Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 70


__ADS_3

"Eh?" Tersadar dari lamunannya saat Stefi menepuk pundaknya. 


"Kau kenapa sih, melamun aja. Udah sore kali, yuk pulang." Ajak Stefi pada Irine yang masih duduk santai di lobi perusahaan.


"Huem. Kau duluan aja, aku tengah menunggu seseorang." Sahut Irine dengan nada suara yang lesu.


"Hah? Seseorang? Siapa sih kok aku jadi kepo gini." Serbu Stefi dengan beberapa pertanyaan pada Irine.


"Istt, kau benar-benar seperti ibu-ibu penggosip banget sih. Sana menyingkir, aku lagi gak mood banget nih." Irine mendorong sedikit tubuh Stefi yang menempel padanya.


"Irine, ayo kita pulang."


Suara Barintone itu membuat dua orang yang tengah berbincang itu terdiam, terutama Stefi yang menganga menatap Pak Bos nya yang benar-benar super tampan di lihat sedekat ini.


"Sore Bos, mau pulang yah?" Tanya Stefi berbasa-basi pada Kimtan.


Irine menepuk keningnya, kenapa Kimtan datang di saat masih ada Stefi sih. Ditambah tatapan mata Stefi yang sejak tadi menatapnya tajam, hah membuatnya pusing saja. Pasti esok hari akan banyak gosip yang disebarkan wanita ini.


"Iya aku akan pulang bersama Irine." Jawab Kimtan tanpa ragu dengan bibir yang mengembang tersenyum.


Irine langsung memberikan tatapan tajam pada Kimtan, terserahlah mau dianggap tak sopan juga masa bodo. Lagian kenapa sih, si Stefi pake tanya-tanya segala pada Kimtan. Pikir Irine kesal.


"Kami ada urusan dengan salah satu Clint, kebetulan aku membutuhkan Irine untuk membantu saya." Jelas Kimtan. Jika bukan karena Irine yang terus menerus menatapnya, Kimtan malas jika harus menjelaskan hal yang tak penting seperti ini.


Irine berdiri dengan lesu dari duduknya, membawa tas miliknya dan menghampiri Kimtan. "Ayo Pak, mumpung masih sore jadi kita bisa tepat waktu bertemu 'Clint-nya." Ucap Irine menekan kata-katanya. "Kita pergi dulu yah. Kau hati-hati pulangnya, jangan mampir sembarangan tempat." Ujar Irine pamit pada Stefi.

__ADS_1


Stefi hanya menganggukkan kepalanya saja, isi kepalanya masih terus tak percaya dengan apa yang ada di depannya ini. Stefi kembali mmperhatikan keduanya yang berjalan keluar dari lobi perusahaan, Ia curiga dengan gerak-gerik Bos nya ini terlihat sekali ada yang aneh.


"Heh, jangan-jangan ada sesuatu diantara mereka." Stefi memicingkan kedua matanya menatap kedua orang tadi yang sudah pergi. "Gempar nih perusahaan kalo sampai terjadi." Gumamnya tak jelas.


...*********...


"Pak Bagas." Teriak Stefi saat melihat Bagas berjalan di lobi perusaahan yang hendak meninggalkan kantor.


"Kau kok belum pulang? Bukannya tadi kau sudah pulang lebih awal." Tanya Bagas menghampiri Stefi.


"Hah, itu bisa dijelaskan nanti yang ini lebih menarik untuk dibahas." ucap Stefi menarik Bagas mendekat. "Ini pasti akan membuatmu patah hati, kau tau aku tadi melihat Irine." sambungnya dengan penuh semangat.


"Yaelah, aku juga melihat Irine kali. Tadi juga waktu mau masuk kerja aku melihatnya, terus waktu istirahat juga aku melihatnya. Kau aneh saja, kita kan satu kantor tentu saja pasti akan berpapasan tanpa disengaja." Sahut Bagas.


"Ih, kamu tuh tidak mengerti sekali. Ini berbeda, Aku tadi melihat Irine bareng Pak Bos kita dan dari penglihatan Indra Ke- 100 aku mengatakan bahwa Irine dan Pak Bos memiliki suatu hubungan, lebih jelasnya mereka sekarang tengah menjalin pendekatan." Ucap Stefi merasa yakin dengan pemikirannya.


"Yaelah, Pak. Ini kan Bos besar pasti sekelas Irine pun tak mampu menolak pesona dari Big bos kita. Masa kau tidak bisa membedakannya, Huh aku paling gemas jika seperti itu. Seandainya aku diposisi itu, aku pasti akan memilih Pak Bos." Timpal Stefi sambil membayangkan betapa bahagianya Ia jika bisa bersanding dengan Bos besarnya di perusahaan.


