Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
38


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, Kimtan memukul stir mobilnya dengan kencang ketika berkali-kali panggilannya diabaikan oleh Irine. "Brengsek, sialan." Umpat Kimtan merasa kesal dengan situasi yang tengah dia alami saat ini.


"Kenapa kau membuatku seperti ini?" Lirihnya. "Padahal aku baru saja membuka hatiku padanya, Tuhan. Aku pikir aku bisa menjalin hubungan dengan serius bersamanya. Tapi, nyatanya cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Kenyataan yang benar-benar pahit yang tak bisa dirinya terima, Irine jelas terlihat menyukainya tapi dengan anehnya wanita itu selalu menolak mentah-mentah dirinya.


...************...


Keesokan paginya, Irine terbangun.


"Akh." Erang Irine. Dia merentangkan kedua tangannya ke atas, rasa-rasanya seluruh tubuhnya terasa sakit. "Jam berapa sekarang?" Irine menolehkan wajahnya ke arah meja lampu di samping tempat tidurnya. "Astaga!" Irine sungguh dibuat terkejut setelah menengok kearah Jam yang sudah menunjukkan pukul 10:00 WIB.


"Aku kesiangan, padahal harus menjemput Kaka di rumah sakit." gumam Irine langsung bergegas turun dari tempat tidurnya.


Wanita itu tanpa berpikir lagi langsung masuk ke kamar mandi hanya sekedar untuk membilas tubuhnya dan menggosok gigi tentunya.


Beberapa menit kemudian Irine telah rapi dengan bajunya, kini dia tengah menoleh wajahnya dengan sedikit riasan guna menutupi mata panda dan bibirnya yang pucat.


"Uekh, sakit sekali." Ringis Irine memegangi lehernya. Lengan kanannya mengambil ponsel yang tak jauh darinya, menyalakan tombol aktif itu dan melihat jam yang tertera di sana ternyata sudah pukul 11:00 WIB. Padahal, jadwal menjemput Kaka nya jam 09:00 pagi tadi seharusnya.

__ADS_1


"Apa Candra sudah berada di rumah sakit?" gumamnya sambil menatap layar ponselnya.


"Ah Hallo Dek." seru Irine saat panggilan telponnya tersambung. "Kau di mana?"


'Aku di rumah sakit. Kaka di mana saja? Aku sudah menunggu lama di rumah sakit, kemarin Kaka bilang akan menjemput Ka lala tapi kenapa belum datang? Kakak baik-baik saja kan?'


Irine meringis. Dari nada suara nya, sepertinya sang adik mencemaskan dirinya.


"Maafkan Kaka yah, Kaka kesiangan. Ini baru mau berangkat ke rumah sakit."


'Ah begitu, syukurlah jika memang karena kesiangan. Candra pikir Kakak kenapa-kenapa saja. Baiklah, hati-hati Kakak di jalannya. Aku akan nunggu bareng Ka Lala.'


Irine memutusakan sambungan telpon dengan Candra, dia sedikit bernafas lega karena Candra sedang di rumah sakit. Dia khawatir Ka lala cemas menunggunya yang tak kunjung datang menjemput.


Irine mengambil tas selempang nya setelah memasukkan beberapa keperluan penting ke dalam tas nya. "Baiklah, semangat Irine." ucapnya memberikan semangat pada dirinya sendiri, kemudian langsung pergi untuk mencari angkutan umum menuju ke rumah sakit.


...*********...

__ADS_1


Irine tak berpikir bahwa sahabatnya ini akan menjemputnya. Tapi yah setidaknya dia bisa menghemat uangnya karena tak jadi naik angkutan umum.


"Memangnya sedang tidak ada pasien?" Tanya Irine melirik Dokter Indah yang tengah menyetir mobil dengan kecepatan standar.


Dokter menoleh sebentar ke arah Irine, kemudian kembali fokus dengan jalannya. "Kebetulan kosong. Jadi aku berpikir untuk menjemput dirimu. Hah.. dan benar saja, kau masih diam di halte menunggu Bus." gerutu Dokter Indah pada Irine. "Setidaknya beli mobil untuk kebutuhan mu." bisik Dokter Indah.


"Hm, akan aku pikirkan." Jawab Irine membuang wajahnya ke arah jendela.


Irine sengaja membuka kaca mobil di sampingnya, menurutnya angin seperti ini benar-benar menyejukkan dibandingkan Ace mobil. Saat ini suhu kota Jakarta memasuki 23° C, terlihat langit yang cerah, biru tanpa awan.


Di Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Dokter Indah selalu berceletoh tanpa bosan-bosannya. Begitu pula aku yang terus menatap wajahnya yang tak pernah sedikitpun berpaling darinya- Irine sangat bersyukur memiliki Dokter Indah dalam hidupnya.


Aku merasa sedikit panik saat


mata Indah yang seperti rubah itu menatapku balik. "Irine," panggil Indah menggenggam kedua jemari Irine lembut-untuk terakhir kali dari ribuan kali sahabatnya ini mengatakannya- "Kau tidak perlu cemas, penantianmu selama ini telah terbayarkan." Seru Indah tersenyum manis.


"Aku senang." Irine berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. "Kakak ku bisa kembali ke keluarga kami." Seru Irine tersenyum, namun terlihat sendu.

__ADS_1


Tak terasa, kami telah sampai di depan rumah sakit. Indah menyuruhku untuk turun terlebih dahulu, meski awalnya aku menolak Ia tetap memaksanya. "Kau yakin, aku bisa menemanimu memarkirkan mobil." Tawar Irine. Tapi tetap Indah kekeh menolaknya dengan dirinya menunggu di lobi rumah sakit.


__ADS_2