeh dengan tingkah Stefi yang dibuat-buat menjadi imut, padahal umur sudah masuk kepala dua.
"Lagian, aku penasaran tau masalah dirimu dengan Presdir. Padahal aku suka sekali sama dia, tapi dia sama sekali tidak melirikku yang ada hanya Irine. Hueh, ternyata gini yah derita orang cantik dibawah Irine." Celetuk Stefi dengan wajah yang dibuat menyedihkan.
Irine yang mendengar itu hanya mem-beo, tak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya ini. Sebenarnya otaknya ke mana sih? Padahal sudah dikasih wajah dengan bentuk body goals juga.
"Aku tau isi kepalamu itu, Stefi Amanda! Kau seharusnya bersyukur, punya wajah seperti itu." Ucap Irine sambil memukul Stefi tepat di bahunya.
"Aw. Kau yah, awas nanti aku balas." Ucap Stefi yang masih fokus mengemudi.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan Kosan Irine. Stefi sedikit menepikan mobilnya, agar tak menghalangi kendaraan lain lewat.
"Kau mau mampir tidak?" tanya Irine, yang hendak keluar dari mobil Stefi.
"Boleh deh." Jawab Stefi yang ikut keluar juga. "Udah lama juga gak mampir ke tempat mu." lanjutnya.
"Wah, sudah lebih besar dibandingkan sebelum-sebelumnya yah."Seru Stefi melihat area dalam Kosan Irine.
"Ha.Ha.Ha." Irine tertawa sambil tertidur terlentang di atas sofa. "Ialah, kan aku pindah kosannya ke yang lebih besar."
"Hahaha benar juga." timpal Stefi tertawa. "Kau tahu, ini mengingatkan aku pada kejadian tempo dulu itu." sambung Stefi menolehkan wajahnya kearah Irine.
"Hahaha kau benar, saat itu kau menginap di Kosanku. Karena area nya yang memang sempit kita jadi kesusahan." ucap Irine sambil tertawa jika mengingat hal lucu itu.
"Hah, ternyata waktu telah lama berlalu yah." Kata Stefi tersenyum lembut, memandang langit-langit kamar ruang Tv Irine.
"Rin...." Gumam Stefi.
"Hm?" Sahut Irine, Ia menutup kedua matanya meresapi angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.
"Aku tahu kau sudah mencintainya." Celetuk Stefi tiba-tiba, membuat kedua bola mata Irine membola.
"Dia Bos di kantorku." Jawab Irine tersenyum sendu.
"Lalu?" Tanya Stefi kembali.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, kami baru beberapa bulan ini kenal. Dia juga baru menggantikan Ayahnya sebagai Presdir." timpalnya menatap Stefi.
Irine melihat Stefi ekspresi di wajahnya, seakan berkata memangnya kenapa kalo Bos?
"Bukankah itu bagus, kau juga mencintainya. Dia juga terlihat laki-laki yang baik dan peduli padamu, apa yang membuatmu meragukan itu?" Tanya Stefi bingung dengan jalan pikir sahabatnya ini.
"....." Hening, Irine tak tahu harus menjelaskannya seperti apa.
"Menurutku kenapa tidak kau coba saja, lagipula gak ada salahnya jika kau mencoba membuka hatimu untuknya." Ucap Stefi memberikan sarannya pada Irine.
"Tapi Stefi, itu tidak semudah yang kau pikirkan." Cicit Irine dengan suaranya yang parau. "A...ku takut dan gak percaya diri."
"Apa masih ada yang kau ragukan dari Kimtan? sepertinya dia benar-benar tulus padamu. Bahkan dia memperhatikan sedetail itu tentang kamu. Dia juga perhatian." ucap Stefi menatap bingkisan yang di letakkan Irine dengan asal di lantai.
Irine mengikuti tatapan Stefi, dia juga tak tahu entah kenapa Kimtan menyuruh pelayan untuk memberikan bingkisan itu padanya.
"Bukan dia, tapi diri aku sendiri. Ku pikir saat ini, aku belum siap untuk menerima laki-laki dalam kehidupanku." Irine menarik nafasnya dalam, mungkin Stefi akan lebih mengomelinya karena memberikan alasan yang selalu sama seperti yang lalu-lalu.
"Itu masalahnya ada pada dirimu sendiri, jika kau memang tidak ingin menerimanya ya sudah. Jangan diam-diam menangis, tidak perlu mendramatisir perasaanmu." Ucap Stefi sedikit meninggikan nada bicaranya.
Di sini Stefi mulai terbawa emosinya, entah kenapa Ia keberatan dengan alasan Irine yang tak masuk di akal. Ia bangunkan tubuhnya dari posisinya, sepertinya hormonnya tidak sedang dalam keadaan stabil.
Irine sedikit terhenyak, ternyata Stefi tahu jika dia diam-diam menangis. "Aku tahu pasti kau akan emosi, tapi aku juga ingin fokus dengan keluargaku."
"Itu hanya alasanmu Rin, itu hanya alibi mu. Kau menyakiti dirimu sendiri, jujurlah dengan hatimu sayang." Pinta Stefi merengkuh kedua pipi Irine dengan kedua tangannya.
"...." Irine menatap Stefi yang menatapnya tajam, Ia jadi menciut jika ditatap seperti ini oleh Stefi.
"Oke, oke. Aku tidak akan memaksamu lagi, semua keputusan ada pada hatimu. Nyesel nggak nya itu sudah konsekuensi mu, asal nanti jangan sampai gantung diri kalo cowo setampan Kimtan malah berbalik jatuh cinta dengan diriku." Seru Stefi sambil terus mencubit-cubit kedua pipi Irine yang chubby.
Hah, adakalanya Irine sangat menggemaskan jika bertingkah seperti ini.
"Kau Istirahat yah, Rin. Apa aku perlu menemanimu di Kosan sampai besok?" Tanya Stefi yang terlihat masih khawatir.
"....." Irine menggelengkan kepalanya lemah, Ia tak bisa mengeluarkan suaranya karena Stefi masih terus memain-mainkan kedua pipinya.
"Baiklah, kalo begitu karena hari sudah sore. Aku pamit dulu yah" Pamit Stefi melepas tangannya dari pipi Irine.
"Ouh." Irine memegang kedua pipinya yang terasa sakit karena di cubit oleh Stefi sekeras itu, sebelum wanita itu pergi tadi. "Stefi sialan." Pekiknya sambil terus memegangi kedua pipinya yang terasa panas.
Setelah kepergian Stefi, hati Irine menjadi hampa kembali. Ada banyak hal yang tidak Ia ceritakan masalahnya pada Stefi.
__ADS_1