
Seperti biasa Irine bangun pagi, setelah selesai mandi dan berpakaian rapi. Ia keluar dari kamarnya, terlihat kosong tak ada penghuni lain selain dirinya, sepertinya Candra tak pulang lagi semalam. Dan tanpa sadar, kegiatannya hanya bekerja dan bekerja.
Jika memikirkan tentang pekerjaannya, dia harus kembali bertemu Kimtan. Hueh, padahal dia belum siap harus bertemu pria itu kembali.
Kruyukkk.
Irine memegang perutnya yang berbunyi, meminta jatah untuk diisi makanan. Padahal biasanya Ia jarang sarapan di jam segini? Tapi hari ini perutnya keroncongan.
Tapa berpikir panjang, Irine melangkahkan kaki nya berjalan menuju dapur mini miliknya.
Bruk. Irine menutup pintu kulkasnya sedikit keras sehingga. "Kosong." Gumamnya. Dia lupa karena belum belanja bulanan, pahala dia tak pernah absen belanja bulanan.
"Makanan?" gumam Irine terlihat terkejut, saat dia membalikkan tubuhnya ternyata ada bungkusan makanan di atas meja dekat tv. Ia berjalan menghampirinya, seingatnya dia tidak pernah memesan makanan dari merek resto ini atau jangan-jangan...
Apakah adiknya? Ah mana mungkin, Ia kan pasti menginap di rumah kekasihnya' Batin Irine.
"Biarkan nanti itu bisa di pikirkan lagi, lebih baik aku memakannya terlebih dahulu." Ucap Irine bermonolog seorang diri.
Ia langsung duduk di sofa dan melahap roti itu dengan santainya. Tak memikirkan lagi siapa kira-kira pengirim makanan ini.
Drt.Drt.Drt
Gadis itu menengok ke arah layar ponsel, melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini dan ternyata itu adalah adiknya Candra.
Baru saja diomongin, adiknya sudah menelpon dirinya.
"Halo."
'Kaka, maafkan aku baru bisa menelpon mu. Aku ada beberapa hal yang belum terselesaikan di sini, jadi kemungkinan akan jarang pulang atau mungkin tidak pulang.'
Irine memutar bola matanya malas, Ia bosan mendengar alasan Candra yang selalu seperti itu. Padahal Ia tinggal bilang bahwa ingin tinggal dengan kekasihnya, tapi kenapa Ia selalu memberikan alasan yang membuatnya jijik.
"Terserah dirimu." Ucapnya Acuh. "Ah, Iyah Can. Ada yang Kaka ingin tanyakan padamu." Sambung Irine.
'Bertanya? Soal apa kak?' Sahut Candra yang terdengar penasaran.
__ADS_1
"Kau mengirimiku makanan untuk sarapan tidak?" Tanya Irine to the points.
'Tidak Kak, memangnya kenapa?' Tanya Candra lagi.
'Hah, tidak? Lalu ini dari siapa masa dari hantu.' Batin Irine. Matanya menatap sekitar ruangan, tiba-tiba bulu kuduknya menjadi merinding.
'Kaka. Kaka' panggil Candra.
"A-iya, kalo begitu Kaka tutup yah teleponnya. Bye." Putus Irine mematikan panggilan mereka, tanpa memberikan kesempatan adiknya untuk berbicara.
"Tapi, ngomong-ngomong Jika bukan Candra siapa yah?" Ucap Irine sambil meletakkan jarinya di bawah dagu. Ia masih penasaran siapa yang mengiriminya ini semua, kunci kosan yang punya hanya dirinya dan Candra.
Irine menengok ke setiap penjuru ruangan. Dan ternyata semuanya terlihat sepi, Ia menggembungkan pipinya kesal.
"Masa iyah Hantu sih." Gumamnya lagi.
...**********...
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Arka yang terlihat mengkhawatirkan Kimtan yang sejak tadi hanya bermuka masam.
"Tengah berpikir.." jawab Kimtan dengan asal.
"Jangan terlalu berpikir keras, kau akan cepat tua nanti." Celetuk Arka pada Kimtan. "Kau ingin makan sesuatu, aku pikir dengan begitu semangatmu akan kembali lagi, Tuan." tawar Arka.
Kimtan menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan itu yang aku butuhkan." Jawabnya pelan.
