
Keesokan paginya, Irine terbangun dari tidurnya, tiba-tiba seluruh tubuhnya lebih mendingan dari pada semalam. Ia mengerjapkan kedua matanya, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk.
"Apa ini?" tanya nya cukup terkejut.
Irine terkejut saat mendapati kain yang berada di keningnya, dia baru menyadari saat Ia hendak bangun dan kain itu terjatuh ke wajahnya.
"Uekh kain, Aku pikir apa." gumamnya. Pantas saja demamnya sudah turun, tapi ngomong-ngomong siapa yang mengurusnya semalam.
"Apa Candra semalam pulang?"
Dengan pemikiran seperti itu, Irine bergegas keluar dari kamarnya sambil terus memanggil nama adiknya.
"Candra... Candra.." Panggil Irine, menghampiri kamar adiknya tapi kamar itu masih rapi dan tak ada Candra di sana. Dia pun kembali menutup kamar adiknya, berjalan dengan masih sedikit mengantuk kembali ke kamarnya.
"Apa dia langsung pergi lagi? Tumben tidak meninggalkan pesan."
Ditengah kebingungan Irine, terdengar bunyi ponselnya yang berdering. "Ah, siapa pagi-pagi begini menelpon?" tanya Irine sambil menggerutu.
Lengan kanannya mengambil ponsel yang tak jauh darinya, melihat siapa gerangan yang menelponnya di pagi hari ini.
Indah? Kenapa wanita ini menelpon dirinya di pagi hari, tidak biasa nya. Pikir Irine.
"Halo Indah." Jawab Irine sesaat Ia menerima panggilan telpon dari Indah.
'Irine, kamu jam berapa ke rumah sakit?' Tanya Indah dari sebrang telpon.
"Rumah sakit? Apa maksud mu?" tanah Irine yang kebingungan dengan pertanyaan dari Indah.
"Bukannya kau lagi sakit?"
Kenapa Indah tau dia sakit? Apa yang semalam datang Indah? Tapi mana mungkin, Indah kan tidak memegang kunci Kosanku. Batin Irine bertanya-tanya.
"Aku memang sakit semalam, tapi sudah lebih baik." jawab Irine sambil menguap, rasa kantuk masih menyerangnya. "Eh tapi ngomong-ngomong, kenapa kau tahu aku sakit? Apa Candra memberi tahu mu?" tanya Irine.
"Candra? Maksudnya adik mu itu?"
"Hn."
__ADS_1
"Tidak, mana mungkin Candra memberitahu. Punya nomornya saja tidak."
Bukan Candra? Jadi yang semalam juga bukan Candra, lalu siapa?
"Sudahlah, jika kau memang sudah lebih baik aku senang mendengarnya. Kalo begitu kita lanjutkan lagi percakapan kita lain waktu, aku sudah mau berangkat ke rumah sakit." Ujar Indah.
"Hn, baiklah. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku." Ucap Irine menutup sambungan telponnya.
Rasa penasaran semakin besar di rasakan oleh Irine, dia pun langsung menghubungi adiknya.
'H-aloo.' Jawab seseorang di sebrang telpon, dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
Irine menepuk keningnya, kenapa adiknya ini menyebalkan sekali.
"Halo, aku Irine Kaka dari Candra. Saya ingin berbicara di mana dia sekarang?" Tanya Irine beruntun, membuat lawan bicaranya langsung tergagap.
'akh, ka Irine yah. Maafkan saya, saya teman nya Candra. Akan saya bangunkan Candra terlebih dahulu.' seru perempuan itu yang terdengar gugup.
Dalam hatinya, Irine terkekeh. Dasar anak muda, kenapa mereka selalu bermesraan terus sih.
'Halo Ka, ada apa?'
"Candra, apa semalam kau sempat pulang ke Kosan?"
'Tidak Ka, aku kan sudah bilang belum bisa pulang karena belum selesai urusannya.' sanggah Candra.
Bukan Candra juga, lalu siapa yah? Pikir Irine semakin bingung, entah kenapa ini menjadi rumit. Sepertinya soal makanan itu juga ada kaitannya dengan ini, tapi siapa?
"Hn, ya sudah jika ada apa-apa katakan pada Kaka." ujar Irine. "Kalo begitu Kaka tutup telponnya."
Setelah memutuskan sambungannya, Irine kembali mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan masuk yang belum di baca dan beberapa panggilan yang tak terjawab.
"Ah, ternyata semalem tanpa sadar aku mengirim pesan pada Indah. Hm, pantas saja dia menelpon." Gumam Irine,
Jarinya terpaut di bawah dagu sambil terus berpikir, banyak kejadian yang aneh akhir-akhir ini. "Apa aku harus memasang Cctv? Ah, kenapa aku jadi tak nyaman begini." Erang Irine melempar ponselnya.
...****************...
__ADS_1
Sesampainya Irine di kantor, setelah drama yang terjadi dari bangun sampai Ia hendak berangkat yang membuat nya pusing akhirnya Irine bisa sampai dengan selamat. Dia juga bisa bernafas lega karena hari ini dia tidak telat masuk bekerja, ada 20 menit lagi dari jam masuk kerja nya. Meski begitu, dia harus cepat-cepat naik kelantai atas.
"Riiiiinnnnn...." Teriak seseorang, membuat yang memiliki nama itu terkejut.
"Riiiin, Irine." Panggil Stefi lagi, membuat beberapa pasang mata melihat ke arah nya.
"Astaga, kenapa dia berisik sekali sih." Ujar Irine merasa kesal sambil menepuk jidatnya. Tak ingin menjadi tontonan orang-orang karena kehebohan dari temannya, Irine langsung melebarkan langkahnya.
"Terimakasih, Pak." Ucap Irine langsung masuk ke dalam lift. "Cepat tertutup." Gumamnya pada pintu lift.
"Tunggu!" Pekik Stefi, langsung memegang pintu lift itu hingga tak terjadi tertutup. "Ah, syukurlah." Ucapnya bernafas lega, wanita itu langsung masuk ke dalam lift bergabung dengan Irine.
"Astaga, kenapa dia nekat sekali sih." Bisik Irine sepelan mungkin.
"Kamu kenapa sih? kok kaya lari dari aku?" tanya Stefi dengan suara sedikit kencang.
"Pelankan suara mu." Bisik Irine.
"UPS, Sorry hehehe." Seru Stefi menutup mulutnya, dia melirik sekitarnya dan benar saja orang-orang tengah menatap mereka.
Ting! Pintu lift terbuka, Irine dengan cepat keluar.
"Kok kamu ngikutin aku sih Stefi? Bukannya..."
"Ya gak apa sih, lagian aku ada urusan juga di sini." Ucap Stefi, menyela omongan Irine.
"Yah yah terserah deh." ucap Irine mencoba mengabaikan Stefi yang berjalan di belakangnya.
"Ah." Irine langsung menghentikan jalannya stelah menyadari sesuatu.
"Kenapa?" Tanya Stefi yang terlihat bingung.
"Lantai ini kan cuma untuk ada ruangan Presdir dan Pak Arka saja." Gumam Irine tak jelas. "Hey Stefi, urusan dengan siapa kamu di lantai ini?" tanya Irine menatap Stefi curiga.
Stefi menggaruk pipinya merasa malu. "Hehehehe tentu saja Presdir, siapa lagi." seru Stefi dengan senyuman bahagia.
"What?"
__ADS_1
Irine menatap Stefi dengan ekspresi tercengang, namun rupanya kali ini Stefi mengabaikan Irine dan tetap melangkah kaki nya meninggalkan Irine.