
Jack tiba di ruangan kerja nya, di mana setelah tiga hari ini Ia tinggali karena harus mengurus urusan Tuan nya di Luar kota.
Tok...Tok...Tok...
"Permisi Tuan Jack." Seorang perempuan muncul dari balik pintu dengan raut wajah pucatnya.
"Ada apa?" tanya Jack pada perempuan itu yang dia yakini adalah temannya Irine.
Stefi, teman kampus Irine memberanikan diri berjaln masuk ke ruangan orang kepercayaan Bos nya di kantor.
"I-itu Tuan..." Stefi bingung harus mengatakan apa, suaranya terbata-bata.
"Katakanlah." ucap Jack dengan suara beratnya.
"Tuan Kimtan, pagi ini beliau hampir memarahi semua staff. Untuk itu saya datang menghadap Anda karena kami tidak tahu letak kesalahan kami, kami mohon bantuannya Tuan." ujar Stefi membungkukkan tubuhnya, sebisa mungkin agar Jack mau menolong dirinya.
Jack menautkan kedua alisnya. Dalam hatinya bertanya, kenapa Kimtan berulah lagi? Padahal temperamennya sudah menurun.
"Di mana Irine? Apa dia belum datang ke kantor?" tanya Jack.
"E....em, kebetulan Irine tidak masuk." jawab Stefi masih menundukkan kepalanya.
"Ah." Jack memegang pelipisnya, pantas saja Tuan nya masih pagi mood nya sudah buruk. "Kenapa dia tidak berangkat?" tanya Jack lagi.
"S-setahu Saya dia izin untuk mengantar saudaranya pergi ke rumah sakit."
"Kim.... Ah maksudku apakah Tuan tahu jika?"
"S-sepertinya Tuan tahu."
Setelah mendengar penjelasan dari Stefi dan mengetahui permasalahannya, Jack menyuruh Stefi untuk kembali bekerja. "Baiklah-baiklah, aku akan mengurusnya sebaiknya kau kembali bekerja."
"Terimakasih Tuan, terimakasih." ujar Stefi. setelah beberapa kali membungkukkan tubuhnya, gadis itu berjalan keluar dan menutup pintu ruangan kerja Jack secara perlahan.
"Ah, jantungku." Gumam Stefi sambil memegang dadanya. "Dia memang tampan, meski lebih tampan Tuan Bos." Tanpa sadar gadis itu tersenyum.
"Ah lupakan itu Stefi bodoh, kau harus cepat kembali ke ruangan mu." ujarnya menyadarkan diri dari tingkah konyolnya, gadis itu pun berlari sedikit cepat.
Tiba di ruangannya, terlihat kedua juniornya tengah sibuk mengerjakan laporan mingguan yang akan diserahkan kepada Ceo saat ini juga. Baru kali ini mereka mengerjakan laporan mingguan, sebelumnya Ceo mereka Tuan Kim menyuruh mereka membuat laporan keuangan dua Minggu sekali. Tapi entah ada angin apa, tiba-tiba pria tampan bak pangeran Yunani itu menyuruh mereka membuat laporan mingguan.
"Apa sudah selesai?" tanya Stefi menghampiri meja juniornya.
"Hm, ini sudah selesai kami kerjakan Bu." ujar Nora menyerahkan laporan itu pada Stefi.
"Apakah Ibu sudah menemui Tuan Jack?" tanya Ina dengan raut penasaran.
__ADS_1
"Ah, ya begitulah." Jawab Stefi seadanya. "Kalo begitu, Saya akan menyerahkan ini pada sekertaris Tuan Kimtan. Kalian lanjutkan kembali kerjaannya." Titah Stefi pada Nora dan Ina.
"Baik Bu Stefi, fighting!" ucap Nora dan Ina bersamaan.
Stefi berjalan memasuki lift menuju lantai 10 di mana letak ruangan sang CEO berada, di sana juga merupakan ruangan temannya Irine. Jujur saja, Stefi sedikit iri dengan Irine karena baru saja beberapa bulan magang gadis itu telah di angkat menjadi sekertaris sang CEO tampan.
Tring!
Ditengah lamunannya, Stefi terkejut saat pintu lift itu terbuka. Dia segera berjalan kearah ruangan sang CEO.
Setelah cukup lama berjalan, kini dia berada tepat di depan ruangan. Di sana, tepat di depan ruangan sang CEO ada meja seperti meja resepsionis yang di mana itu merupakan meja khusus sekertaris Tuan Kim yang biasa menangani tamu dan penyerahan berkas dari tiap divisi. Sedangkan temannya Irine, letak ruangannya tepat di dalam bersebelahan dengan Tuan Kim langsung.
"Permisi! Saya dari bagian keuangan ingin menyerahkan berkas ini." Stefi memberikan berkas warna biru itu pada pria di depannya. Ah jika di lihat-lihat kenapa yang di samping CEO nya selalu pria tampan? Tentunya selain Irine.
