Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 47


__ADS_3

Candra yang baru saja selesai mandi, dibuat terkejut oleh notifikasi Ponselnya yang menunjukkan banyak panggilan tak terjawab dari Kakanya Lala. Bukan hanya kakanya, kekasihnya pun, beberapa kali mengiriminya pesan. Sejak pagi, dia memang sengaja mensilent ponselnya karena banyak nya tugas yang harus dirinya bereskan. Dan baru saja dibicarakan, ponselnya kembali bergetar. Benar saja itu kakanya, merasa khawatir akhirnya Ia memilih menghampiri kamar kakaknya.


Tok. Tok. Tok.


Sahutan tak kunjung dia dapat, Candra sedikit khawatir. Dia mencoba membuka pintu kamar Kakanya, ternyata tak terkunci.


"Ka Lala, aku masuk yah?" Kata Candra, meminta izin untuk masuk ke kamar kakaknya.


Clek!


Pintu terbuka, Candra melihat kamar yang gelap, dia meraba-raba tembok dan langsung menyalakan lampu setelah menemukan tombol saklar.


Setelah lampu dinyalakan. Kamar menjadi lebih terang, Candra melihat Kaka nya yang masih terbaring di atas tempat tidur.


"Hai Ka, ada apa tadi menelpon? Maaf yah, Candra baru saja selesai mandi. Jadi tak tahu jika Kaka menelpon, heheehe." Ucap Candra menjelaskan kondisinya tadi sambil terkekeh.


Masih tak ada respon dari Kakanya, entah apa yang tengah gadis ini pikirkan, matanya terlihat sayu dan lelah.


"Hey ka, ada apa? Kau bermimpi buruk?" Tanya Candra menghampiri Kakaknya, terlihat kekhawatiran di wajah tampannya. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu, kak?" Tanya Candra kembali.


"Apa Irine sudah pulang?" Tanya Lala tiba-tiba, kedua mata Lala masih terlihat kosong.


"Kak Irine?" Candra sempat bingung, kenapa Ka Lala menanyakan Ka Irine terus menerus. "Sepertinya Kaka Irine langsung pergi bekerja dari rumah temannya, kemarin kan kaka menginap di rumah temannya. Kau tak perlu mengkhawatirkan ka Irine." Jawab Candra mencoba menenangkan kakanya Lala.


"Apa kau yakin dia bersama temannya, bukan diculik atau semacamnya?" Tanya Lala dengan raut khawatir.


"Tentu tidak Ka, tadi aku sudah menghubungi Ka Irine. Apa Kaka mau berbicara dengannya?"


Lala menarik nafasnya mencoba mengontrol emosinya, entah kenapa dia sensitif soal ini. Perasaan nya jadi tak tenang. "Apa dia menelponmu?"


"Tidak kakak, sudahlah ka. Jangan mengkhawatirkan ka Irine, dia sudah besar. Tentunya bisa menjaga dirinya sendiri, bahkan sebelumnya ka Irine tinggal sendiri di kosan kecil dan sempit." Ujar Candra, mencoba membuat Lala menjadi tenang.

__ADS_1


"Sudah yah ka, aku balik ke kamar lagi. Kalo butuh sesuatu, telpon saja yah." Candra meninggalkan Kakanya Lala, lalu menutup kembali pintu kamar dan kembali ke kamarnya.


"Aduh, ka Irine ke mana sih? Kenapa gak bilang-bilang kalau gak pulang sih." Ringis Candra mengutak-atik telpon genggamnya, mencoba menanyakan di mana Kaka sulungnya itu berada.


...************...


kehidupanku seakan terombang-ambing ombak lautan, hingga terdampar pada situasi yang seperti ini. Begitu banyak kerikil-kerikil yang menghalangi, seakan tak ada lagi hari esok yang bisa aku lalui.


Aku tahu, seharusnya aku tidak membuka hatiku untuknya. Tapi, ketidakberdayaanku menghapus semua penolakan yang ada di otakku ini.


Kimtan. Pria itu bagai candu untuknya, ini baru pertama kali untuk Irine. Merasakan kegilaan yang membuatnya harus menghianati dirinya sendiri, hanya karena cinta. Kali ini, dia terpaksa berbohong dengan adiknya bahwa Ia tengah berada di Kantor dan menginap 2 hari ini di rumah teman. Dia terpaksa mengatakan itu, karena tak ingin adiknya khawatir.


"Rin" Panggil Indah. "Ayo masuk, acaranya sudah mau dimulai tuh." Ucap Indah menggandeng lengan Irine.


"Hah, yah. Maaf." sahut Irine, ternyata pikirannya masih di tempat lain. Pagi tadi, dia beralasan pada Kimtan bahwa Ia akan menghadiri pernikahan seorang teman dengan Indah. Entah kenapa pria itu setuju-setuju saja membiarkan dia pergi dari apartemen nya, padahal semalam dia bersikeras menahannya.


"Kau terlihat banyak pikiran, Rin." celetuk Indah membuat Irine tersenyum canggung.


"Tentu saja tidak, hanya lelah saja." jawab Irine asal.


"Wah, Rin. Kau lihat, pestanya benar-benar luar biasa. Orang kaya memang selalu beda." bisik Indah menatap takjub semua dekorasi.