"Huss, sudahlah. Lebih baik aku pulang saja, jangan bergosip dengan yang lain nanti bisa-bisa Irine akan melemparmu ke laut." Ucap Bagas, berlalu pergi meninggalkan Stefi seorang diri. "Sebaiknya kau pulang juga, Bye."


Stefi menatap sebal punggung pria yang pergi meninggalkannya itu. "Si Bagas gak asik banget, padahal feelingku gak pernah salah selama ini." Desisnya kesal. "Pokoknya akan aku selidiki pergerakan mereka, aku adalah salah satu detektif handal masalah percintaan." Ucapnya, Ia akan mendapatkan jackpot besar jika mendapatkan berita ini.


...***********...


Di dalam mobil Kimtan. Irine sejak tadi hanya diam, tak ada sepatah katapun suara yang dikeluarkan olehnya membuat Kimtan menjadi serba salah dibuat gadis itu.

__ADS_1


"Ekhemm." Dehemnya, mencoba menghilangkan situasi yang menurutnya menyebalkan. "Pakai sabuk pengaman mu!" Ucap Kimtan langsung mencondongkan tubuhnya, membantu Irine. Tanpa sadar, tubuhnya secara refleks mundur dan nafasnya tertahan seketika dengan jarak yang begitu dekat.


Irine benar-benar merasa gugup dengan kedekatan tubuh mereka. Kedua matanya menatap kelopak mata Kimtan yang dapat dia lihat secara dekat, bulu matanya yang lentik dan memanjang membuatnya terlihat semakin tampan. Ditambah lagi wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria ini, Irine merasa sudah tak bisa lagi menahan detak jantungnya yang menggila.


"Nah, kalo gini kan kau jadi aman." Ucapnya mengembangkan senyum, memperlihatkan giginya yang berbaris rapih.


"Ekheem." Kini giliran Irine yang berdehem, Ia sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain. "P-adahal a-aku bisa sendiri." Bisiknya gugup, kedua tangannya meremas setetblet dengan kencang.


Kimtan terkekeh melihat reaksi gadis itu yang sangat imut di matanya. "Kau lucu yah. Padahal terlihat seperti wanita yang jutek, sombong, angkuh. Tapi lihat, wajahmu memerah hanya karena hal seperti ini saja. Lucu sekali."


'Memerah? Mana mungkin' Batin Irine sambil memegang kedua pipinya yang memanas. Ia melirik tajam ke arah pria di sampingnya yang masih menertawainya itu, akh ini memalukan sekali kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu secara terbuka sih padanya. Batin Irine kesal.


"Sudahlah, kita jadi pergi tidak? Jika tidak, lebih aku naik angkutan umum saja dari pada dengan dirimu yang sejak tadi mengejek saya terus menerus. Buat kesal saja." Irine melipat kedua tangannya di dada dengan wajah kesal, karena sejak tadi Ia tak bisa fokus dan selalu dibuat gugup oleh pria yang notabene adalah Big bos nya di perusahaan.


"Baiklah-baiklah, kita akan berangkat. Jangan ngambek lagi yah, mukamu jadi jelek jika terus memanyunkan bibirmu." Ujarnya mengusap rambut Irine dengan lembut.


Irine melirik pria itu yang tengah menyalakan mesin mobil, apa tidak peka yah laki-laki ini sejak tadi selalu membuatnya gugup. Akh, menyebalkan sekali dengan seenaknya menghancurkan dinding yang kokoh di dalam hatinya.


'Jangan sampai aku jatuh pada laki-laki disampingnya' Batin Irine.


Tanpa disadari, sebelum mengatakan hal itu. Ia sudah terjerat oleh pesona Kimtan lebih awal. Membuatnya terperangkap dalam sangkar yang telah dibuat dan direncanakan oleh Kimtan dijauh-jauh hari.


'Ini sungguh kenyataannya, kenyataan di mana aku benar-benar jatuh cinta kembali dengan seseorang yang persis dengan kekasihnya dulu.' Batin Kimtan melirik Irine yang tengah fokus menatap keluar jendela.


'Semoga kau selalu bahagia di manapun kau saat ini. Aku pun pasti akan belajar untuk bahagia dan menata ulang serpihan-serpihan hati yang lama hancur karena kehilanganmu' Batin Kimtan, fokus menatap jalan di depannya. Ia tersenyum dan menyakinkan hatinya untuk bangkit kembali bersama orang yang sangat ingin Ia buat bahagia.

__ADS_1


Kemudian tanpa disengaja oleh keduanya, mata mereka saling bersitatap saat Kimtan menolehkan wajahnya lagi kearah Irine. Hal itu membuat situasi mereka bertambah canggung.


__ADS_2