
"Ka Lala, maaf yah Irine belum bis antar Kaka buat ke rumah sakit." seru Irine berwajah sedih.
"Tidak apa Dek, Kaka tau kamu pasti sibuk." ucap Lala memegang lengan adiknya.
"Tenang saja Ka Irine, aku yang akan mengantar Ka Lala." Potong Candra penuh semangat. "Nanti, aku bakalan ajak Ka Lala buat keliling Jakarta deh biar ingatannya segera pulih."
"Waahhhh, serius?" Tanya Lala penuh takjub, dia memang butuh angin luar setelah lama di rumah sakit.
"Serius dong, masa Candra bohong," timpal Candra. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Lala dan berbisik. "tapi, Kaka minta uang yah ke Ka Irine. Uangku habis soalnya," bisik Candra di telinga kanan Lala.
Mendengar hal itu, Lala tak bisa tak tertawa.
"Apa yang dia bisikkan?" Tanya Irine menatap Kakanya dengan rasa penasaran.
"Dia minta tambahan uang jajan." Jawab Lala, memberitahu Irine sesuai perintah Candra.
"Aish, anak ini," Irine langsung menjitak kepala Candra secara pelan dan tak berlebihan. "Kau selalu boros, baru saja kemaren minta transfer. sekarang minta lagi? Oh ya Tuhan," ucap Irine dengan suara yang sengaja dibuat keras.
"Akh, Kaka pelankan suaramu. Jika ada orang yang mendengarkan, harga diri seorang Candra jadi turun," desisnya sebal karena kedua Kaka nya malah menertawai dirinya. Meski begitu, dalam hati paling dalamnya, Ia senang bisa berkumpul dengan kedua Kakanya setelah sekian purnama berlalu. Kini keluarganya menjadi lengkap dan tenang karena banyak banget orang baik yang selalu membantu kita.
...*********...
Sebelum berangkat, Candra memaksa untuk membawa mobil sendiri. Namun, hal itu tak di izinkan oleh Irine hingga akhirnya dia dan Kakaknya Lala harus memakai Taksi yang dipesankan Irine.
"Kau masih kesal?" Tanya Lala, melihat ekspresi wajah adiknya yang sejak tadi murung.
"Tidak Ka, aku cuma kesal saja." jawab Candra memaksakan senyumnya. "Sudah yuk Ka, kita masuk." Ajak Candra mendorong kursi roda Kakaknya.
Candra mendorong kursi roda Kakanya, berjalan di lorong rumah sakit yang cukup ramai. Setelah menempuh waktu cukup singkat yaitu sekitar 1 jam perjalanan. Syukurnya lalu lintas Jakarta saat ini tidak macet seperti biasanya.
"Ka, aku lupa. Lewat mana nih?"
"Eumh, Kaka juga sedikit lupa. Sebentar kita tanya suster saja, agar membantu kita menemukan ruangan Dokter Cleo," ucap Lala.
"Nah, di sana ada suster. Kaka tunggu di sini yah, aku akan menanyakan keberadaan ruangan Dokter Cleo sebentar." Candra langsung membawa Kakaknya menghampiri suster yang tengah mengobrol, sepertinya dengan salah satu pasien juga.
"Sus, maaf saya ingin tanya," Candra tersenyum canggung, merasa tak enak mengganggu pembicaraan mereka.
"Iyah, dek. Mau nanya apa?" tanya Suster itu balik, sambil tersenyum dengan ramah.
__ADS_1
"Aku mencari ruangan Dokter Cleo, boleh antarkan saya ke ruangannya?" pinta Candra.
"Ah, Dokter Cleo. Tentu, saya akan antarkan." Jawab Suster itu.
"Terimakasih Sus." timpal Lala tersenyum ramah pada sang suster.
...*********...
Setelah berjalan cukup jauh dengan di antar oleh seorang suster, akhirnya mereka menemukan ruangan Dokter Cleo.
"Nah di sini ruangan Dokter Cleo. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini saja yah, karena harus bekerja kembali," ucap Suster itu masih tersenyum ramah.
"Tidak apa Suster, terimakasih atas bantuannya," sahut Candra dan Lala bersamaan.
Setelah kepergian suster tadi yang menolong mereka, Lala berkata pada Candra bahwa dia benar-benar gugup akan bertemu dengan Dokter Cleo dan sedikit takut.
"Tidak apa Ka, di sini kan ada Candra." ucap Candra menenangkan Kakanya.
Lala mendongakkan kepalanya menatap wajah Candra. "Hm, terimakasih." ucapnya tersenyum. "Tolong bukain pintunya!" Pinta Lala pada adiknya Candra.
"Iyah Iyah," sahut Candra membukakan pintu itu secara perlahan.
Krieettt..
"Selamat pagi Dokter," sapa Lala membuka mulutnya, menyapa Dokter yang sepertinya belum menyadari keberadaan Ia dan adiknya.
