
Kimtan menjulurkan lengannya memegang lengan Irine. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kau terlihat gelisah?" tanya nya terlihat khawatir.
Irine menatap kedua mata Kimtan yang menatapnya khawatir, merasa bersalah dia dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, maaf membuatmu tak nyaman." Gumamnya berbohong. Karena khawatir Kimtan menyadari kebohongannya, Ia langsung menghindari tatapan pria di depannya. Dia tak ingin Kimtan tahu mengenai Lala meski dia benar-benar khawatir.
Setelah Kimtan tak banyak bertanya lagi padanya, beberapa kali kedua matanya mencuri lihat ke arah ponselnya. Sudah setengah jam berlalu, tapi tak ada kabar lagi dari adiknya setelah dia menelpon dan mengetahui kabar mengenai Kaka nya yang di bawa ke rumah sakit.
"Makanlah ini." Kimtan mengambilkan steak yang sudah terpotong.
"T-terimakasih." timpal Irine, dia menatap bingung makanan di hadapannya. Perasaan mereka tidak memesan steak? Sejak kapan Kimtan memesannya? pikirnya kebingungan.
"Aku tadi sengaja memesannya." ucap Kimtan, seakan mengerti apa yang ada di kepala Irine.
"K-kenapa?" Tanya Irine gugup.
Kimtan menarik bibirnya ke atas, sangat manis- senyumnya. Pikir Irine.
"Aku tahu kau menyukai daging." Jawab Kimtan sambil mendekatkan lengannya ke bibir Irine dan mengusap sedikit saos yang menempel di bibirnya. "Ada saos." sambungnya tersenyum manis menampilkan deretan giginya.
"A-h." Seru Irine. Dia menjadi salah tingkah dan langsung mengambil tisu guna membersihkan bibirnya. "M-maaf." Cicit Irine merasa tak enak hati.
"Tidak apa, nikmati makannya. Besok kita akan bertemu dengan berbagai mitra kerja dari luar negeri."
"B-baik." jawab Irine dengan suara terbata, jantungnya benar-benar tak bisa di kontrol lagi. "A-ku permisi ke kamar mandi." pamitnya langsung pergi tanpa menunggu respon apa yang akan diberikan atasannya karena dia benar-benar merasa malu.
Di kamar mandi. Irine langsung membasuh wajahnya beberapa kali dengan Irine, berharap bisa membuatnya rileks.
Drrt... Drrt... getaran ponsel membuatnya menolehkan wajah, di sana tertera nama adiknya. Tak butuh waktu lama, dia langsung mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau.
__ADS_1
"Can." seru Irine terlihat khawtair. " Kenapa baru menghubungi Kaka lagi, bagaimana keadaan Ka Lala saat ini?"
"Ka Lala sudah berada di kamarnya dan tidur, maaf baru menghubungi lagi. Ada beberapa hal yang harus di urus sebelumnya." Jelas Candra menjawab kekhawatiran sang kakak.
"Iyah tidak apa. Lalu apa kata Dokter mengenai Ka Lala? apa ada hal serius?"
"T-idak ada kak, itu hal wajar bagi orang yang hilang ingatan. Saat ini Ka Lala sudah baik-baik saja, Dokter juga sudah memberikan obat jika sewaktu kepala Ka Lala sakit lagi."
Irine bernafas lega mendengar kabar dari Candra. "Syukurlah, sebaiknya kau istirahat juga. Maaf kan Kaka, karena tidak membantumu." Sesal Irine.
"Jangan bicara seperti itu Ka, Kaka kan kerja untuk kita. Jadi tidak perlu merasa bersalah, Kaka fokus saja untuk kerjanya."
Tanpa sadar Irine tersenyum mendengar penuturan adiknya. "hmm, kalo begitu Kaka tutup telponnya."
Sambungan telpon terhenti, wanita itu masih menatap ponselnya. Hingga kedua matanya membola saat melihat panggilan tak terjawab dari Kimtan. "Ah, sepertinya dia terlalu lama di sini." Gerutu Irine. Buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya dan berjalan keluar dari toilet.
"Sepertinya." jawab Irine menggaruk pipinya bukan karena gatal, tapi karena merasa bersalah pada Kimtan.
"Syukurlah." Seru Kimtan tersenyum. "Kalo begitu kita kembali ke hotel, waktunya untuk istrihat." sambungan Kimtan sambil berdiri dari duduknya.
...****************...
Keesokan paginya. Gadis itu terbangun dari tidurnya saat wajahnya terkena sinar matahari dari sela-sela gorden jendela. Senyum manis terukir di wajahnya, malam ini tidurnya benar-benar nyenyak tidak seperti biasanya.
Kruukk... Krukkkk ...
Suara perutnya membuat wajah Irine memerah, padahal masih pagi. Batinnya.
__ADS_1
Grep.
Deg. Irine tersentak kaget saat merasakan lengan seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dengan sangat pelan dia menolehkan wajahnya ke arah belakangnya, melihat siapa orang yang seenaknya tidur di tempatnya.
KIMTAN! Batin Irine menjerit saat mengetahui siapa orang menyebalkan itu. Dia mencoba menahan rasa kesalnya, dengan perlahan mencoba menyingkirkan lengan Tuannya dari tubuhnya.
"Uekhmm..." Erang pria itu semakin membawa tubuh Irine ke dalam dekapannya. "Aku masih mengantuk..." Kimtan menenggelamkan kepalanya diperpotongan leher jenjang Irine, menyesap aroma tubuh gadis itu dengan beraninya.
"K-kimtan." panggil Irine dengan terbata-bata, dia tak bisa berpikir jernih dengan situasinya saat ini. "....... S-sejak k-kapan kau di sini?" Lanjut Irine bertanya.
"Beberapa saat yang lalu." Jawab Kimtan dengan santainya.
Dalam benak Irine dia bersyukur dengan jawaban Kimtan, tapi dia tak bisa jika harus dengan posisi seperti ini. "S-sebaiknya kau segera bangun, bukankah ada rapat pagi ini." ucap Irine mengingatkan Kimtan mengenai jadwal pagi ini.
"Itu 2 jam lagi." Jawab Kimtan kembali.
Pelukan Kimtan semakin erat, membuat tubuhnya terasa sesak dan jantungnya. Oh Tuhan! Dia tak ingin Kimtan mendengar suara detak jantungnya.
Krukkk Krukkkk
Dia mendecih dan menyumpahi bunyi perutnya yang tidak tepat. Kali ini suaranya lebih nyaring dan Irine sangat yakin Kimtan juga mendengarnya.
Kimtan mendongakkan wajahnya, menatap wajah Irine yang memerah. "Kau lapar?"
"Ah menyebalkan." pekiknya sambil menutupi wajahnya dari Kimtan.
"Hahahaa baiklah-baiklah." Kimtan tertawa. "Mandilah, aku akan memesankan makanan." lanjutnya sambil mencium kening Irine dengan lembut.
__ADS_1