
Tuan Bramasta saat ini tengah berdiri di lobi Perusahaan bersama dengan Intan gadis yang Ia harapkan dapat berjodoh dengan Kimtan putra semata wayangnya.
"Intan terimakasih sudah mau hadir di acara hari ini, maaf jika Om kurang menjamu mu." Ucap Tuan Bramasta menjabat tangan Gadis cantik di hadapannya yang merupakan anak partner kerja sekaligus sahabatnya.
"Sama-sama Om. Lagi pula saya hanya mewakili Ayah, beliau tidak bisa hadir karena ada jadwal diluar kota." Jawab Intan tersenyum manis, setiap katanya memancarkan keanggunannya.
"Baiklah. Datanglah ke rumah Om, kau bisa bertemu dengan Istri Om untuk makan malam bersama dan tentunya Kimtan juga." Ajak Tuan Bramasta pada Intan.
"Tapi Om, apa tidak apa jika saya datang berkunjung?" Tanya Intan sedikit ragu, sebab gadis itu benar-benar melihat aura pria yang akan di jodohkan dengannya di acara tadi menatap dirinya dengan pandangan tak suka.
"Aku yakin Kimtan akan senang jika kau datang, mungkin setelah Ayahmu pulang dari luar kota kita bisa meresmikan acara pertunangan kalian nanti." Ucap Tuan Bramasta dengan semangat.
"Akh. Tidak perlu terburu-buru Om, saya juga belum berbicara banyak dengan Kimtan. Kami perlu saling mengenal terlebih dahulu, untuk membuat hubungan kita menjadi lebih baik." Jawab Intan dengan cepat.
Dirinya akui, Kimtan memang pria yang tampan dan mapan. Siapa wanita yang tak menyukainya bahkan setelah pertemuan pertama mereka tadi, dirinya merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Kimtan. Meski pria itu terlihat begitu datar dan dingin padanya, tapi tak masalah bagi Intan. Ia yakin bisa mendinginkan hati pria campuran Korea-Indonesia itu.
"Baiklah. Semua yang terbaik menurutmu, Om akan selalu mendukung." Jawab Tuan Bramasta sambil tertawa. "Kalo begitu, Om permisi untuk pulang."
"Tentu Om, titip salam pada Tante dari saya Om." ujar Intan lembut.
"Tentu." Jawab Tuan Bramasta.
Setelah itu, Pria setengah abad itu masuk ke dalam mobil yang telah dibuka kan pintunya oleh Sekertaris nya. Intan membungkukkan tubuhnya memberi hormat sebelum mobil itu melaju pergi.
"Kimtan, aku pasti akan mendapatkan dirimu." kedua matanya menatap bangunan kokoh yang menjulang tinggi, kemudian bibirnya tersenyum.
...****************...
Dua hari berlalu, setelah acara pergantian CEO. Dalam dua hari itu, Irine sengaja mengambil cuti karena alesan kesehatannya. Direktur nya memang memberinya izin, dia pun tak tahu kenapa pria tua itu mengizinkan nya. Tidak seperti biasanya, tapi dia tak terlalu banyak berpikir saat itu.
__ADS_1
Namun, siapa sangka. Ternyata kemurahan hatinya itu semuanya langsung sirna di ingatan Irine, karena pagi ini setelah dia kembali masuk. Direktur Tua itu, memberikan banyak sekali kerjaan dan tak lupa dia juga memberikan pekerjaan yang bulan lalu telah dia selesaikan.
Irine menaiki lift menuju ke ruangan Direktur, membawa berkas-berkas yang diminta oleh Direkturnya pagi tadi. Setelah sampai tepat di depan pintu Direkturnya itu dengan pelan Irine mengetuk pintu ruangan atasannya, hingga terdengar suara atasannya itu yang mempersilahkan dirinya masuk.
"Permisi Direktur, saya Irine," sapa Irine sambil berjalan masuk dan berdiri di depan meja pria yang sudah berumur tersebut. "Ini adalah berkas-berkas yang Anda minta, Tuan," Irine menyerahkan beberapa tumpukan berkas kepada atasannya itu.
"Berkas?" Pria tua itu menautkan kedua alisnya kebingungan, padahal setahu nya Ia tak meminta apapun dari Irine. Bukankah saat itu Irine sudah memberikan padanya, kenapa Ia memintanya lagi.
"Pak Bagas mengatakan pada saya, bahwa Anda menyuruh saya untuk mengantarkan laporan pemasaran bulan lalu kepada Anda," jelas Irine dia menahan rasa kesalnya, karena sepertinya usaha tadi pagi menjadi sia-sia hari ini.
"Maaf Irine. Aku tidak meminta atau pun menyuruh Bagas untuk kau membuat laporan pemasaran bulan lalu, bukankah kau sudah menyerahkannya Minggu lalu," Pria itu mengedikkan bahunya, terlihat acuh tak acuh.
Irine menghela nafasnya, sial ternyata Ia telah dikerjai oleh pria itu awas saja kalo ketemu bakal aku hajar dia. Batin Irine merasa kesal.
"Baiklah, kalo begitu Saya permisi," pamit Irine langsung membungkukkan tubuhnya, dengan raut wajah kesal.
