Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 46


__ADS_3

Apartemen Kimtan | Pukul 17:01 WIB


Irine mengusap tengkuknya, merasa sakit di area kanan. Wajar saja sih, selama di tempat atasannya sejak tadi wanita itu tidak mau diam. Meski bibi yang bertugas membersihkan kediaman Kimtan, tapi Irine tegap bersikekeh untuk membantunya.


"Nona, sebaiknya Anda Istirahat saja sekarang. Biar bibi yang menyelesaikan semuanya." Pinta Bibi tersebut pada Irine. Wanita paruh baya itu merasa tak enak, jika wanita Tuannya yang membersihkan semua padahal ini merupakan tugasnya.


Irine menatap sekitar baru kemudian menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan sang Bibi. "Baiklah Bi, aku kembali ke kamar dulu. Kalo Tuan Kimtan pulang, bilang padanya untuk tidak masuk ke kamar sembarangan."


"Baik Nona, akan saya sampaikan pesan Anda."


Setelah itu, Irine berjalan dengan gontai menuju kamarnya kembali lebih tepatnya kamar milik atasannya. Irine menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sepertinya pria itu sebentar lagi pulang, hah sampai kapan dirinya berada di Apartemen ini.


Belum sempat Irine menutup pintu kamar itu sepenuhnya, tiba-tiba ada tangan yang dengan cepat menghalangi pintu untuk tertutup.


"Astaga." pekik Irine benar-benar terkejut. "A-nda mau apa?" ucap Irine terbata, kedua matanya menatap Kimtan horor.


"Aku meminta Arka untuk menghubungi mu, kenapa kamu sulit sekali di hubungi bahkan Bibi pun tak mengangkat telpon rumah." ucap Kimtan berbicara dengan sekali tarikan nafas.


"Memangnya aku ada kewajiban untuk menjawab telponnya?" tanya Irine dengan nada sinis.


Kimtan berjalan mendekat, kemudian langsung memeluk Irine ke dalam pelukannya sambil berkata. "Hah, kau masih saja keras kepala padahal aku hanya ingin tahu kondisimu."


Kedua mata Irine membulat, kenapa pria ini sangat aneh kali ini. Dia berusaha memberontak untuk melepaskan tubuhnya dari Kimtan, tapi nyatanya kekuatan mereka tak seimbang membuat Irine kalah dalam hal ini.


"Sebentar saja, aku sangat lelah." Bisik Kimtan di samping telinga Irine.


Mendengar itu, lengan yang sejak tadi berontak seketika melemah. Kedua matanya menjadi merah, dia benci situasi seperti ini karena membuat jantungnya berdegup kencang tidak seperti biasanya.


"Bisakah kau temani aku makan terlebih dahulu, aku sangat ingin makan bersama mu."


Secara alami Irine menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Kimtan.


"Terimakasih, Irine."


...**********...


Saat ini Irine tengah duduk manis di meja makan, dia memperhatikan Kimtan yang sejak tadi sibuk menata semua makanan yang telah dia masak bersama Bibi Ahn.


Awalnya, Irine ingin membantu Kimtan memanasi makanan nya. Tapi, pria itu dengan cepat menghalanginya dan mengatakan padanya untuk duduk saja.


"Wah, sepertinya Bibi Ahn memasak menu yang tidak biasanya Ia masak." gumam Kimtan menatap makanan yang telah tersaji di meja makan.


Irine tak menanggapi perkataan Kimtan, karena dia tahu alesannya kenapa Bibi Ahn tidak memasak makanan seperti biasnya karena memang dia lah yang memasak bukan Bibi Ahn tapi dia tak mengatakan apapun pada Kimtan.


"Irine, silahkan makan. Masakan Bibi Ahn, benar-benar lezat."


Kimtan mengambilkan Irine nasi.


"Terimakasih." Ucap Irine lembut.


