Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 9


__ADS_3

Setelah melepaskan semua amarahnya, Irine segera kembali ke tempat kerjanya menghempaskan tubuh lelahnya. Sekilas memandang berkas yang telah susah payah dia buat.


"Cih." desisnya, "Benar-benar menyebalkan." Ujarnya, lalu melempar berkas yang tebal itu juga dengan asal di atas meja.


Kenapa juga pria itu mengerjainya seperti ini? Sebenarnya apa mau pria itu?


"Orang-orang itu sungguh menyebalkan, aku bahkan melewatkan makan siang ku," desah Irine, kedua matanya melirik jam yang sudah menunjukkan sudah pukul 2 siang.


"Padahal aku belum sarapan pagi tadi, sekarang aku juga belum makan siang," keluhnya sambil menatap nanar perutnya yang belum terisi oleh makanan.


"Irine," teriak Stefi yang tiba-tiba masuk ke ruangannya, membuat Irine menahan kesalnya karena dibuat terkejut.


"Kau kenapa gak angkat telpon Pak Bagas? Dia jadi gangguin aku terus nih," gerutu Stefi pada Irine, terlihat wajah Stefi yang kesal.


"Irine," Panggil wanita itu lagi, saat Irine tak juga meresponnya.


"Kata Pak Bagas kau itu disuruh ke ruangan Presdir tau, lihat dia nge-chatin aku terus marah-marah. Katanya Presdir marah nih," ucap Stefi sambil menunjukkan layar handphonenya yang memperlihatkan chatingan nya dengan Pak Bagas.


Irine melirik sebentar, awalnya dia merasa ragu dengan perkataan Stefi- lagian dia gak mau di kerjain lagi. Tapi, setelah melihat isi chat yang diperlihatkan Stefi pada nya ternyata benar saja,  si Pak Bagas itu marah-marah.


Irine seketika bangun dari duduknya. "Sialan. Kenapa dia gak menghubungi aku sih," gerutu Irine merasa kesal. "Aish menyebalkan! Apakah aku harus naik kelantai atas lagi?" Desahnya.


"Kau pasti membuat masalah, yah?" tanya Stefi memicingkan kedua matanya menatap Irine dengan raut wajah yang curiga.


"Ah entahlah," teriak Irine berlalu pergi.


"Dasar. Padahal aku ingin membantunya jika memang ada masalah, lagi pula dia juga bisa menemui Presdir tampan itu secara langsung gitu," ucap Stefi menepuk kedua pipinya yang memerah. "Akh, Presdir Kim memang tampan." ujarnya merasa gemas.


...****************...


Dua puluh menit Gadis itu berjuang menaiki tangga untuk sampai ke ruangan Presdir, Ia menormalkan kembali nafasnya yang terengah-engah. Memang hari ini adalah hari ketidak beruntungannya, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba tertulis di depan pintu lift jika lift tengah di perbaiki sehingga mau tak mau dia harus menaiki tangga darurat menuju lantai 4 di mana ruangan Presdirnya.


Sebelumnya, Ia mengatakan pada Sekertaris yang berada di luar ruangan bahwa dia ingin bertemu Presdir. Awalnya Sekertaris itu enggan memberinya masuk, tapi setelah dia mengatakan bahwa Presdir yang memintanya akhirnya dia di perbolehkan masuk.


Setelah dipersilahkan untuk masuk, Irine dengan hati-hati membuka pintu. Pintu pun terbuka, dia tak bisa tak tercengang melihat ruangan Presdirnya yang besar penuh dengan hiasan-hiasan yang menurutnya itu sangat mahal.

__ADS_1


Diam. Itulah reaksi pertama Irine saat kedua matanya melihat Presdir yang tengah berdiri membelakanginya. Punggungnya sangat indah, dilihat dari sudut belakang pun dia tetap terlihat tampan. Pantas saja Stefi tak henti-henti membicarakannya, dia kira sahabatnya terlalu berlebihan tapi kenyataannya memang dia pria yang memiliki tubuh indah.


Tersadar dari kekagumannya, Irine dengan langkah kaki pelan menghampiri meja Presdir. "Selamat siang, Pak Presdir," sapa Irine sambil membungkukkan tubuhnya.


Pria yang dipanggil Presdir oleh semua orang itu, membalikkan tubuhnya saat mendengar suara lembut Irine. Bola mata hitamnya menatap dingin ke arah Irine, lengan kirinya Ia masukkan ke kantong celananya lalu berjalan mengitari meja melangkah lebih dekat ke arah Irine yang terlihat gugup.


"Saya Kimtan, siapa namamu?" tanya pria itu.


Suara barintone itu menggema di ruangan yang kedap suara itu, terdengar sexy di pendengarannya. Bukan hanya tubuh dan wajahnya saja yang sempurna, tapi suaranya pun benar-benar sempurna. Pikir Irine.


Wanita itu mendongakkan kepalanya, kedua alisnya saling bertaut menatap bingung kearah pria di hadapannya. Apakah tak ada pertanyaan lain, selain nama? Kenapa pria itu berbicara santai dengan nya? Menyebalkan.