Setelah turun dari lantai lima, Irene tak langsung kembali ke tempat kerjanya. Melainkan berjalan lurus menuju ruangan kepala bagian, dengan wajah yang tertekuk dan hati yang dongkol pergi menuju ke ruangan pria yang bernama Bagas.
Pintu itu terbuka dengan paksa oleh Irine, tanpa memikirkan bahwa sang pemilik ruangan tengah sibuk atau tidak. Biarlah orang berkata apa dengan kelancangannya ini, Ia tahu jabatan dirinya tak sejajar. Dia hanyalah pegawai magang yang beruntung karena otaknya, sedangkan Bagas adalah karyawan senior yang memang sudah lama bekerja di perusahaan ini dan sekaligus kepala bagian yang menaungi dirinya.
Meski begitu, bukan berarti Bagas seenaknya pada dirinya. Pikir Irine merasa kesal.
"Hah, astaga" Pria itu menghela nafasnya, sambil mengusap dadanya yang terkejut karena wanita itu begitu saja menerobos masuk ke ruangannya. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak, saat melihat wajah wanita yang tengah memandangnya dengan sengit. Sepertinya Irine dalam kondisi tidak baik, terlihat dari tatapannya yang membunuh.
"Apa ini sedang di hutan? Kenapa kau main seenaknya masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk terlebih dahulu, kau tidak lihat bahwa tengah ada tamu,"
Itu bukan Bagas yang berbicara, melainkan wanita yang berada di samping Bagas. Irine memutar matanya jengah, Wanita itu uekh entah kenapa dia semakin kesal.
Bagas melirik ke arah tamunya yang bernama Sella dan meminta maaf, kemudian kedua matanya menatap kembali ke arah Irine.
__ADS_1
"Pak Bagas yang terhormat ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, SEKARANG!" Desis Irine sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada, terserah sikapnya ini sembrono dan terkesan angkuh tapi dia tak ingin dibuat semena-mena oleh orang lain.
Dalam hatinya, Bagas menggerutu dengan tingkah Irine yang tak melihat situasi. Jika memang ingin berbicara pada nya kenapa harus sekarang, membuat Ia pusing saja.
"Tunggu setelah aku berbicara dengan Nona Sella." Pinta Bagas, karena dia harus menyelesaikan terlebih dahulu urusan dirinya dengan Sella Klien dari perusahaan Biht Group.
"Bukankah kau yang menyuruhku mambawa laporan bulan ini kepada Direktur?" tanya Irine, langsung pada inti perkara yang ingin dia ketahui sambil mengangkat beberapa laporan di lengan kanannya, menunjukkan dihadapan Bagas.
Terlihat Bagas yang masih kebingungan. Meski begitu, Irine tetap melanjutkan rasa kesal yang bersarang di kepalanya.
"Hm, tapi setelah aku membuatnya pagi ini dan menyerahkannya kepada Direktur. Entah kenapa Direktur bilang Ia sama sekali tidak merasa menyuruh Saya." Setiap kata yang dilontarkan Irine penuh dengan penekanan. "apa Anda sengaja memper....
Belum juga Irine melanjutkan perkataannya, Bagas langsung menghampiri Irine dan membekap mulut gadis itu sebelum mulutnya mengoceh lebih banyak lagi kata-kata lainnnya.
"Hm-Hm," erang Irine, kedua matanya membola menatap Bagas tak suka.
"Ekhem, Ekhem," Bagas berdehem, mencoba menetralkan situasi yang terlihat tak mengenakan di depan Sella. "Maaf Nona, sepertinya kita bicarakan kembali masalah laporan yang ada di Surabaya lain waktu. Saya akan menelpon Anda setelah menangani Nona ini, maafkan saya," ucap Bagas dengan nada suara yang merasa bersalah pada wanita berpakaian glamor itu.
"Baiklah, tidak masalah," jawab Sella bangun dari duduknya, Ia segera merapihkan berkas yang telah Ia keluarkan di atas meja tadi.
"Kalo begitu saya permisi dulu, Tuan Bagas," kata Sella menyunggingkan senyumnya.
"Oh yah, saran Saya sebaiknya Anda lebih mendisiplinkan bawahan Anda lain kali." Sindir Sella menatap sinis ke arah Irine, setelah mengatakan hal itu Sella langsung pergi dari ruangan Bagas.
Irine melirik Bagas yang tengah lengah, kemudian langsung menggigit lengan Bagas.
"Aw," teriak Bagas dengan reflek melepaskan tangannya dari mulut Irine. "kau," ujar Bagas menatap jengkel ke arah Irine sambil meringis, menahan sakit ulah gigitan kuat yang Irine berikan di lengannya.
"Kau pantas mendapatkannya," seru Irine menatap geram pria tersebut, mengabaikan perkataan dari Bagas yang terus mengoceh Irine lebih menutup telinganya dan pergi dari ruangan Bagas.
__ADS_1
"Irine," panggil Bagas kencang, tapi sepertinya wanita itu pura-pura tak mendengar suaranya.
"Akh wanita itu," gumamnya pelan sambil menatap bekas gigitan Irine di tangannya. "Lucu sekali," Bagas tersenyum menatap punggung Irine yang menjauh.