
"Ka Irine."
Irine menghentikan langkahnya, menolehkan wajahnya ke arah suara yang Ia yakini itu suara adiknya. Irine memandang kesal kearah Candra, mengabaikan adiknya begitu saja dia langsung membuka pintu kamar inap nya dan masuk meninggalkan Candra yang masih menatapnya bingung.
"Ka Indah, Kakaku kenapa yah? dia terlihat kesal sampai mengabaikan aku." tanya Candra pada Dokter Indah.
"Entahlah. Sebaiknya kita temui Kakakmu." ucap Dokter Indah kemudian masuk ke Kamar Inap Irine.
"Aduh Irine yang cantik super jelita ini, aku kan sudah menyuruhmu menunggu di kamar saja. Kenapa kau keluar jalan-jalan begitu." Omel Indah. Dokter Cantik itu langsung memarahi sahabatnya dari dia membuka pintu kamar Irine, membuat Irine memutar modal matanya kesal.
"Lagian kalian dari mana saja? Sejak tadi aku mencari kalian." sungut Irine,
"Iyah sorry-sorry, aku tadi sama adik mu tak sengaja bertemu dengan Dokter Cleo terus kita ngobrol-ngobrol di situ." Ucap Dokter Indah menjelaskan situasinya tadi.
"Huh."
"Sudahlah Ka, jangan marah lagi." Timpal Candra menghampiri Kaka nya, kedua lengannya mengusap pundak Kakak nya lembut.
"Irine, tadi kita juga bertemu seseorang. Kau juga harus melihatnya untuk memastikan." ucap Indah memberitahu Irine soal tadi.
"Siapa?" Tanya Irine dengan ekspresi wajah bingung.
"Sudah. Ikut saja, kau pasti akan menyukainya. Aku jamin itu, karena ini yang kau tunggu-tunggu." Ucap Dokter Indah mengembangkan senyumnya.
Irine hanya membeo, kemudian Ia tolehkan wajahnya ke arah sang Adik dan sama saja Adiknya juga tersenyum padanya.
Dia semakin dibuat bingung. Apa mereka bertemu dengan Kimtan?
Irine mengikuti langkah Indah dengan pelan, adiknya berada di belakang nya. Ia tak tahu Indah akan membawanya ke mana karena mereka berdua sama sekali tidak mau memberikan Ia penjelasan ataupun petunjuk sedikitpun. Membuat dirinya semakin penasaran, kira-kira apa yang akan membuatnya terkejut kali ini.
...********...
"Hey, ada apa denganmu?" Tanya Arka yang terlihat khawatir melihat Tuan sekaligus sahabatnya, yang tengah melamun dengan raut wajah masamnya. Entah kenapa, Kimtan setelah dari rumah sakit yang dia lakukan hanya diam.
"Kimtan, ayolah jangan seperti itu. Ceritakan padaku!" pinta Arka pada Kimtan.
Kimtan mendongakkan kepalanya tersenyum sendu ke arah laki-laki bernama Arka. "Aku bertemu....." Kimtan menjeda kata-katanya membuat Arka semakin penasaran.
"Bertemu siapa? cepat Katakan yang jelas." Ucap Arka dengan kesalnya.
__ADS_1
"Irine." jawab Kimtan dengan suara pelan.
Nona Irine, kok bisa?
"Kau menyuruhku ke rumah sakit karena Irine di rawat di sana kan?" tanya Kimtan menatap Arka.
Dirawat?
Arka menunjukkan wajah kebingungan, meski begitu dia terpaksa menganggukkan kepalanya. "Hehehe Iyah." ucap Arka terpaksa tertawa. "Lalu?" Tanya Arka lagi.
"Dia tak mau bertemu denganku, dia selalu bersikeras menolak dan mengatakan jika aku tidak tulus dan serius padanya. Padahal jelas-jelas perasaanku serius padanya." ucap Kimtan sendu.
"Jangan terlalu berpikir keras, kau akan cepat tua nanti." Celetuk Arka pada Kimtan. "Biarkan saja Nona Irine, mungkin dia perlu menjernihkan kepalanya. Kau kan selama ini menganggap jika Nona Irine adalah wanita mu yang dulu itu." ucap Arka.
Kimtan menggelengkan kepalanya pelan, "Aku jelas merindukannya selama ini." Timpal Kimtan dengan nada suara yang yakin.
"Sudahlah, sebaiknya kau fokus untuk tender proyek pembangunan yang kau janjikan dengan Ayah mu itu." Ucap Arka mengingatkan Kimtan, "Kau tak ingin dijodohkan bukan? sebaiknya kau fokus di tender terlebih dahulu, untuk Nona Irine dia memang tengah sakit jadi biarkan dia istirahat dan aku yang akan menggantikan nya untuk sementara ini." Bujuk Arka.
"hm," jawab Kimtan pada akhirnya. Pria itu hampir melupakan mengenai proyek ini. Tapi syukurlah Arka mengingatkan nya lagi.
