
Setelah pertemuan dengan para kolega perusahaan Ayahnya yang memakan waktu lama itu selesai, Kimtan segera pergi meninggalkan kerumunan orang-orang yang masih bercengkrama itu.
kini perasaannya menjadi was was, entah kenapa hatinya kembali berdetak tak beraturan. Gadis yang tak sengaja Ia lihat sekilas di acara hari ini, mengingatkan dirinya pada- Akh tidak. Kimtan segera menggelengkan kepalanya, menghilangkan segala pikiran-pikiran yang tak mungkin diluar alam sadarnya. Tapi, meski Ia menolak sekalipun hatinya tak bisa berbohong.
"Kau kah itu?" Gumam Kimtan lirih. Setelah sekian lama, Ia melupakan gadis itu dengan susah payah. Tiba-tiba saja ada seorang gadis lain yang muncul dihadapannya, meski hanya sekilas tapi sudah membuat hatinya yang telah Ia susun rapih kini kembali porak poranda.
Kimtan menarik nafasnya kasar, tangan itu secara kilat memukul kaca yang berada dihadapannya dengan lengannya.
Prankkk.
Bunyi kaca langsung menggema di ruangan, membuat Arka yang sejak tadi berjaga di luar langsung mendatangi asal bunyi tersebut. Kedua mata Arka membola saat melihat pecahan kaca yang sudah berserakan dilantai dihiasi dengan cucuran darah yang dirinya tahu itu darah milik siapa.
"Apa kau gila!" Teriak Arka secara spontan, dia tak bisa menahan sopan santunnya lagi pada Tuan mudanya. Dari ekspresinya Arka tak bisa menutupi kekhawatiran sekaligus kekesalannya pada Kimtan.
"Ada apa denganmu? Tolong kontrol kembali emosimu, itu belum tentu Dia." Desis Arka sambil menahan darah yang terus bercucur dari lengan Kimtan, Ia mencoba menghentikan aliran darah itu dengan sapu tangan miliknya.
Arka mengerti tentang posisi 'orang itu' di hati Tuannya amat penting, itulah mengapa jika menyangkut tentang 'orang itu' tuannya akan benar-benar menggila.
Arka memang sudah terbiasa melihat kondisi Kimtan, Tuannya selalu kehilangan kontrolnya dan melukai dirinya sendiri. Sudah sejak 4 tahun lalu, Kimtan memiliki penyakit borderline personality disorder atau yang biasa disebut juga sebagai gangguan kepribadian ambang.
Gangguan ini memang mengalami masalah pada suasana hati yang parah, terkadang juga perilaku si penderita menjadi impulsif. Maka dari itu, Kimtan suka menyakiti diri sendiri untuk memuaskan hasratnya.
Inilah kenapa Kimtan memutuskan untuk menetap di negara Paman Sam yaitu Amerika Serikat, setelah kepergian 'orang itu'. Perginya Kimtan ke Amerika, guna mengobati sakit mentalnya yang semakin menjadi ketika dia mengalami kehilangan orang yang berarti untuknya. Tapi, meski Dokter berujar Kimtan telah sembuh sepenuhnya. Anehnya, gangguan itu tiba-tiba kembali lagi setelah Kimtan tak sengaja melihat sosok yang mirip sekali dengan Kekasihnya dahulu.
"Pegang. Aku akan memberimu Betadine terlebih dahulu." Perintah Arka. Namun diabaikan oleh pria itu, malah menepis lengan Arka dan berdiri membelakangi sekretarisnya yang masih terpaku di posisinya.
"Segera selidiki. Tanpa kurang se-incipun, aku minta informasi itu segera berada di meja kerjaku." Perintah Kimtan dengan nada suara yang dingin.
"Apa?" Teriak Arka terkejut. "Bukankah kau sudah tahu, jika Ia telah meninggalkan dirimu dan sekarang kau--..."
__ADS_1
"DIAM!" Teriak Kimtan memotong perkataan Arka, mengeram marah. Lalu menghampiri Arka dan langsung menarik kerah bajunya.
"Sudah pernah Aku bilang. Jangan pernah membantah apa yang aku perintah, terserah mau gadis itu dia ataupun bukan segera kau selidiki! Aku tidak mau tau." Desisnya menatap nyalang kearah Arka, membuat pria itu mau tak mau mengiyakan permintaan Kimtan padanya.
"Ok. Oke. Aku akan menyelidikinya, jadi kau bisa lepaskan lenganmu." Kata Arka menatap Kimtan dengan sedikit menciut. "Tapi aku mohon, obati terlebih dahulu lenganmu karena sebentar lagi akan ada pertemuan." Pinta Arka, mencoba melepas lengan Kimtan dari kerah bajunya. Ia memegang lehernya kaku, Ini benar-benar sakit. Meski ia sudah terbiasa dengan kemarahan Tuannya, tapi ini cukup mengerikan.
"Pergi! Aku akan mengobatinya sendiri." Sungut Kimtan dingin.
Setelah lepas dari Kimtan, Arka segera pergi meninggalkan ruangan Tuan Mudanya. Meski kekhawatiran menyelimuti hatinya karena Ia takut jika Kimtan akan berbuat hal bodoh lagi.
Sebelum menutup pintu, Arka kembali menolehkan wajahnya ke arah Kimtan untuk memastikan lagi bahwa Tuannya sudah lebih tenang. Setelah memastikannya, Arka segera menarik kenop pintu dan menutupnya kembali dengan pelan.
