
"Stefi, kau tumben gak bareng Irine?" Tanya Bagas yang tiba-tiba saja menghampiri Stefi.
Stefi yang baru saja kembali dari Kantin membalikkan tubuhnya, Ia menatap ke arah Pria tinggi itu dengan tatapan yang dingin.
"Kenapa Bapak selalu menanyakan Irine pada Saya?" Tanya Stefi dengan sewot, gadis itu mencoba mengabaikan atasan nya dengan berlalu pergi menuju meja kerjanya.
"Kau 'Kan temannya." timpal Bagas, berjalan mengekori Stefi.
"Tanyakan saja pada Irine, Bapak 'kan punya nomornya. kenapa tidak langsung menghubunginya dan langsung bertanya padanya." Ujar Stefi menatap tajam ke arah Bagas, sepertinya dia kesal dengan kata-kata atasan nya tadi.
Bagas menggaruk lehernya yang tak gatal, Ia merasa sedikit takut kalo Stefi sudah meresponnya dengan ketus.
"Hehehe. Aku gak enak, kemaren kan kau tau Irine marah dan mengabaikan pesan dariku." Ucap Bagas, memberi alasan.
Bibir Stefi tersenyum saat mendengar perkataan Bagas. "Bapak menyukai Irine yah?" tanya Stefi dengan santai nya sambil memakan roti panggang yang dia bawa dari kantin.
Mendapati pertanyaan seperti itu dengan tiba-tiba membuat Bagas sedikit salah tingkah, meski begitu dia mencoba mengelak nya. "T-tidak Kok, apasih Stef. Nanti orang denger dan bergosip lagi." Ucapnya sambil tertawa dengan garing.
Jawaban Bagas seperti tak memuaskan untuk gadis itu, membuat Stefi menatap curiga ke arah Bagas. Bibirnya semakin melengkung tersenyum seperti evil, mood gadis itu tiba-tiba berubah dibandingkan tadi sekarang Ia tersenyum ceria.
"Astaga, aku berkata serius loh Stef." Sangkal Bagas lagi, benar-benar menepis pertanyaan yang dilontarkan Stefi padanya. " Kau jangan menyebarkan yang tidak-tidak!" sambungnya dengan nada suara yang sedikit mengancam.
"Wah gimana yah? Kadang Saya gak bisa mengontrol mulut ini. Gimana yah kalo Irine tau-
Bagas langsung membungkam bibir Stefi dengan tangannya, suara Stefi begitu keras meski Karyawan lain belum kembali dari kantin tapi dia takut akan ada yang mendengarnya.
"Sssttt, kecilkan suaramu Stef." Bisik Bagas, keduanya menatap sekitar ruangan wanti-wanti ada yang mendekat. Saat di rasa aman, Bagas langsung melepas lengannya dari bibir Stefi.
"Aku akan tutup mulut, tapi ..."
Bagas Menatap curiga ke arah Stefi, sepertinya dia tau isi dari otak kecil Gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Sudah katakan saja, apa mau mu." ujar Bagas, dia menyesal mendatangi Stefi siang ini.
Dalam hati Stefi bersorak senang.
"Saya akan mengabari mu nanti, ya sudah sana pergi! Gini-gini pekerjaan Saya banyak." Ujar Stefi mendorong punggung Bagas untuk pergi dari tempat kerjanya.
Dengan gontai Bagas meninggalkan area tempat kerja Stefi, entah kesialan apa yang telah dia perbuat di masa lalu sehingga harus memiliki bawahan seperti Stefi.
...**********...
Sampai di Cafe, Irine mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sahabatnya itu di setiap penjuru cafe. Jujur saja cafe ini luas dan dirinya tidak bisa melihat begitu jelas, di sini begitu banyak orang yang berlalu lalang.