"Ini laporan mingguan?" tanya Sekertaris pada Stefi.
"Benar Tuan."
"Baiklah saya akan menyerahkannya pada Tuan, Terimakasih." ujar Sekertaris tampan itu sambil tersenyum.
"Iyah, sama-sama. Kalo begitu, permisi." pamit Stefi, berjalan meninggalkan sekertaris itu dengan senyuman manisnya.
...****************...
Di lorong rumah sakit, Irine berjalan sambil mendorong kursi roda Kakak nya. Sebentar lagi mereka akan sampai di ruangan Dokter Cleo.
"T-tidak!" jawab Lala dengan cepat.
Irine tersenyum mendengar Kakak nya yang berbohong. "Santai saja, Dokter Cleo kan orang nya santai dan tampan. Seperti Oppa Oppa Korea gitu." Gurai Irine, mencoba memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"........" Lala tak menanggapi gurauan adiknya, dia hanya fokus ke depan.
"Nah, sudah sampai Kaka tenang saja yah." Seru Irine kembali. Gadis itu berjalan dan mengetuk pintu ruangan Dokter Cleo.
Tok...Tok...Tok...
Tiga kali Irine mengetuk pintu itu, hingga terdengar suara dari dalam yang Ia tahu itu adalah Dokter Cleo.
"Masuklah!"
Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Irine langsung membuka pintu itu. "Ayo Kak." seru nya mendorong kursi roda itu memasuki ruangan Dokter Cleo.
"A... Kalian, selamat pagi. Bagaimana kabarnya?" Sambut Dokter Cleo yang terlihat terkejut dengan kedatangan mereka.
"Uuuuu, memang Dokter pikir siapa yang akan datang?"
__ADS_1
"Hahahaha bukan siapa-siapa, kalian lebih awal yah datangnya."
"Maafkan Saya Dokter." celetuk Lala tiba-tiba.
"Uekh, Dokter jangan bilang begitu. Akhir-akhir ini Kakak saya sulit untuk di ajak bercanda." Bisik Irine pada Dokter Cleo, membuat dokter tampan itu terkekeh.
"Ya sudah silahkan duduk Irine."
"Terimakasih Dokter." seru Irine dengan semangat.
"Tumben sekali datang nya dengan mu, biasanya adik laki-laki kalian."
"Yah, aku mengambil cuti hari ini."
"Oh begitu, syukurlah." timpal Dokter Cleo tersenyum manis.
"Ya, karena aku cukup takut ketika mendengar kabar mengenai kondisi Kaka tempo lalu."
"Waktu itu yah, hmmmm... kalo saat ini bagaimana keadaannya Lala, apa masih terasa pusing?" tanya Dokter Cleo pada Lala.
Lala menatap Dokter Cleo dengan serius, dia meremas kedua lengannya ada rasa takut yang tiba-tiba menghampiri gadis itu.
Irine menyadari kegelisahan kakak nya, dia langsung memegang lengan kakak nya mencoba memberi kekuatan. "Tidak apa Kak, katakan saja pada Dokter Cleo yang terjadi pada Kakak."
Lala menoleh ke arah adiknya yang memberikan senyuman padanya, kemudian Kemabli menatap Dokter Cleo. "Akhir-akhir ini saya sedikit mengingat ingatan saya dahulu, tapi masih abstrak dan saya belum memahami situasi itu Dokter."
Dokter dan Irine menyimak cerita dari Lala.
"Tapi, setelah memori itu muncul di kepalaku rasa pusing langsung datang. Rasanya sangat sakit hingga jantung saya terasa menghimpit."
"Eumh, itu memang kondisi normal untuk pasien yang mengalami amnesia. Sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa kau tidak perlu memaksakannya secara perlahan saja!"
"Lalu Dok, mengenai kondisi ingatan Kakak Saya apakah itu akan kembali secara sempurna?" tanya Irine.
"Ada kemungkinan kembali semua, bagaimana kondisi Nona Lala sendiri." jawab Dokter.
"Dibanding itu semua, saya harap Nona Lala mau belajar untuk menggerakkan kakinya dan rutin latihan tanpa mengunakan kursi roda."
"Tapi Dokter, saya belum bisa melakukan itu." ujar Lala terlihat ragu.
"Tidak apa, secara perlahan saja supaya otot-otot nya ikut berlatih dan tidak kaku."
"Benar Ka, aku akan meminta seorang perawat untuk menjaga Kakak juga." ujar Irine terlihat serius. "Benar kan Dokter?"
"Yah itu lebih baik, jadi Nona Lala bisa terkontrol untuk latihan berjalan dan konsumsi obatnya."
__ADS_1
"Hm, terimakasih Dokter untuk masukannya." Lala menatap adiknya, kenapa dia melakukan ini terlalu jauh padahal dia mengerti kondisi keuangan adiknya tapi kenapa dia bersikeras untuk dirinya?