
Candra baru saja sampai di Rumah Sakit, setelah di hubungi oleh teman Kaka nya Candra benar-benar terkejut jika Kaka nya tengah sakit. Tanpa menunggu lagi pada saat itu, Candra langsung pergi ke Rumah Sakit.
"Kak Indah." Panggil Candra, saat melihat teman Kakak nya yang tengah berjalan di lorong rumah sakit.
"Hey, kau sudah datang." Seru Indah dengan wajah tersenyum. "saat ini Irine sedang di infus di ruangannya, kau tidak perlu khawatir." Indah menjelaskan kondisi Irine pada Candra.
"Kaka yakin? Dia tidak biasanya seperti itu." ucap Candra dengan raut khawatir di wajahnya.
"Sebaiknya ayo kita temui dia."
Indah mengajak Candra menuju ruangan Irine yang tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi, hanya berjalan di satu belokan mereka bisa langsung menemukan kamar inap Irine.
"Ka Irine." Panggil Candra saat pintu itu telah terbuka.
"Aaaa." Pekik Irine terkejut, sambil membaginya dadanya. Wajahnya Ia tolehkan kearah sumber suara, kedua matanya menatap tajam adiknya.
"Kenapa seperti hantu sih, bikin kaget saja." Ucapnya.
"Lagian Kaka kenapa gak bilang kalo sakit, jika Ka Indah tidak menghubungiku. Pasti aku tidak tahu keadaan Kaka saat ini." ucap Candra khawatir.
"Dasar, suruh siapa tidak pulang-pulang. Bahkan Kakak mu sakit pun kau tidak tahu." Seru Irine dengan ekspresi yang kesal.
Candra menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iyah maafkan Aku, lain kali aku usahakan untuk pulang." ujarnya penuh rasa menyesal.
"Memang nya Kaka sakit apa?" Candra mendekatkan telapak tangannya ke dahi Irine. "Bukannya tadi pagi Kaka telpon baik-baik."
"Anemia aku sepertinya kambuh lagi, tadi setelah pulang kerja rasanya pusing benar-benar pusing makanya pulang kerja langsung ke sini." Jelas Irine.
"Hn, begitu. Ya sudah kata Ka Indah, Kaka harus menginap semalam di sini dahulu. Besok biar aku hubungin temen kerja Kaka, bilang padanya kalo Kaka izin tak masuk karena sakit."
"Tapi Cand, kerjaan Kaka tuh lagi banyak-banyak nya tau, masa Kaka izin di situasi seperti itu." Keluh Irine.
"Tidak ada penolakan, aku tidak mau nanti Kaka pingsan karena kekurangan cairan." Timpal Candra dengan tegas melarang Kaka nya untuk bekerja besok.
"Ya ya, terserah kamu deh." ucap Irine mengalah.
__ADS_1
"hn, Kaka istirahat saja. Aku mau keluar dulu, oke."
"Kau mau ke mana?" tanya Irine cemas.
"Aku mau mengurus administrasi Kaka dan sekalian menemui teman Kaka, Dokter Indah." Jelas Candra.
"Hn, baiklah. Nanti kalo sudah selsai langsung kembali lagi yah?" pinta Irine.
"Iyah Ka, aku akan menginap di sini." Ujar Candra, mengelus Surai milik Kakanya. "Aku keluar dulu." Pamitnya.
Setelah kepergian adiknya, Irine menatap jendela kamar nya dengan gurat khawatir.
"Aku lemah sekali, padahal Kimtan sedang sibuk menangani proyek. Tugasku juga belum selesai, masa harus izin lagi." keluhnya, menyalahkan dirinya sendiri yang tidak kompeten dalam bekerja.
"Memang sebaiknya aku mengundurkan diri dari sisi Kimtan, jika seperti ini terus yang ada dia makan gaji buta. Akhhh..." pekiknya, merutuki kebodohan dirinya.
Irine meraih ponselnya dan langsung mencari kontak seseorang yang ingin Dia hubungi.
"Ketemu." pekiknya senang. "Harus ngomong apa yah?" gumamnya. Irine terus berpikir, apa yang akan dia ketik pada pesan itu. Dia tidak ingin terlihat tidak sopan dan seenaknya, jadi dia memikirkan bahasa yang cocok untuk di gunakan.
...****************...
Dokter Indah menatap Candra yang berada di sebelahnya, pemuda itu menunjukkan gurat khawatir di wajahnya.
"Aku sudah mengatakan hal ini pada mu Cand, kau tidak perlu khawatir. Tidak ada yang di tutupi Sola ini." Jawab Dokter Indah.
"Kau percaya padaku kan?" Tanya Dokter Indah tersenyum sambil mengusap Surai hitam milik Candra dengan lembut.
Candra menganggukkan kepalanya.
"Mau minum di Cafetaria Kantin?" Ajak Indah pada Candra. "Biarkan Irine Istirahat lebih dahulu." Serunya kembali.
"Baiklah, aku juga haus." Jawab Candra mengiyakan ajakan Dokter Indah.
Mereka pun memilih pergi ke kantin dan membiarkan Irine untuk beristirahat.
__ADS_1
...****************...
"Bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya Indah, sambil menyeruput minumannya.
"Lancar Ka." Jawab Candra tersenyum.
"Ya sudah, kau persen lagi makan yang lain nanti Kaka yang akan mentraktir mu." Ucap Dokter Indah.
Wajah Candra langsung sumringah mendengar jika akan di Traktir oleh Dokter Indah. "Wah, Ka Indah selain cantik baik hati juga." pujinya.
Indah terkekeh mendengar celetukan Candra. "Kau yah, dari dulu kalo ada mau nya selalu begitu hahaha."
Drt.. Drt..
"Eh?" Dokter merogoh saku jas Dokternya, mengambil benda pipih yang terus bergetar.
"Dokter Cleo." Gumam Dokter Indah saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Candra, tunggu sebentar. Kakak akan mengangkat telpon dulu." Ucap Dokter Indah meminta izin pada Candra.
Candra menganggukkan kepalanya tersenyum.
Dokter Indah agak menjauh dari kebisingan area Kantin.
'Halo Dokter.'
"Iyah Dokter Cleo, ada apa?" tanya Indah.
'Dokter, bisa bantu saya menangani pasien yang waktu itu lagi?' Tanya Dokter Cleo secara langsung.
"Pasien?" Dokter Indah sedikit berpikir, mengingat kembali pasien mana yang di maksud oleh Dokter Cleo. "Hmmm, apa Pasien yang koma itu Dokter?" Tebak Dokter Indah.
'Betul Dokter.'
"Sekarang Dokter berada di mana? Saya akan menyusul ke sana."
'Ruangan 345 ruangan Mawar.' jawab Dokter Cleo.
__ADS_1
"Saya akan segera ke sana, Dokter."
Dokter Indah mematikan sambungan telponnya dengan Dokter Cleo, dia bergegas menuju ruangan yang dikatakan oleh Dokter Cleo dan melupakan Candra yang seorang diri menunggunya.