Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 41


__ADS_3

Saat ini Dokter Indah dan Candra tengah duduk di ruangan Dokter Cleo, setelah peristiwa tak terduga yang terjadi beberapa saat yang lalu. Candra tak bisa tenang, jantung berdebar dua kali lipat. Entah apa yang akan dia ketahui dari masalah ini, jika benar dia kakak nya. Ibu nya pasti sangat bahagia bisa melihat Ka Lala yang selama ini menghilang.


Kriiiitttt.


Derit suara pintu membuyarkan lamunan keduanya dengan bersamaan mereka menolehkan kearah pintu yang terbuka.


"Maafkan saya karena membuat kalian menunggu lama. Tadi, tiba-tiba saja Putri sedikit kejang." Jelas Dokter Cleo.


"Kejang?" Tanya Candra terkejut hingga terbangun dari tempat duduknya.


"Tenang saja, dia sudah lebih baik sekarang." Jawab Dokter Cleo yang melihat Kekhawatiran di wajah Candra.


Candra kembali merasa lega mendengar jawaban Dokter, entah dia Ka Lala atau bukan tapi dia sangat terkejut dengan kondisi wanita tadi.


"Candra tenangkan dirimu." Bisik Dokter Indah menepuk bahu Candra dan menyuruhnya untuk duduk kembali dengan tenang.


"Dokter Cleo, tolong jelaskan pada Candra mengenai putri." pinta Dokter Indah, agar semuanya terjawab dan jika memang putri adalah Lala. Syukurlah, dia bisa bertemu dengan keluarganya lagi.


"Baiklah saya akan menceritakan awal mulanya saya merawat Putri." Gumam Dokter Cleo, mengingat kembali kenangan awal pertemuannya dengan Putri.


...Flashback On....


Ambulance itu melaju dengan cepat menuju rumah sakit, ada seorang wanita yang bersimbah darah tengah berbaring tak sadarkan diri. Saat ambulan itu telah sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Beberapa suster berlari ke arah mereka membawa tempat tidur dorong untuk pasien.


"Nona. Mohon tunggu diluar, kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu," ucap Suster itu melarang seorang wanita yang mengantar korban kecelakaan itu untuk masuk ke ruangan IGD.


Dokter Cleo yang baru saja dihubungi ada pasien kecelakaan langsung datang ke ruang IGD. Sebelum masuk ke ruangan itu, dia melihat seorang wanita uang terduduk menatap sayu kedua lengannya yang telah berlumuran dengan darah.


Setelah beberapa jam Dokter Cleo menangani pasien tersebut dia keluar sambil melepas masker yang bertengger di wajahnya. Dia melihat lagi wanita yang masih diam menunggu, kemudian Dokter Cleo menghampiri wanita itu.


"Nona?" Panggil Dokter Cleo pada wanita itu.


"Hah, yah Dokter." Jawab wanita itu sedikit gugup.

__ADS_1


"Apakah nona keluarga dari pasien?" tanya Dokter Cleo.


Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan Dokter, saya hanya tak sengaja melihat dia tertabrak dan membantu membawanya ke rumah sakit." Jawab wanita itu.


"Umh, baiklah. Apakah ada kartu Identitas dari Pasien?" tanya Dokter Cleo kembali.


"Tidak Dokter, saya tidak melihat ada barang milik korban."


"Eumh, baiklah. Untuk pasien kita harus melakukan pemeriksaan menyeluruh kembali, karena sepertinya ada beberapa cedera dibagian kepala pasien. Untuk itu kami memerlukan Rontgen dan CT-SCAN terlebih dahulu agar mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi pasien," jelas Dokter tersebut.


"Baik Dokter terimakasih. Tapi Dokter bagaimana dengan administrasi nya? Saya tidak bisa membantu nona itu membiayai rumah sakit." ucap wanita itu terlihat bingung.


Dokter Cleo ikut sedih. "Tidak apa Nona, Anda sudah membantu membawa pasien kemari pun itu sudah luar biasa. Untuk biaya dan lainnya saya akan mengurusnya, sebaiknya Anda membersihkan lengan Anda terlebih dahulu, Nona," Ucap Dokter Cleo, menatap lengan wanita itu yang masih berlumuran darah.


"Baiklah. Saya permisi dahulu, ada beberapa pasien yang menunggu saya," ujar Dokter Cleo berjalan pergi.


Flashback Off.


"Begitulah hari pertamaku bertemu dengan Putri dan saya lupa menanyakan siapa wanita yang menolongnya waktu itu. Karena setelah itu, aku tidak melihatnya lagi." ucap Dokter Cleo


"Kenapa Kamu yakin kalau itu Kaka mu bernama Lala?" Tanya Dokter Cleo kemudian, menatap Candra yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


"Wajahnya sangat mirip dengan Ka Lala, tepat 4 tahun yang lalu juga Ka Lala menghilang dari rumah dan tak kembali setelah itu." ucap Candra dengan suara lirih.