"Apa kau lelah ? Kau terlihat tidak bersemangat." Tanya Arka bodoh, tidak perlu ditanyakan pun Ia sudah tau kalo Tuannya ini memang tengah berada di mood terendahnya.
"Jelas aku lelah." Sahut Kimtan keras. "Akh, kenapa wanita itu selalu berada dalam pikiranku." Teriak Kimtan merasa frustasi.
Pada akhirnya Ia mengakui bahwa dirinya tengah gundah melanda hatinya karena wanita yang bernama Irine.
Kimtan menyandarkan tubuhnya di sofa panjang itu sambil merentangkan kedua lengannya. "Arka, Kau sudah menaruh sarapan untuknya kan?"
"Sudah Tuan. Saya melakukan semuanya sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Anda." Jelas Arka.
__ADS_1
Hah benar deh Tuan muda nya ini, entah dapat pikiran dari mana dia bisa membuat kunci rumah Nona Irine entah apa yang akan terjadi jika Nona Irine mengetahui nya.
"Hm baiklah, tapi kenapa wanita itu bisa telat? Apa jalannya macet? Atau dia dalam keadaan mendesak lainnya sehingga dia terlambat?" Ucap Kimtan bertanya-tanya.
"Hey, menurutmu jika seorang wanita merespon apa yang kita lakukan padanya. Apa wanita itu juga menyukai kita?" Tanya Kimtan menatap Intens wajah Arka, seakan berharap ada hal baik yang akan di katakan oleh Arka.
Arka yang ditanya perihal wanita pun bingung harus menjawab apa? Sebab Ia juga belum berpengalaman jika menyangkut soal wanita. Selama ini hidupnya Ia abdikan untuk keluarga Bramasta, jadi mana ada waktu baginya untuk pergi berkencan.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya kimtan kembali.
Arka yang tak sadar jika dirinya melamun segera meminta maaf kepada Tuannya.
"Ah sudahlah, kau tak pernah juga berkencan." Ucap Kimtan mengibaskan lengannya.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak berpengalaman banyak mengenai wanita. Tapi yang saya tahu, meski wanita itu merespon. Tentu Tuan harus semakin gencar untuk mendekatinya, karena perempuan suka dikejar agar Ia mengetahui seberapa dalam rasa dari pria itu." Jelas Arka seadanya. Itulah yang Arka ketahui, bukan dari pengalaman dirinya tapi dari buku atau film yang Ia tonton selama ini.
"Woahhh. Aku pikir kau tidak mengerti juga perihal ini, tapi kau jagonya." Seru Kimtan merasa takjub.
"Baiklah aku akan sering-sering membuktikan perasaanku pada Irine, hingga Ia tak bisa lagi lepas dari seorang Kimtan." Sambungnya penuh percaya diri.
...****************...
"Halo Dok, tumben Anda menelpon saya?" Tanya Indah pada panggilan telponnya.
'Ah Iyah Dokter, Sorry sebelumnya mengganggu waktu operasi mu.' Sesal Dokter Cleo.
'Aa-iya. Memang tadi ada pasien yang tengah aku tangani, makanya saya tidak tahu jika Dokter Cleo menelpon. Sepertinya ada hal penting yang Dokter ingin sampaikan pada saya karena Dokter tidak mungkin menelpon saya berkali-kali jika tidak hal penting, bukan?" Tanya Indah dengan rasa penasarannya.
'Kau benar Dokter Indah, ada kabar yang ingin sampaikan sampaikan sebenarnya. Tapi, ponselnha susah dihubungi karena tidak aktif. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain menelpon dirimu, maafkan saya yang selalu mengganggu waktu berharga mu, Dokter.'
"Tidak masalah Dokter Cleo, Dokter Anisa memang izin untuk hari ini. Makanya semua pasien saya yang menangani hari ini, apakah Dokter ada perlu dengannya?" Tanya Indah. "Pasti aku akan membantu sebisaku, untuk Anda Dokter."
"Dokter Indah, kalo bisa. Bisakah kita membicarakannya di Kantin?" Tanya Dokter Cleo.
"Ah-iyah Dok, boleh." Jawab Indah.
__ADS_1
'Jika begitu, sampai bertemu di kantin Dokter Indah.' Ucap Dokter Cleo, mengakhiri sambungan telepon tersebut.
'Ah Dokter Cleo, pasti ada hal mendesak. Ucap Indah sambil menggenggam handphone nya di depan dada.