"U-ntuk apa Anda-


"Jawab saja!" Pria itu langsung menyela ucapan Irine dengan suara dinginnya.


Merasa kesal, Irine mengepalkan kedua lengannya meski begitu dia tak bisa marah.


"Irene," jawabnya dengan singkat, kedua matanya bergerilya tak berani menatap kedua mata pria di hadapannya yang berjarak hanya beberapa jengkal dari nya.


"Katakan yang jujur, siapa nama mu!" Titah Kimtan, terlihat tak sabaran.


Bukan hanya meneriaki Irine, Kimtan juga mencengkram kedua bahu Irine dengan kencang. Seketika tubuh Irine menjadi gemetar, wajahnya memerah menatap tak suka lawan bicaranya.


"Ada apa dengan Anda? Aku adalah Irine." Dia mencoba menepis-nepis lengan Kimtan yang mencengkram bahunya dengan kencang, berhasil. Irine bergerak memundurkan tubuhnya, kedua matanya masih menatap takut ke arah Kimtan.


Setelah dirasa pria itu tak akan berbuat hal lain, kaki nya berjalan menuju pintu yang ada di depannya mencoba untuk keluar dari ruangan. Namun, saat pintu itu telah terbuka sedikit hanya tinggal sedikit saja Ia bisa keluar. Tiba-tiba saja ada lengan kekar yang menghalanginya sehingga pintu itu tertutup kembali.


"Jangan pernah kau keluar dari ruangan ini, tanpa seizin dariku," desis Kimtan dingin.


Tubuhnya kembali bergidik saat mendengar suara yang amat dekat di telinganya, dia juga merasakan ada lengan yang memeluk pinggangnya. Mulutnya terbuka kemudian kembali tertutup, Irine tak bisa mengerti situasi ini. Sebenernya apa yang terjadi, apakah pria ini termasuk psikopat? atau orang-orang mesum? Akh otak nya membeku, dia tak bisa berpikir jernih.


"Aku merindukanmu. Setiap detik, menit, jam dan setiap tarikan nafasku aku selalu merindukanmu. Mencari keberadaan dirimu, berharap aku bisa menemukanmu," gumam Kimtan lirih sambil mengecup leher jenjang Irine yang terekspos.


Irine menggelengkan kepalanya pelan, tak mengerti dengan apa yang di bicarakan pria ini.

__ADS_1


"Aku mohon lepaskan aku, aku tidak mengenalmu." sanggah Irine.


"Heh. Apakah ini penyambutan darimu, aku sudah lama mencarimu. Sangat lama sekali, aku menantimu hadir kembali,"  terdengar dari suaranya, pria ini tak menyukai respon yang diberikan Irine yang mengatakan bahwa wanita ini tak mengenal dirinya.


Tak ingin terbawa dengan suasana, Irine mencoba memberontak. "Maaf Presdir, tapi aku bukan orang yang Anda maksud."


Dingin. Irine membalikkan tubuhnya menghadap Kimtan, perlahan pria itu melonggarkan pelukannya. Mata keduanya saling bertatapan, berkelana dengan pikiran masing-masing.


Irine menatap kedua bola mata pria itu dengan sayu, dia tak tahu bagaimana menyakinkan orang ini bahwa dia bukanlah orang yang di maksud.


"Tolong biarkan aku pergi dari-


Cup~


Kata-katanya terhenti begitu saja, saat Kimtan malah mencium pipinya pelan. Irine membeku, ini pertama kalinya ada seorang pria yang tak dia kenal berani menciumnya.


Sedang, Kimtan tak memperdulikan reaksi terkejut Irine. Dia mengusap kedua pipi Irine, lalu Ia hendak mendekatkan kembali wajahnya. Namun...


PLAK!


Jemari kecil itu dengan kencang mendarat sempurna di pipi kanan Kimtan.


"Brengsek!" Desis Irine, menatap nyalang kearah pria dihadapannya. Terdengar deru nafasnya yang memburu, menahan amarah yang siap meledak. Air mata itu lolos begitu saja dari tempatnya, mengalir membasahi kedua pipi putihnya.


"Dasar Pria Mesum, Psikopat, Cabul." Kata-kata tak pantas yang sejak tadi bersarang di kepalanya langsung keluar begitu saja dari bibir Irine, Ia tak memperdulikan lagi dengan posisinya sebagai bawahan dari orang di depannya.


Melihat Kimtan yang hanya diam saja, tanpa menunggu lagi Ia segera menarik kenop pintu dan keluar meninggalkan Kimtan yang masih mematung di tempatnya.


"Sial," Kimtan memegang pipinya yang memanas setelah di tampar Irine, boleh saja tubuhnya kecil tapi tamparannya benar-benar sangat kencang.


Kimtan berbalik melangkah ke arah mejanya, kemudian lengannya mencengkram masing-masing sisi meja dengan emosi yang membuncah dalam hatinya. Sedetik kemudian, suara pecahan itu kembali menggema di ruangannya.


Prank.!


Semua yang berada di meja itu jatuh berserakan dilantai. Kenapa wanita itu menghindarinya, kenapa dia tak mengenali dirinya? Batin Kimtan merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2