Kimtan menyandarkan tubuhnya di sofa panjang itu sambil merentangkan kedua lengannya, "Arka, apa kau meragukan perasaan ku juga pada Irine?" Kimtan kembali menanyakan perihal Irine.
Arka hanya menghela nafasnya kasar, kenapa Tuannya suka berubah-ubah pikiran. Akhirnya Arka hanya diam mendengarkan curahan hati seorang Kimtan.
"Jujur saja, jika aku menjadi nona Irine mungkin aku juga akan berpikir sama dengan Nona Irine." jawab Arka dengan tegas, membuat Kimtan berang dan hampir saja melempar bantal pada Arka.
"Aishh, tak ada solusi sama sekali. sudahlah sana kembali bekerja, aku ingin sendiri." Ucap Kimtan menyuruh Arka untuk pergi.
"Baik Tuan." jawab Arka dengan senyum mengembang di wajahnya, pria itu senang karena dengan di izinkan pergi itu artinya dia tak perlu mendengarkan keluhan Tuannya lagi soal percintaannya.
...************...
Setelah berjalan cukup jauh dari ruangannya, akhirnya mereka sampai pada tempat tujuan. Irine di sini terkejut, kenapa mereka berdua mengajaknya ke kamar pasien lain. Bukankah mereka akan menemui seseorang, tapi kenapa di sini? Itulah hal pertama yang ada dipikiran Irine.
Irine menatap pintu bercat putih dengan nomor ruangan 345, kedua matanya menatap ke arah Indah meminta penjelasan.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" Tanya Irine penuh dengan rasa penasarannya.
"Sudah, kau pasti akan tau setelah ini." Jawab Indah tersenyum manis ke arah Irene.
__ADS_1
Tok.Tok.Tok
Dokter Indah mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan, hingga seseorang laki-laki yang tak Irine kenal suaranya menyahut dari dalam dan menyuruh mereka masuk.
Ceklek.
Pintu itu terbuka secara perlahan. Seperti biasa, aroma obat langsung tercium di Indra penciumannya. Matanya menelisik, tak ada yang berbeda dari setiap ruangan. Lalu apa yang membuat Indah dan adiknya mengatakan bahwa ada kejutan untuknya.
Irine lihat hanya seorang pasien yang masih terbaring dengan alat-alat penopang hidupnya dan juga ada dokter pria yang duduk tersenyum ke arahnya.
"Ayo Irine, masuk." Ajak Dokter Indah.
"Dokter Cleo, kenalkan ini Irine." ucap Dokter Indah memperkenalkan Irine pada Dokter Cleo.
"Halo, saya Cleo. Senang berkenalan dengan mu nona Irine." ucap Dokter Cleo tersenyum ramah.
Irine dengan ragu menjabat tangan Dokter Cleo. "Salam kenal." ucapnya. Kemudian kedua matanya menatap adik dan sahabat nya. "Apa kalian membawaku untuk berkenalan dengan Dokter Cleo?" tanya Irine penasaran.
"Tentu tidak Ka, aku ingin Kakak memastikan sesuatu." Timpal Candra mendekat ke arah pasien yang tengah berbaring itu.
"Ka Irine, aku tidak tahu bagaimana Ka Lala. Tapi kau jelas tahu dengan jelas pastinya mengenai ka Lala. Jadi aku membawamu ke mari." ucap Candra.
" Ka La...la?" gumam Irine bingung. "tapi kenapa kau bertanya soal Ka Lala, Can?"
"Benar Irine, pasien yang selama ini dirawat oleh Dokter Cleo menurut Candra adalah Lala." ucap Dokter Indah ikut menimpali.
Irine dengan tubuh gemetar, menolehkan wajahnya menatap pasien yang tengah berbaring di tempat tidur. Kaki nya tanpa sadar melangkah mendekat sedikit demi sedikit ke arah pasien yang tengah tertidur itu, lebih dekat semakin dekat wajah itu dengan sempurna Irine lihat dengan jarak dekat.
"Hah?" Irine menutup mulutnya, tak bisa berkata apa-apa. Air matanya luruh, membasahi kedua pipinya. Keajaiban apa ini? Apakah ini nyata, saudaranya kembali?
Tungkainya menjadi lemas, Ia tak bisa merasakan apa-apa. Membuatnya seketika oleng jika saja tak langsung ditangkap oleh Dokter Cleo.
Nona Irine....
Irine...
Ka Irine...
Teriak mereka bersamaan saat tubuh Irine tiba-tiba saja oleng, untung saja Dokter Cleo dengan sigap menopang tubuh wanita kecil itu.
__ADS_1
"Cand, dia.. dia ka Lala Can .." Bisik Irine dengan suara yang gemetar.
"B-benarkah? Aku sudah tahu dari awal, tapi aku tidak terlalu yakin. Ternyata benar dia ka Lala, Kaka yang telah lama menghilang." Seru Candra menatap wanita yang masih memejamkan matanya di tempat tidur.