Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 59


__ADS_3

Melepas sepatu high heels nya dengan asal, Irine berjalan ke tempat tidurnya dengan lesu. Seharian ini, dia telah melakukan pertemuan dengan 3 partner bisnis tempat perusahaannya bekerja. Bertemu dengan banyak orang yang baru dia temui, rasa tidak nyaman selalu menghampirinya. Canggung, malu, takut dia rasakan tapi pria itu sepertinya mengerti kondisinya hingga pada saat-saat tertentu dia selalu membantu dirinya.


"Hufffttt... sebenarnya apa yang kau pikirkan, Irine." gumamnya tertawa kecil. "Dia adalah kekasih kakak mu, kenapa kau bersikap egois seperti ini."


Tok Tok Tok


Kedua matanya membola saat pintu kamarnya di ketuk. Dia sangat tahu siapa yang mengganggunya seperti ini. Dengan rasa malas, dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu.


Kriiett.


Pintu terbuka, dia sana telah berdiri sosok tinggi tegap yang membelakanginya.


"Ada perlu apa Tuan?" tanya Irine menatap Kimtan datar.


"Ekhm." Dehemnya. Kimtan membalikkan tubuhnya menghadap Irine, menatap gadis itu dari atas sampai bawah. "Aku akan menyuruh pelayan hotel untuk membawakan makanan untuk mu." ujarnya kemudian berbalik pergi membuat Irine menatap tak percaya atasannya.


Irine memiringkan kepalanya menatap atasannya bingung. "Kenapa dia bersikap aneh seperti itu. Ah sudahlah, aku merasa lelah sekali."


Beberapa menit kemudian, benar saja datang pelayan dengan membawa berbagai makanan dan minuman.

__ADS_1


"Nona mau di taruh di mana hidangannya?" tanya pelayan itu dengan sopan.


Irine sejenak berpikir. "Letakkan saja di atas meja sebelah sana, aku akan memakannya setelah membersihkan tubuhku." ucap Irine masuk ke dalam kamar mandi.


...****************...


"Kaka, kenapa Kaka sejak kemaren hanya berdiam diri di kamar. Apa tidak bosan?" tanya Candra menghampiri sang Kaka.


Lala beringsut, mempersilahkan adiknya untuk duduk di sebelahnya. "Duduklah, Can." ucapnya menepuk tempat di sebelahnya.


"Kakak." panggil Candra lagi.


"Ah, Mamah yah." Candra berucap sambil menggaruk pipinya yang tak gatal. "Hm, dia baik-baik saja Kak. Kakak tak perlu khawatir mengenai Mamah, di sana sudah ada yang menjaganya."


Meski telah berkata begitu, entah kenapa Lala masih merasa khawatir. Ditambah ada ingatan aneh yang hinggap di kepalanya, seperti potongan pajel. Tapi, ketika dia berusaha merangkai potongan itu kepalanya malah semakin terasa sakit sampai dadanya merasa sesak.


"Kak." Panggil Candra, dia meraih lengan kakak nya.


Lala menolehkan wajahnya kearah sang adik, dia baru tersadar ternyata dia melamun. Lala memegang keningnya, banyak sekali yang dia pikirkan hingga dia tak fokus.

__ADS_1


"Kenapa? Apa Kepala kakak sakit lagi, Aku akan membawakan obatnya untuk Kaka." Ujar Candra sedikit gelagapan, baru saja dia hendak bangun dari duduknya lengannya tertahan.


"Can, tidak apa. Aku hanya lelah, aku ingin tidur." Ucap Lala menatap adiknya sambil tersenyum.


"Ka Lala." Cicit Candra menatap Kaka nya. "Baiklah, Kaka Istirahat saja. Aku akan menunggu di luar, jika Kaka butuh sesuatu bilang Ke Candra yah Ka."


Lala menganggukkan kepalanya.


"Selamat Istirahat Kak." Ujar Candra berjalan keluar, menutup pintu kamar kakak nya secara perlahan.


Dia berjalan keluar dan duduk di depan pantry.


"Ka Irine kapan pulang yah? Aku khawatir dengan Ka Lala." Bisik Candra dengan raut wajah gelisah nya.


...****************...


"Hah, setelah memakan semua makanan ini rasanya tubuhku tidak bisa bergerak bebas." Gumamnya menatap makanannya yang telah tandas disantap olehnya.


Besok adalah jadwal terakhir mereka dan Irine berharap tidak sepadat hari sebelumnya. "Hmm, di mana pria itu? Tumben sekali tidak datang secara tiba-tiba seperti biasanya." Gumam nya menatap ke arah pintu.

__ADS_1


__ADS_2