Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 6


__ADS_3

.


.


.


.


Tepat Pukul 08:00 pagi, semua orang sudah berkumpul di aula Perusahan. Di mana tempat ini merupakan tempat biasa acara besar di selenggarakan oleh perusahaan, tempatnya yang luas dan nuansa yang modern membuat orang-orang dari luar perusahaan akan terpesona dengan suasananya.


Tak lama pintu itu terbuka, menampilkan pria tinggi gagah yang penuh karisma meski di umurnya yang sudah masuk ke-50 tahun. Dia adalah pemilik perusahaan ini Tuan Adityawarman Bramasta dan seorang pria muda yang tak kalah tampannya dengan Tuan Bramasta yaitu putra satu-satunya.


Semua orang yang berada di ruangan itu langsung membungkukkan tubuhnya memberi hormat, saat pemilik perusahaan Bramasta Group masuk ke ruangan yang megah dengan dekorasi yang super elegan.


"Selamat datang, Ketua." Ujar direktur memberi hormat kepada pria Tua yang sudah berambut putih, yang dipanggilnya Ketua tersebut.


Sudut ruangan, gadis itu menatap takjub pimpinannya. Ini merupakan kali pertamanya bagi Irine , melihat Pimpinan di Perusahaan tempatnya bekerja secara langsung. Ia hanya melihat atau mendengar dari selintangan omongan orang-orang disekitarnya saja atau dari televisi.


"Terimakasih atas sambutan dari semua yang telah hadir pada acara kali ini." Ucap Tuan Bramasta, bibirnya tersenyum menatap seluruh karyawannya yang hadir.

__ADS_1


"Kalian pasti tahu maksud dari acara ini, yaitu pergantian posisi CEO yang sekian lama telah dipegang oleh Saya sendiri. Kini akan dialihkan kepada Putraku, Kimtan." Tuan Bramasta menatap Putranya, sedangkan Kimtan hanya tersenyum kecil saat mata semua orang beralih menatapnya.


"Dia adalah putra tunggal Saya, mungkin dari kalian belum pernah melihatnya karena dia menetap di Amerika beberapa tahun ini dan sekarang telah kembali untuk mengisi kursi CEO, semoga semua bisa mendukung dan membantunya di Perusahaan ini." Ucap Ketua Bramasta.


"Ini mungkin terlalu tiba-tiba. Tapi jujur saja, usia Saya terus bertambah, untuk itu saya akan berhenti dan menyerahkan kepada anak Saya Kimtan." Sambung Tuan Bramasta sambil menepuk pundak Kimtan, merasa bangga dengan putranya. "Kimtan, perkenalkan dirimu." Titah sang Ayah.


Kimtan berdiri dari duduknya lalu membungkukkan tubuhnya, mencoba memberikan kesan terbaik dirinya kepada semua orang.


"Senang bertemu kalian semua, Saya Kimtan yang akan melanjutkan CEO yang sebelumnya di pegang oleh Tuan Bramasta." Ucap Kimtan mengembangkan senyum ramahnya.


Semua yang berada di dalam ruangan itu menatap Kimtan dengan rasa kagum, selain masih muda Ia juga terlihat sangat tampan. Banyak orang-orang berbisik-bisik mengangumi ketampanannya, ada juga suara-suara yang meragukan karena usianya yang masih terbilang muda.


Ketua pasti bangga dia terlihat tampan dan gagah.


Dia benar-benar sopan


Akh. Seandainya anakku bisa bersamanya.


Dia pasti gagal, karena terlalu muda

__ADS_1


Wajahnya saja yang tampan


Sedangkan gadis yang bernama Irine hanya menatap bosan acara tersebut, mengabaikan bisikan-bisikan yang singgap pada telinganya tentang anak Pemimpin perusahaan tempatnya bekerja.


Setelah dipersilahkan oleh Ketua untuk menyantap hidangan, Irine segera berlalu pergi menghindari kerumunan.


"Kapan acara ini berakhir." Desisnya tak sabar, sesekali Ia menatap Jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Hingga dia tak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus menatap memperhatikan dirinya.


...*********...


Stefi tak sengaja berpapasan dengan Irine di koridor lantai 2, melihat sahabatnya yang berjalan dengan membawa tas jinjingnya segera saja Stefi menghampiri. "Kau sudah mau pulang?" Tanya Stefi terbengong, padahal acara belum usai.


Irine menatap Stefi, lalu tersenyum. "Begitulah, Aku ada urusan mendadak. Jika kamu bertemu dengan Direktur, lalu nanyain aku tolong katakan padanya Irine kurang enak badan dan pulang." Pinta Irine, dia tak ingin ada masalah di esok hari karena dia pulang lebih awal dari acara.


Stefi yang masih tak mengerti dengan situasi yang terjadi hanya menganggukkan kepalanya, Direktur brengsek itu telah memberikan banyak sekali pekerjaan pada sahabatnya. Lihat saja, wajah yang biasa merah berseri kini terlihat pucat pasi dia memang terlihat tak enak badan. "Setelah ini kau mau kemana?" Tanya Stefi kembali.


"Ke Apotik." Jawab Irine, melihat Stefi yang akan bertanya kembali, Irine segera menyelanya. "Aku akan naik taksi dan langsung pulang ke Kosan." Sambungnya tersenyum, mencoba menyakinkan Stefi dan menghilangkan gurat penasaran dari wajahnya tersebut.


"Apa perlu aku antar?" Tawar Stefi pada Irine, Ia sungguh mengkhawatirkan kondisi Irine yang terlihat lemas.

__ADS_1


"Tidak perlu." Seru Irine cepat, segera menolak bantuan dari Stefi. Bukan maksud dirinya melukai hati Wanita ini, hanya saja Ia tak ingin membuat dia repot. Lebih lagi, disini tengah banyak tamu yang membutuhkan banyak pelayanan. "Baiklah aku pergi dulu, maafkan aku." Pamitnya pada Stefi.


Irene berjalan gontai menuju pintu keluar kantor, satpam yang biasa jaga menyapanya dengan ramah. Hari ini, rasa-rasanya Ia ingin menyeburkan tubuhnya ke kolam air yang dingin, mungkin bisa sedikit menjernihkan otaknya yang seakan ingin meledak kapan saja. 


__ADS_2