Irine pun menyetujui perkataan Indah, acara yang berlangsung di hotel berbintang dikawasan Jakarta serta ruangan  yang telah dihias sedemikian rupa terlihat bak sebuah istana. Tepat ditengahnya lampu berukuran besar memancarkan cahanya keseluruh ruangan.


Rangkaian bunga-bunga terpajang di setiap pilar-pilar yang menyangga langit berbuntak seperti  kubah sebuah masjid.


Namun, meriahnya acara yang tengah berlangsung.


Beberapa detik lagi acara akan di mulai, begitu juga status temannya itu yang akan berubah hanya dalam hitungan jari saja. Kini hanya dirinya wanita yang belum menikah di angkatannya waktu SMA tanpa terasa Irine menghembuskan nafas kasar, mungkin orang-orang akan berpikir dirinya akan menjadi perawan tua. Hah, memikirkan hal itu saja membuatnya pusing.


Cklek.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu tinggi itu terbuka, Irine dan Indah menolehkan wajah mereka. Indah yang sejak tadi sangat antusias agar cepat melihat pengantin harus menghela nafas kecewa karena yang keluar dari pintu besar itu bukanlah mempelai wanita melainkan seorang pria tampan dengan setelan jas berwarna navy yang sangat pas melekat di tubuh pria itu.


"Bukankah dia bos mu itu?" Tanya Indah masih dengan wajah yang kecewa.


Irine yang mendengar kata bos di sebut Indah, langsung menolehkan wajahnya. Benar saja, wanita itu terkejut kedua bola matanya langsung membulat.


"A-h yah." Jawab Irine seadanya, karena jujur saja dirinya masih sangat sohk dengan kedatangan pria yang bernama Kimtan. Saat ini yang ada di kepala Irine, sedang apa pria itu datang ke pernikahan temannya? Apa dia kenal dengan mempelai pria atau wanita? Irine segera memalingkan wajahnya, saat pria yang bernama Kimtan itu melirik ke arah di mana dirinya duduk. Irine tak ingin bertemu dengan pria itu saat ini, padahal pagi tadi Ia sebisa mungkin menghindari Kimtan. Tapi malah mereka di pertemukan di acara pernikahan temannya, jika saja dirinya tahu Kimtan akan datang. Mungkin Irine tak perlu datang ke undangan temannya ini.


Lamunan Irine buyar, saat tepukan orang-orang menggema di seisi ruangan. Para undangan mulai berdiri, menyambut kedatangan mempelai wanita dan kedua orang tuanya yang merupakan salah satu pengusaha sukses yang berada di Indonesia, yah malam ini bisa dibilang pernikahan penyatuan dari kedua pewaris perusahaan.


Bukan selayaknya sebuah drama yang melow-melow, tapi pernikahan mereka memang didasari oleh kisah cinta yang memabukkan. Kedua sejoli juga terkenal sebagai pasangan romantis dan mengasihi satu sama lain.


Pengantin wanita menggunakan gaun pernikahannya yang berwarna putih panjang, dengan hiasana butiran-butiran mutiara yang menambah ke gelamoran. Dengan sedikit polesan make up tipis, yang membikai wajah cantiknya yang begitu natural.


"Wah luar biasa, melihat ini aku jadi ingin menikah dengan orang kaya." celetuk Indah dengan suara yang bergemuruh, kedua matanya berbinar melihat pasangan yang akan melangsungkan pengucapan janji suci mereka.


"Sssttt, Jangan berisik! Kau membuat orang-orang jadi menatap kearah kita." Kata Irine dengan berbisik kearah temannya, wanita itu merasa tidak nyaman saja jika orang-orang memperhatikan mereka ditambah Irine takut pria yang sangat dia hindari itu akan menyadari keberadaan dirinya di pesta ini.


"Santai kenapa sih Rin, kau begitu gugup sekali." Jawab Indah dengan acuhnya.


"Hah, aku jadi membayangkan jika kamu menikah nanti tau." Sambung Indah sambil menghembuskan nafas beratnya dan seketika dapat pukulan dari Irine.


"Apan sih Rin, kau main pukul-pukul aja!" Ucap Indah.


"Sebelum mengatakan pernikahan aku, pikirkan dulu pernikahanmu." sindir Irine, membuat Indah terkekeh. "Lagian kenapa kau bicaranya aneh-aneh sih, suara kamu juga kenceng." Irine menatap Indah tak suka.


"Hey, memangnya kamu gak bakal nikah? Dibilang aneh-aneh, yang ada kamu yang aneh. Katanya juga omongan itu do'a, siapa tahu kan besok-besok kamu yang nikah." Seru Indah pada Irine.


"Uekh bukan gitu, a-ku kan belum menemukan calon yang tepat." Cicit Irine dengan pipinya yang bersemu merah.


Indah tersenyum mendengar penuturan Irine, ditambah pipinya yang memerah."Sudahlah, tuh acara sudah dimulai." Seru Indah mengakhiri obrolan mereka.

__ADS_1


Irine kemudian melemparkan pandangannya ke arah Kimtan lagi. Saat itu, Irine sungguh sangat terkejut, ternyata pria itu juga tengah memperhatikan dirinya. Merasa malu karena ketahuan ciri-curi pandang, Irine hanya melempar senyum canggungnya pada Kimtan dan kemudian kembali mengalihkan kedua matanya ke arah mempelai pengantin.


'Bodohnya aku.' Rutuk Irine dalam hatinya.


__ADS_2