Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 55


__ADS_3

Gadis dengan rambut panjangnya yang terikat tinggi itu tampak tengah mengercutkan bibirnya dengan kesal, sambil menatap sosok tinggi yang sedang menelpon seseorang. Sepertinya dia tengah menelpon dengan klien nya, terlihat dari wajahnya rupawannya yang serius berbicara.


"Baiklah, Terimakasih Tuan Edward. Saya sungguh menantikan projek kita selanjutnya." Pria itu terlihat menutup sambungan telpon dan langsung mengalihkan pandangannya kepada gadis yang tengah menundukkan wajahnya.


"Jangan tunjukkan wajah seperti itu." ucapnya membuat sang empu menoleh ke arahnya.


"........" Tapi sepertinya gadis itu mengabaikannya, terlihat dari responnya yang acuh.


Pria itu menghela nafasnya dan menghampiri gadis itu. "Irine." Panggil pria itu, sorot matanya menatap leher jenjang gadis itu yang terekspos. Dengan sekali tarikan, rambut yang tadi terikat rapi kini menjadi tergerai menutupi lehernya.


"Tuan." pekik Irine terkejut. Dia menatap tak suka dengan apa yang atasannya itu perbuat, tiba-tiba melepas kuncir rambutnya. Tidak tahukah butuh berapa lama dia mengikat rambutnya, tch.


"Kau terlihat jelek, aku tak suka. Gimana nanti klienku melihatmu, pasti mereka tidak nyaman." Pria bernama Kimtan itu berdalih sambil kedua lengannya membantu merapikan rambut Irine yang panjang, mencoba menutupi leher gadis itu. "Ini lebih baik." sambungnya tersenyum.


Sedangkan gadis itu masih tak habis pikir dengan perkataan atasannya barusan. Dia sungguh menyebalkan, jika tahu akan begini dia lebih memilih menolak untuk pergi tugas bersamanya.


Kimtan menatap arlojinya. "Ini sudah waktunya, ayo masuk Irine."


Tanpa membalas Tuannya, Irine masuk mengikuti tuannya ke dalam mobil. Sejujurnya Dia masih bete dengan kejadian tadi.


Di dalam mobil, mereka berdua duduk beriringan. Kimtan menatap gadis itu yang masih diam sejak mereka berangkat. "Kau masih kesal denganku?" tanya Kimtan.

__ADS_1


Irine mendengus, mendengar pertanyaan dari Tuannya. Dia tak tahu kepribadian Tuannya yang bisa berubah-ubah seperti itu, membuatnya menggila menghadapinya.


"Irine." Kimtan mengulurkan jemarinya untuk menyingkirkan rambut gadis itu dan memperlihatkan leher mulus nan halusnya.


Tindakan itu membuat jantung Irine berdegup kencang, ada apa dengan nada suara Tuannya yang terdengar menggelikan dipendengarannya. Dan yang membuat tubuhnya semakin menegang, pria itu dengan tiba-tiba menggigit lehernya dengan santai. Padahal mereka tidak sedang berdua, ada supir di depan mereka.


"Aku tidak ingin orang lain melihat tubuhmu." bisik Kimtan, kemudian kembali memberikan kecupan di sana.


Irine meremas roknya dengan kencang, dia merasa kesal dengan perbuatan pria ini. "T-tuan." Irine memanggil tuannya dengan suara yang ditekankan. "Kau bisa menyingkir dariku!"


Kimtan yang melihat wajah Irine yang berubah serius, semakin terkekeh geli. "Baiklah-baiklah. Tapi, akan lebih baik kau menunjukkannya ke seluruh dunia lehermu itu. Dengan begitu orang-orang akan mengerti bahwa kau hanyalah milikku seorang." Ucap Kimtan menatap leher Irine yang memerah karena ulahnya.


'Its menyebalkan.' Batin Irine menjerit dengan cepat menarik rambutnya guna menutupi lehernya, dia menatap kesal pria angkuh di sampingnya. Tapi, dia tak ingin meladeninya lagi hanya berharap segera sampai di hotel dan mengistirahatkan tubuhnya setelah 3 jam perjalan.


Lala menatap pepohonan itu dengan takjub, dia benar-benar sangat senang ketika adiknya membawanya ke tempat ini. Beberapa orang berlalu lalang dan ada juga yang tengah menikmati waktu mereka dengan keluarganya di bawah pohon nan rindang. Tempat ini, seperti tak asing untuknya. Seperti pernah datang ke sini sebelumnya tapi kapan? Dia tak mengingat hal itu.


"Ka, kau senang datang kemari?"


Lala menolehkan wajahnya pada sang adik, lalu menganggukkan kepalanya dengan wajah yang tersenyum. "Terimakasih telah membawa datang ke sini."


"Tentu Ka, nanti kita bisa datang ke sini lagi bersama Ka Irine setelah pekerjaannya selesai." Gumam Candra, menatap orang-orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Lala menatap hangat adiknya, jemarinya memegang jemari Candra lembut. "Maafkan Kaka, karena Kaka kau jarang bertemu dengan kekasihmu."


"Ah, jangan berkata seperti itu. Aku senang meluangkan waktu bersama Kaka." seru Candra tersenyum sangat tulus.


"Kau memang adik yang baik." Lala mengelus lembut surai Adiknya.


'Sayang, kau lihat mereka. Aku ingin, aku juga ingin memiliki keluarga kecil seperti mereka bersamamu.'


Deg. Kedua matanya membola saat suara laki-laki terlintas dalam ingatannya.


'Aku sungguh mencintaimu Lala.'


Lagi, suara itu kembali muncul. Dia mencoba mengingatnya kembali, tapi tidak bisa. Kepalanya malah terasa sakit. "Akh." erangnya sambil memegangi kepalanya.


"Kaka." panggil Candra terkejut. "Ada apa?" tanya nya mulai terlihat panik.


'Tan... Tan... Jangan panggilku seperti itu, panggil aku suamimu.' ujar pria itu tersenyum hangat.


'Ah, siapa? siapa kau?' Batin Lala, mencoba mengingat suara pria itu yang tiba-tiba muncul dalam memorinya.


"Kepalaku sakit, Can." erang Lala, setelah mengatakan itu kesadarannya menghilang.

__ADS_1


"Kakak." pekik Candra langsung mengangkat Kaka nya dan kembali menggendongnya ke dalam mobil. "Bertahanlah Ka, aku akan membawamu ke Dokter." gumam Candra dengan nada suara lirih.


__ADS_2