"Tentu." jawab Kimtan tersenyum manis ke arah Irine.

__ADS_1


Irine dengan pelan menyendokkan makan ke dalam mulutnya, dia khawtair masakannya kurang enak dan tidak sesuai dengan lidah Kimtan.


"Wow!" pekik Kimtan tak percaya.


"Kenapa?" Irine menatap Kimtan cemas, dia semakin khawatir dengan masakannya.


"Coba makan ini." Kimtan meletakkan udang di atas sendok Irine.


Irine menerima nya dengan ragu, kemudian memakannya dengan takut dan cemas dia khawatir kenyataannya makanan yang dia buat terasa asin atau semacamnya.


"Bagaimana? enak bukan? Wah bumbu nya benar-benar menyatu sekali." puji Kimtan dengan wajah yang berbinar.


Kedua pipi Irine merona merah, mendengar pujian Kimtan pada masakannya. Bibirnya mengembang menampilkan senyum yang benar-benar sempurna.


"Kau menyukainya juga? Aku akan mengatakan pada Bibi Ahn untuk membuatnya lagi."


"Ah, tidak perlu Tuan. Lagi pula, saya harus pulang." tolak Irine cepat. Dia tak memberitahu Kimtan bahwa makanan ini dialah yang memasaknya.


"Pulang?" wajah Kimtan berubah lesu. "Apa kau tidak suka tinggal di tempatku?"


"Bukan seperti itu Tuan." jawab Irine cepat. "Akan sangat merepotkan jika saya tinggal di sini dan lagi saya tinggal bersama keluarga saya sekarang." sambung Irine tak ingin membuat Kimtan salah paham.


"Ha begitu yah, pasti aku merindukan mu." Celetuk Kimtan.


Deg.


Bukan sekali dua kali, atasannya ini berkata seenaknya tanpa tahu perasaannya seakan di tarik ke sana ke mari.


"Akh, sebaiknya aku menghubungi adikku. Aku lupa menghubunginya, jadi aku permisi lebih dahulu." Ucap Irine pada Kimtan.


Irine memutuskan kembali ke kamarnya dan mencari keberadaan ponselnya, Ia sedikit lupa menaruhnya di mana tadi.


"Ah, itu dia." Irine berucap senang dan mengambil ponselnya yang berada di sisi sofa.


Ketika membuka ponselnya, terdapat banyak sekali panggilan masuk dari Adiknya. "Wah ternyata benar, Candra menghubungi nya terus menerus dari kemarin."


Irine langsung menghubungi adiknya, namun tak kunjung di angkat panggilannya oleh Candra. Dia pun memutuskan untuk mengirim adiknya pesan.


"Dia terlalu lama di sini? Ah....." Irine melihat menatap memar di kakinya. "Ternyata masih sakit." gumam Irine memegang kakinya, dia kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sana.


Baru saja Irine hendak mengambil salep yang ada di atas meja, dia urungkan saat suara Kimtan terdengar di gendang telinganya.


"Kau masih sakit?"


Irine menolehkan kepalanya, lelaki itu tengah berdiri di pintu dengan wajah yang terlihat sedih.


"K-kimtan." bisik Irine memanggil nama pria itu.


Dengan langkah lebar, Kimtan menghampiri Irine. Mengambil salep yang hendak Irine ambil tadi dan berjongkok di lantai. "Kau harusnya katakan padaku jika mau masih sakit, kenapa harus menutupinya." gumam Kimtan, menyibak rok yang tengah di pakai Irine. Lalu memberikan mengoleskan salepnya ke lutut gadis itu.


"Ah.." erang Irine.

__ADS_1


"Maaf..." ucap Kimtan, saat Irine mengerang kesakitan. "Tapi dengan ini memar mu akan hilang, jadi sabar sebentar yah." kedua mata Kimtan menatap kedua mata Irine dengan lembut jangan lupakan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.


