Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 51


__ADS_3

Irine memutar-mutar sedotan miliknya sambil tersenyum manis seorang diri. Stefi yang melihat itu sungguh merasa aneh, tidak biasanya Irine bersikap seperti ini.


"Ada apa dengan mu?" tanya Irine cukup terkejut dengan tindakan Stefi yang memegang dahinya, membuat dia terkejut.


"Sepertinya tidak ada yang salah." gumam Stefi mengabaikan teriakan Irine.


"Aish, singkirkan tangan mu dari dahiku." ucap Irine menepis lengan Stefi dari dahinya.


"Santai sih Rin, kenapa sensi. Padahal tadi senyum-senyum sendiri aja tuh."


"Lagian kenapa tiba-tiba menempelkan tanganmu ke dahi aku sih, kan aku kaget jadinya." gerutu Irine, sambil memanyunkan bibirnya.


"Ya siapa tahu kamu lagi demam atau gimana gitu. Dari tadi di liat senyum-senyum sendiri kaya abis dapet jackpot aja." sindir Stefi.


"Ah, bukan seperti itu. Kau berlebihan tahu." sangkal Irine.


"Ayolah bagi-bagi cerita dong." desak Stefi.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Aku balik ke ruangan aku yah, bye." ucap Irine berlalu meninggalkan Stefi seroang diri.


"Rin hey, Irine Tunggu! Aish, anak itu selalu. begitu. Sebulan gak ketemu kelakuannya gak berubah juga." ucap Stefi kesal, dia langsung merapihkan barang-barang nya dan berlari mengejar Irine.


...*********...


Kimtan tak bisa menutupi perasaan bahagianya ketika seorang diri. Melihat Irine telah kembali bekerja membuat hatinya kembali membaik. Hanya saja, dia malu untuk menunjukkan semuanya di depan Irine. Dia sedikit gengsi, jika wanita itu apa yang dirasakannya saat ini setelah bagaimana wanita itu beberapa kali menolak dirinya.


Aku merindukannya..


Apa dia juga begitu? makanya dia datang ke kantor untuk bekerja lagi? Hah konyol! Dia bukan wanita yang mudah ditebak.


Kimtan amat terkejut, saat suara wanita yang sedang dia pikirkan tiba-tiba terdengar amat jelas di gendang telinganya.


Benar saja. Saat wajahnya Kimtan angkat, di depannya wanita itu tengah berdiri menatap dirinya dengan intens.


"I-irien." ucap Kimtan tiba-tiba tergagap. Matanya bertemu, beradu pandang dengan Irine. Jantungnya, menjadi labil karena tiba-tiba berdetak kencang semakin membuatnya gugup.

__ADS_1


"Tidak ada hal penting." sangkal Kimtan, wajahnya ia buang ke sembarang arah. "Lebih baik kau kembali bekerja." titah Kimtan, sedingin mungkin guna menutupi rasa gugupnya.


Apa aku memiliki kesalahan lagi? Batin Irine. Menatap aneh atasannya yang terlihat berbicara dingin padanya. Pria ini benar-benar 'gila


"Baiklah. Aku akan kembali bekerja." Tanpa menatap wajah Kimtan lagi, Irine berjalan ke mejanya.


"Aku minta laporan untuk bulan lalu, segera taro di atas meja saya jika sudah selesai." titah Kimtan, membuat Irine menahan geramnya.


"Baru juga masuk, kenapa harus di minta laporan." bisik Irine dengan pelan.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Kimtan yang seakan mendengar suara Irine.


"Tidak Pak. Saya hanya..." Irine sedikit berpikir alasan apa yang akan diberikan pada atasannya. "Ah, saya hanya berbicara sendiri hahaha. Itu kebiasaan saya Pak." ujar Irine sambil terkekeh.


Kimtan menganggukkan kepalanya mengerti, dibalik tangannya dia menyembunyikan bibirnya yang tersenyum manis melihat tingkah Irine yang menurutnya menggemaskan.


"Gadis manis, lucu sekali." gumam Kimtan dengan nada suara yang pelan. "Aku harus memberikannya banyak pekerjaan. Karena cuma ini satu-satu nya cara agar dia bisa di sisiku lebih lama." gumamnya lagi.

__ADS_1


Irine wanita yang tidak mudah didekati, Kimtan akui itu. Butuh usaha extra untuk mendapatkan perhatiannya.


__ADS_2