Dokter Cleo menolehkan wajahnya dan sedikit terkejut, benar saja Dokter itu terlalu fokus. "Ah, Putri. A-aa tidak, maksud saya Lala. Maafkan saya." ujar Dokter Cleo mengoreksi kesalahan nya. Mungkin dia sudah biasa memanggil Lala sebagai Putri.
Lala yang mendengar itu hanya tersenyum pada Dokter Cleo. "Tidak apa Dokter." timpal Lala. Sejujurnya Lala tak masalah dengan panggilan Dokter Cleo, baik Putri ataupun Lala itu adalah nama yang terbaik menurutnya karena diberikan oleh orang yang baik juga yaitu Kedua orang tuanya dan Dokter Cleo.
"Selamat pagi juga, maafkan saya tidak menyadari keberadaan kalian. Saya tengah melihat hasil laporan kamu bulan lalu," seru Dokter Cleo, " Silahkan masuk, Irine sudah mengatakan bahwa kalian akan datang," ucapnya tersenyum hangat. Dia mempersilahkan Lala dan Candra untuk duduk di sofa.
"Iyah Dokter, Ka Irine tidak bisa mengantar. Jadi saya yang bergantian mengantar Ka Lala mulai sekarang," seru Candra bersemangat.
"Hahahaha. Semangatmu bagus sekali yah," ucap Dokter Cleo sambil terkekeh.
Candra hanya tersenyum, menanggapi perkataan Dokter Cleo.
"Dokter, bagaimana perkembangan kondisi saya saat ini Dokter?" Tanya Lala dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Eumh, kondisimu cukup bagus. Jadi kau tak perlu terlalu berpikir jauh, saat ini hanya perlu fokus dengan terapi. Supaya otot-otot dan syaraf yang sudah lama tak digerakkan bisa kembali aktif," jelas Dokter Cleo. "Bagaimana, kau sudah siap untuk terapi berjalan lagi?" Tanya Cleo menatap serius kearah Lala.
"Sudah Dokter, aku ingin segera bisa berjalan kembali," jawab Lala dengan sendu.
"Sabar yah, kita ikuti proses saja dahulu. Pasti kau akan bisa berjalan, berdo'a saja pada Tuhan." kata Dokter Cleo mencoba memberikan semangat pada Lala.
Candra yang sejak tadi hanya mendengarkan, merasa iba dengan kondisi yang Kaka nya alami saat ini. Ia meraih lengan kakaknya dan menautkan jemarinya, mengusapnya lembut. "Kaka pasti bisa," ucap Candra memberikan dukungannya dan di angguki oleh Lala dengan senyum di wajahnya.
...*********...
Saat ini mereka berada diruangan serba putih, hanya mereka bertiga dan ditambah salah satu Suster yang terus mengawasi monitor. Candra juga sejak tadi berada di sisi Kakaknya, menjaga dan selalu memberikan senyumnya yang manis.
"Lala, ayo pelan-pelan saja jalannya!" Perintah Dokter Cleo yang berdiri didepannya.
Lala yang saat ini tengah berdiri, di kedua sisinya terdapat pegangan untuk sewaktu-waktu jika Lala tak kuat menopang tubuhnya dia bisa berpegangan.
Dengan perlahan, Lala mengikuti instruksi dari Dokter Cleo untuk menggerakkan kakinya secara perlahan. Mencoba berjalan sedikit demi sedikit, meski rasanya semua sendi-sendi terasa berdenyut sakit. Sepertinya ini efek dari Ia yang selalu berbaring di tempat tidur selama 4 tahun ini. Hah, Lala merasa sedih dan takut secara bersamaan.
Wajahnya yang tadi menunduk, Ia angkat menatap wajah Dokter Cleo masih dengan senyumnya yang pria itu tunjukkan. Dokter itu tak pernah sekalipun memberikan tatapan tajam atau apapun itu, Ia selalu memberikan senyum padanya dan menyemangati dirinya selalu. Membuat tekadnya secara tidak sadarĀ menjadi meningkat.
"Aku harus kuat, ayo cepet kaki kau harus berjalan," gumam Lala menatap kedua kakinya.
"Secara perlahan saja, jangan dipaksakan." seru Dokter Cleo.
"Benar ka, pelan-pelan saja," timpal Candra pelan.
Entah kenapa Lala tak mau mendengarkan kata-kata mereka, karena terlalu buru-buru mengakibatkan tubuhnya lemas dan jatuh.
"Lala."
"Ka Lala."
Teriak Dokter Cleo dan Candra secara bersamaan.
Dokter Cleo langsung menghampiri Lala, begitupun Candra.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Dokter Cleo dengan raut khawatir.
"Kakak," gumam Candra merasa sedih.
__ADS_1
Lala menundukkan wajahnya, tangannya dia kepalkan dengan erat. Ia hanya ingin segera bisa berjalan dan tak memakai kursi roda itu lagi. Lala tak ingin semua orang repot karena dirinya, tidak ingin bergantung pada mereka semua. Itu membuatnya sangat sakit dan hancur. Kenapa sulit sekali menggerakkan kakinya? Bener-bener bodoh. Batin Lala.
Jangan seperti itu ku mohon.