...****************...
Ketika semua rasa cemasnya mereda, yang beberapa saat lalu membuat dirinya hilang kontrol. Kimtan menyandarkan tubuh letihnya di kursi kerja miliknya, karena ingatan masa lalu nya Kimtan melupakan bahwa di pertemuan tadi benar-benar membuatnya kacau ditambah lagi Ayah nya serius menjodohkan dirinya dengan kolega bisnisnya, tak tanggung-tanggung sang Ayah mengumumkan hal itu ke semua orang yang hadir di pertemuan itu.
Intan. Siapa wanita itu? Ia baru pertama kali bertemu dengan wanita itu. Yang dirinya tahu, wanita itu adalah anak dari teman Ayahnya Tuan Wijaya pemilik Saham terbesar di bagian Batu Bara. Kini Kimtan mengerti mengapa Ayahnya memilih Intan selain dia memang orang yang cerdas, dia juga bisa menjadi ladang bagi perusahaan milik Ayahnya karena dengan wanita itu menikah dengannya. Ayah bisa dengan mudah bekerja sama dengan Ayah wanita itu.
Emosinya yang tak tertahankan membuat Kimtan melemparkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.
"Aaaaarrgggttthhh." Teriaknya. Bahunya naik turun menahan semua luapan emosinya, sungguh Ia benci hidup yang selalu diatur oleh orang tuanya. Pikirannya melayang berkelana pada saat-saat waktu yang membuatnya begitu bahagia.
Lala gadisnya, belahan jiwanya.
Senyumnya terukir di bibirnya saat mengingat gadis yang amat dicintainya, masa-masa kebersamaan mereka sungguh membuatnya sangat bahagia. Tapi- Teriakan yang memekikkan itu terus saja terngiang-ngiang di telinganya. Saat wanita itu menangis menjerit memohon pertolongan, setelah itu besoknya wanita itu menghilang dari hidupnya. "Lala" gumam Kimtan bernada lirih.
Flashback On
'Bibirnya tersenyum manis saat ia merasakan sebuah lengan melingkar sempurna di pinggangnya, tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang tengah memeluknya karena ia sangat hapal betul dengan aroma tubuh yang selalu ia rindukan ini. "Kau dari mana? Aku mengkhawatirkan dirimu.'' Gumam Kimtan sambil mengusap lembut lengan yang melingkar dipinggangnya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu." Kata gadisnya, wanita yang benar-benar pria itu cintai, meski terdengar pelan hampir tak terdengar jika saja kekasihnya itu tidak berbicara tepat di telinganya.
Mendengar ungkapan tulus yang terlontar dari bibir kekasihnya, membuat perasaannya amatlah senang. "Aku juga mencintaimu." Balas Kimtan dengan tulus.
Pria itu *membalikkan tubuhnya menghadap ke arah kekasihnya yang dua hari ini Ia tinggal pergi seorang diri, bibirnya mengembang sempurna saat bola matanya bertatapan dengan pupil kekasihnya. "Sayang."
Lala mengangkat lengan sebelah kanannya, lengan mungil itu bergerak mengusap guratan lelah* di wajah Kimtan. "Kau pasti amat lelah, maaf karena aku semua-
"Ssttttt- Sela Kimtan menempelkan jari telunjuknya ke arah bibir Lala, menghentikkan ucapan kekasihnya Ia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Kau sudah berjanji tak akan membicarakan hal ini lagi, bukan?" Ucap Kimtan menatap Lala dengan lembut.
"M-maaf." Jawab Lala menyesal, wajahnya menunduk menghindari tatapan Kimtan.
"Hey, sudahlah. Aku menemuimu bukan untuk melihat wajahmu yang murung, hem?- Kimtan menarik dagu kekasihnya, Ia tatap bola mata kekasihnya dengan lembut. "Aku sungguh mencintaimu." Ujar Kimtan begitu serius.
Ini sudah kali berapa dirinya mengakatakan cinta pada kekasihnya, tapi lihatlah gadisnya masih tetap tersipu malu. Jelas rona merah menghiasi wajahnya membuat Kimtan merasa gemas. "Aku merasa benar-benar beruntung mendapatkan dirimu disisiku."
Lala yang mendengar gombalan menggelikan kekasihnya itu, langsung saja memukul pundak Kimtan sedikit keras.
"Aw, kenapa kau memukulku La?" Tanya Kimtan pura-pura meringis kesakitan.
"Aku geli dengan kata-katamu yang gombal itu, sebaiknya kau tak usah mengatakan hal-hal yang menggelikan lagi dihadapanku." Seru Lala berlalu pergi meninggalkan Kimtan di balkon kamarnya.
"Akh, selalu seperti itu. Padahal aku berkata jujur- Gumam Kimtan menatap geli kekasihnya yang berlalu pergi,- Lucu sekali."
Flashback off.
Seperti itulah kenangan itu mengalir seperti air, menancap seperti duri. Tak mudah di lupa selalu hadir di memori dirinya, sekeras apapun Kimtan mencobanya bahkan meski sudah bertahun-tahun lamanya. Dirinya masih mengingat dengan jelas kebersamaannya dengan gadis itu, tawanya yang manis semuanya masih tercetak jelas di ingatannya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, La." gumamnya sendu.