Awalnya, Ia sempet menolak ajakan Indah karena sebetulnya Ia telah mengambil cuti beberapa hari yang lalu. Tapi setelah berbicara dan meminta izin libur satu hari lagi , ternyata dia di izinkan. Setidaknya dia bisa lega, karena tak menolak ajakan kawan lamanya untuk bertemu.
"Irine."
"Rin."
Di tengah pencariannya, ada seseorang yang memanggil namanya berulang kali. Ia pun menolehkan wajahnya lalu tersenyum, saat wanita yang sangat dia kenal melambaikan tangan kearahnya. Langsung saja Irine menghampirinya, tempat duduknya terletak di dekat jendela.
" Tidak masalah, kau segera pesan menu nya kebetulan aku sudah memesan pesananku." ucap Indah langsung menyodorkan buku menu pada Irine.
"Sini. Kebetulan aku sungguh lapar sekali." Ujar Irine langsung menyambar buku menu dari tangan Indah.
"Apa kau sungguh ada waktu luang mengajakku ke tempat ini? Bagaimana dengan suamimu?" Tanya Irine, merasa tak enak.
"Aku sih hari ini sibuk banget, padat malah. Tapi sudah beres semua urusan di rumah sakit." Jawab Indah penuh dengan semangat. "Soal Suamiku, malahan dia menyuruhku untuk berkumpul bersama kalian." Sambung Indah menarik nafasnya karena terlalu bersemangat.
"A-a," Irine tersenyum, "aku kira kau kabur." Gurau gadis itu.
"Aishhh, Anak ini." Seru Indah hampir saja menjitak kepala Irine jika saja tidak ada pelayan yang datang membawa makanan pesanan Irine.
__ADS_1
"Kenapa kau dari tadi memanggilku Nona Muda terus menerus, Sedangkan kemaren? Kau tau telingaku hampir mati rasa mendengarnya." kata Indah dengan suara kesal.
"Maafkan aku, kemaren aku benar-benar kesal padamu." Jawab Irine terkekeh.
"Hm-hmm, baiklah. Itu memang salahku" Ujar Indah menatap wajah Irine, ia merasa sangat bersalah padanya.
"Irene," Panggil Indah.
"Yah?" Irine menolehkan wajahnya kearah Indah, bibirnya melengkungkan membentuk senyuman.
"Kau tahu, hari ini aku mendapatkan Pasien baru. Akh, aku kasihan padanya."
"Lalu?" Tanya Irine mendengarkan cerita dari Indah. Kedua matanya terpusat pada wajah Indah, menunggu apa yang akan sahabatnya itu ceritakan lagi.
Pasien? Siapa?
Entah kenapa Irine ikut penasaran mengenai hal ini, tidak seperti biasanya.
"Hari ini. Dokter yang merawatnya adalah Dokter Kevin, Seniorku di rumah sakit. Kebetulan Ia mengatakan padaku, bahwa Pasien itu adalah pasien pindahan dari rumah sakit dari Kota lain. Sepertinya dia mengalami Koma, karena yang aku tahu dia mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu dan membuatnya tak sadar sejak kecelakaan itu." Jelas Indah, memulai ceritanya.
"Lalu keluarganya bagaimana?" Tanya Irene.
"Itulah, sangat di sayangkan." ucap Indah dengan wajah murung.
"Kenapa?" tanya Irine, semakin penasaran.
"Dia tak memiliki identitas, karena identitas nya terbakar saat kecelakaan. Itu yang aku tahu." Timpal Indah.
"Wah, seperti di TV itu yah." gumam Irine.
"Saat Dokter Kevin memberitahuku pertama kali juga, aku berpikirnya begitu." Timpal Indah menyetujui perkataan Irine.
__ADS_1
"Sudahlah, bahas yang lain saja, aku jadi ikut sedih mendengar pasien itu." Ucap Irine, entah kenapa Ia menjadi teringat dengan seseorang.
"Hahaha Kau sampai hampir menangis, Irine yang dingin menangis." Ledek Indah tak bisa menahan tawanya.