Irine membuang wajahnya ke arah lain, dia tak bisa seperti ini. Jantungnya semakin tak bisa Ia kontrol.


"Maaf, aku merepotkan mu." bisik Irine lirih.


"Kau berlebihan, aku senang membantu mu." Ucap Kimtan. "Nah, selesai. Jangan bergerak sembarangan, okay."


"Kimtan, ada yang ingin aku bicarakan." suara Irine memelan.


"Katakan saja, aku akan mendengarnya."


Pria itu berdiri dan ikut duduk di sebelah Irine.


"Kimtan.." Irine memanggil nama pria itu lagi. "Dengarkan aku, Aku--


Irine tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, bibirnya langsung dibungkam oleh pria yang berada di sampingnya. Bukan dengan tangannya, melainkan oleh bibir Kimtan.


"Kim.. hm.hm-- lepas." Irine berusaha mendorong tubuh Kimtan yang lebih besar darinya.


Tapi sepertinya pria yang bernama Kimtan ini, enggan melepas tautan itu. Ia semakin memperdalam, menyalurkan setiap emosi yang membelenggu di hatinya.


Tanpa disadari, Irine malah ikut terhanyut dalam kecupan. Tanpa sadar, dia mengikuti ritme yang ada. Membuat keduanya semakin terlarut, kedalam perasaan mereka masing-masing. Menyelami setiap rasa yang mereka miliki, hingga beberapa menit kemudian tautan itu terlepas karena kebutuhan oksigen dari keduanya. Nafas itu saling beradu, menerpa wajah wanita dan pria itu.


"Aku Mencintaimu." Kimtan kembali mengecup bibir Irine yang memerah karenanya.


Mendengar kata-kata itu, membuat gadis itu menitikkan air matanya. Rasa yang dimilikinya, tak mampu terbendung lagi.


'Pada batas ini, seharusnya mereka berhenti. Tapi, sepertinya Kimtan tidak berniat untuk menyudahinya dan anehnya wanita itu juga tak memberontak lagi.


Keduanya kini berpelukan, setelah melakukan pergulatan panas tadi.


"Aku mencintaimu, Irine." Bisik Kimtan terus menerus, membanjiri ribuan kupu-kupu di hati Irine.


Tring. Tring.


Momen yang tepat bagi Kimtan, rusak seketika saat bunyi ponsel yang ada tengah di pegang oleh Irine.


Kimtan memutar bola matanya kesal, langsung merebut ponsel Irine. Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Kimtan, membuat Irine menatap tak percaya kearah Kimtan.


" Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku! Itu pasti adikku yang menelpon." Seru Irine dengan raut kesal..


Kimtan membuang ponsel itu kesembarang arah- tanpa pikir panjang langsung menarik tubuh Irine kembali dalam dekapannya, memeluknya dengan erat. "Aku tidak ingin adik kecilmu itu mengganggu kita, setelah sekian lama kau memcoba menghidari dariku." Bisik Kimtan dengan suara Barintone nya.


"I-itu karena aku--


Kimtan mengecup dahi Irine, membuat Irine bungkam. "Bersihkan tubuhmu, aku juga akan membersihkan tubuhku." Ucap Kimtan menyela omongan Irine, sudah berapa kali Kimtan menyela kata-kata Irine.


Pria itu melempas rengkuhannya pada Irine.


"Apa kau akan tetap diam disitu, sambil memperhatikan wajahku yang tampan ini?" Tanya Kimtan tanpa menatap Irine.

__ADS_1


"T-idak." Jawab Irine gelagapan, wajahnya menjadi merah. "A-ku akan membersihkan tubuhku, jangan mengintip." Sahut Irine, mengingatkan Kimtan yang tengah terkekeh.


Irine berjalan ke arah kamarnya tadi, Ia sedikit menghentakkan kaki nya geram kenapa Kimtan selalu menggoda dirinya. "Ch." Desisnya.


__ADS_2