
Irine berjalan secara perlahan di keheningan malam, lorong yang gelap serta suara sepatu yang mengiringi langkahnya. Meski terlihat sangat luas dan terkesan elegan, tapi tetap saja sama menyerahkannya ketika di malam hari.
"Seharusnya aku mengiyakan tawaran Arka untuk menunggui nya tadi." Gumam Irine menyesal karena menolak tawaran Arka beberapa saat yang lalu.
Mengeratkan genggaman tangannya pada tas yang dia bawa, gadis itu sama sekali tak berani hanya untuk menolehkan wajahnya barang se detik sekalipun ke belakang. Dia jadi ingat mengenai rumor-rumor yang sering Ia dengar saat menjadi karyawan magang di kantor ini, para wanita menggosipkan bahwa ada hantu yang menyeramkan di Perusahaan besar ini.
"Uekh, dasar! Kenapa pada situasi seperti ini Aku harus mengingat soal rumor itu." Ucapnya berdecak kesal, Ia dengan sigap mempercepat langkahnya.
Setelah 20 menit berlangsung, Irine sukses keluar dari gedung lantai 15 tempat nya bekerja dengan aman dan selamat Meksi keringat dingin di keningnya tak bisa membohongi kondisi tubuhnya yang bergetar karena takut.
"Ahh Syukurlah." Ucapnya bernafas lega, setidaknya dia tidak bertemu makhluk-makhluk aneh tadi.
__ADS_1
"Irine." Panggil seseorang.
Deg.
Baru saja dia bernafas lega, tiba-tiba dia dibuat terkejut saat seseorang di depannya memanggil namanya dengan suara berat, dia belum bisa memastikan siapa yang memanggilnya. Wajah orang itu tertutupi dengan kegelapan hanya tatapan tajamnya yang bisa Ia rasakan, hingga rasanya menusuk jantungnya.
"S-ssiapa?" Tanya Irine dengan suara dan tubuh yang bergetar, pikirannya sudah bergeliya ke hal-hal horor.
"Hey, kenapa suara mu bergetar seperti itu?" tanya Pria itu lagi, kalo ini lebih mendekat ke arah Irine.
"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Kimtan membabi buta pada Irine, dia meremas erat pundak gadis itu tanpa disadari.
__ADS_1
"B-begi-ni Tuan, aku baru menyelesaikan pekerjaanku beberapa menit yang lalu. Jadi yah...." Irine mengagaruk pipinya yang tak gatal, dia bingung harus mengatakannya atau tidak pada Kimtan. Tapi, kenapa pria ini wajahnya menunjukkan sangat mengkhawatirkan dirinya? "Aku sedikit telat untuk pulang."
"Lalu d mana Arka berada?" tanya Kimtan dengan sisa dingin.
Situasi membuat ini Irine merasa terpojok, dia tidak ingin jika mengatakan kalo Arka pulang lebih awal karena pasti Kimtan akan langsung memarahinya. Lebih baik sedikit berbohong pada Kimtan.
"Tuan... Saya tidak melihat Arka, sejak tadi saya berada di ruangannya untuk menyelesaikan tugas.....Ah!" Irine gak melanjutkan ucapannya, dia terpekik karena terkejut saat pria itu seenaknya menarik lengannya tiba-tiba.
"Astaga Tuan, mau di bawa ke mana saya? Lepaskan dulu tangan saya." Pinta Irine, dia sedikit meringis kesakitan. Tapi sepertinya Kimtan tak menyadari bahwa tindakannya itu telah menyakiti pergelangan tangan Irine.
"Diam saja!" timpal Kimtan dengan suara yang masih terdengar dingin.
__ADS_1
Pada akhirnya Irine hanya menuruti keinginan dari Kimtan yang membawanya entah ke mana, kedua matanya sedikit melirik pergelangan tangannya. "Sepertinya akan memerah." Gumamnya dengan suara kecil.
"Sial, memang nya ke mana Arka pergi. Kenapa dia meninggalkan Irine seorang diri di gedung kosong seperti itu." Gerutu Kimtan sambil mengumpati Asistennya tanpa sependengar gadis dibelakang nya.