Dokter Cleo terkejut, apalagi Dokter Indah. Selama ini dia dekat dengan Irine dan Candra tapi dia baru mengetahui fakta tentang ini.


"Apa ada tanda lahir atau semacamnya agar kita memudahkan mengetahui itu Kaka mu atau bukan? Karena saat ini kondisi pasien tengah mengalami amnesia akibat dari komanya." Jelas Dokter Cleo.


Candra semakin terkejut mengetahui fakta selanjutnya, pantas saja Kakak nya tak mengenali dirinya.


"Untuk itu saya memberi namanya Putri pasca siuman nya." Jelas Dokter Cleo.


Candra kembali mengingat lagi, apa yang dimiliki Kakak nya supaya dia mengetahui itu Kaka Lala atau bukan. "Saya tidak tahu Dokter. Tapi.. saya akan menanyakan nya pada Ka Irine." Jawab Candra.

__ADS_1


"Baiklah, kau diskusikan terlebih dahulu dengan kakak mu yang lain. Nanti kita bicarakan kembali soal ini, karena ini juga baik untuk Putri memulihkan kondisinya di tengah-tengah keluarga nya."


...*********...


Irine tengah duduk dengan rasa kegugupannya, setelah tak sengaja bertemu dengan Kimtan saat dia hendak mencari keberadaan Candra dan Indah.


Diam. Itulah pertama kali reaksi Irene saat pandangannya menatap Presdir nya.


"Kenapa kau berada di sini?" tanya Irine dengan suara yang cukup pelan.


Pria yang dipanggil Presdir oleh semua orang itu, membalikkan tubuhnya saat mendengar suara lembut Irene. Bola mata hitamnya menatap dingin ke Irine, lengan kirinya Ia masukkan ke kantong celananya lalu melangkah lebih dekat ke arah Irene berada.


Kegugupan melanda gadis mungil itu, saat jaraknya hanya beberapa jengkal saja dengan pria itu.


"Entahlah mungkin takdir." jawab Kimtan secara asal.


Jawaban Kimtan membuat Irine tak puas, mana mungkin takdir semudah itu. "Sudahlah, katakan saja dengan jujur." Seru Irine mendongakkan kepalanya menatap kesal ke arah Kimtan.


"Baiklah." Jawab Kimtan dengan wajah cemberut. Pria itu mengambil duduk di sebelah Irine.


"Pagi tadi, Arka menghubungiku katanya mau sakit. Jadi aku coba cari di mana kamu di rawat, ternyata aku menemukan mu di sini." Jelas Kimtan. "Lagipula kenapa tidak menghubungi aku jika kau di bawa ke rumah sakit?" Tanya Kimtan lagi dengan wajahnya yang semakin ditekuk.


"Hn, maafkan aku. Lagipula ini bukan urusan mu, aku juga sudah meminta izin untuk tidak bekerja." Jawab Irine, kedua matanya melirik kesal Kimtan yang malah datang langsung marah padanya.


"Aku merindukanmu. Setiap detik, menit, jam dan setiap tarikan nafasku aku selalu merindukanmu." Bisik Kimtan lirih.


Irine menggelengkan kepalanya pelan, "Jangan seperti ini, aku tahu kau bersikap seperti ini karena aku mirip dengan seseorang'kan?" kata Irine tiba-tiba.


Deg. Kimtan terkejut dengan perkataan Irine. Mendapatkan pertanyaan tersebut, Kimtan juga menjadi bingung. Entahlah, dia sangat nyaman berada di sisi wanita di sebelahnya dan dia juga sangat resah ketika dia tak melihat kehadiran wanita ini di sisinya.


Melihat pria di sampingnya yang hanya diam saja, itu sudah cukup untuk Irine mengetahui jawaban yang dia inginkan. Dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum Irine berdiri dari duduknya. "Tuan, sepertinya aku harus kembali ke ruangan saya. Saya khawatir Indah dan adik saya mencari, jadi sebaiknya Anda kembali ke Kantor." ucap Irine dingin, kemudian pergi meninggalkan Kimtan yang masih terpaku di tempatnya.


"Arghhht, kau benar-benar bodoh Kimtan." gerutu Kimtan melihat gadis yang sudah lama membuatnya resah pergi meninggalkannya. "Akh, menyebalkan." geramnya.

__ADS_1


Meski begitu, Kimtan tak berniat untuk mengejar wanita itu karena dia tak ingin lebih memaksa di tambah kondisi wanita itu yang tengah sakit. Untuk itu, Kimtan membiarkan Irine pergi.


__ADS_2